Skip to content

Jasa Besar Si Orang Kecil

by pada 9 Mei 2013

Oleh Annisa Daulay

Salah seorang penyapu di kampus UI yang masih berusia muda (dindunz.wordpress.com)

Salah seorang penyapu di kampus UI yang masih berusia muda (dindunz.wordpress.com)

Sebagian besar wilayah kampus UI bisa dikatakan area hijau berwujud hutan kota. Di lokasi seluas kurang lebih 320 hektar inilah banyak orang mengais rezeki mereka, salah satu di antaranya adalah para tukang sapu. 

Siapa yang tidak kenal dengan Universitas Indonesia (UI)? Kampus yang dinobatkan sebagai universitas terbaik di negeri ini tidak hanya terkenal dengan prestasinya yang gemilang di kancah nasional maupun internasional, namun juga terkenal dengan julukan Green Campus.”.

Suatu pagi kutelusuri jalan sepanjang hutan kota UI, hingga berhenti di depan Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Kulihat dua orang ibu berperawakan agak tua tengah bersenda gurau. Tak luput juga dari penglihatanku sapu mereka yang mondar-mandir menyeret dedaunan yang berserakan di tanah, hingga akhirnya terkumpul menjadi tumpukan yang lumayan besar.

Mereka mengenakan seragam berwarna oranye yang lusuh dan agak kotor, dengan topi rotan besar yang cukup lebar untuk melindungi wajah mereka dari pancaran sinar matahari pagi saat itu. Tak lupa –agar topi tetap berada pada posisi yang diinginkan– mereka mengikat topinya dengan sehelai kain yang tak kalah lusuh dari pakaian mereka.

Salah satunya bernama ibu Aas. Di usianya yang kini menginjak 40 tahun, ia berusaha mencukupi kebutuhan keluarganya dengan bekerja sebagai tukang sapu. Dengan sedikit malu ia menceritakan, menjadi tukang sapu ia lakukan untuk membantu suaminya yang berprofesi hanya sebagai pedagang kecil.

Kurang lebih selama sembilan tahun, sejak Senin sampai Jumat ibu Aas menumpang kereta ekonomi dari rumahnya di daerah Citayam, Bogor. Sesampai di UI, ia langsung menjalani pekerjaannyasebagai tukang sapu, Peluh yang bersimbah deras seharian ini, dihargai hanya dengan upah dua puluh ribu rupiah.

Berjalan tak terlalu jauh dari Fakultas Hukum –tempatku menemukan bu Aas– di depan gedung Balairung, aku bertemu dengan tukang sapu lainnya yang ternyata berusia sangat muda. Perawakan tubuhnya yang kecil juga dibalut seragam oranye yang kotor, lengkap dengan sapu bertiang kayu yang hampir setara tinggi dengan tubuhnya. Bertelanjang kaki yang kotor, anak ini membersihkan rumput yang baru saja di pangkas dan dedaunan kering yang berserakan di tanah.Tak beda nasibnya dengan ibu Aas,

Arul yang masih berusia 17 tahun mengaku bekerja sejak januari 2011. Menjadi seorang tukang sapu, apalagi di saat usianya yang belia, mungkin tak pernah terbayangkan. Siapa yang menyangka di balik tubuh kecil dan kurus itu, ia harus membantu mencari nafkah untuk biaya hidup keluarganya. Ayahnya seorang buruh dan ibunya hanyalah ibu rumah tangga biasa, sehingga tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah Arul.

Sama halnya dengan penyapu lainnya, Arul bekerja dari pagi hingga sore hari. “Namanya juga kerja, dibawa senang saja. Enaknya, sih, kalau lagi istirahat. Kumpul dan makan sambil ngobrol bareng teman-teman” sahut Arul saat ditanya suka duka menjadi tukang sapu.

Tukang sapu di kampus UI tak bisa dipastikan jumlahnya, namun pasti sangat banyak. Biasanya laki-laki yang dominan, namun tidak sedikit pula perempuan. Bahkan, ada pula anak-anak dan remaja. Mereka bekerja lima hari dalam sepekan delapan jam sehari, dengan istirahat selama satu jam.

Bu Aas dan Arul merupakan contoh pekerja keras yang tak kenal lelah. Mereka tetap bertahan dengan pekerjaannya, kendati kerja keras yang mereka lakukan tak sebanding dengan upah yang diterimanya. Di kampus besar seperti ini, ternyata tak luput dari jasa orang kecil yang kurang diperhatikan.

Melihat kegigihan mereka, keadaan kita sekarang ini seharusnya dapat lebih disyukuri. Di saat kita menikmati kehidupan dengan pendidikan yang cukup, di luar sana masih banyak orang yang berjuang demi keberlangsungan hidup mereka dan keluarganya. 

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: