Skip to content

Cerpen: Antara Aku, Dia dan Mereka (1)

by pada 11 Mei 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen, yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

cerpen AnggiOleh Anggi Cornelia

Pagi yang cerah. Kicauan burung dan teriknya mentari, membuka hari ini dengan sempurna. Seorang gadis di depanku, tampaknya tidak menikmati hari yang indah ini. Dia terlihat sangat terpukul. Sangat sedih. Itu yang aku lihat.

Aku mencoba menanyakannya. Penasaran akan apa yang ada di pikirannya. Tentang pagi dan tentang hidupnya.

“Kenapa, Diah?”

“Tidak mengapa.”

“Kau berbohong. Kau tidak tampak biasa-biasa saja. Pasti ada sesuatu yang terjadi dengamu.”

 “Tidak. Kau terlalu sok tahu.”

 “Aku tidak sok tahu. Tapi, aku memang tahu. Ada yang beda hari ini dengan dirimu. Tidak seperti biasanya.”

 Dia terdiam.

 Aku mengenal gadis ini. Sangat mengenalnya.

 *******

 Dia adalah gadis yang sangat ceria. Penuh semangat dan optimis. Dia tidak pernah seperti ini. Terlihat sangat hancur. Bagai kaca indah yang selalu menarik perhatian orang dengan kilau cahayanya, kini tiba-tiba pecah berkeping-keping. Rapuh.

Namanya Sadiah Raden Ayu Kusumawati. Aku memanggilnya Diah. Seorang gadis yang sangat beruntung. Memiliki orangtua yang sangat kaya. Bahkan, orangtuanya merupakan orang terkaya ketiga di Indonesia. Ayahnya seorang pemilik perusahaan besar yang sangat berpengaruh di negara ini. Sedangkan ibunya adalah pemilik sebuah bank swasta terbesar, yang sudah melebarkan sayapnya hingga ke beberapa negara di Asean.

Orangtua Diah bukan lah tipe kebanyakan, yang karena sibuk dengan pekerjaannya menjadi lupa dengan anaknya. Mereka berbeda. Mereka selalu menyempatkan diri untuk pulang dan menghabiskan waktu bersama Diah. Entah berjalan-jalan, makan malam di restoran, bermain di ruang keluarga, sampai bercanda dengan akrab sambil menonton televisi. Sempurna. Bisa aku bayangkan, Diah pasti sangat senang. Oleh karena itu, dia tidak pernah terlihat rapuh. Sangat sedih melihatnya seperti ini.

Matanya tidak memancarkan keceriaan lagi. Bibirnya tidak memberikan tawa bahagia di wajahnya. Dan tubuhnya tidak mengobarkan api semangat seperti dulu.

Dia berubah. Sangat berubah.

“Aku kecewa.” katanya tiba-tiba.

“Mengapa?”

“Aku sedih.”

“Aku tahu itu. Aku bisa melihatnya di matamu.”

“Aku terluka.”

“Aku pun tahu itu.”

“Aku sakit. Tersakiti. Hancur.”

“Aku tahu. Aku tahu semua. Tapi mengapa?”

“Kau tidak tahu! Kau tidak akan pernah tahu!”

“Aku memang tidak tahu, mengapa kau bisa seperti ini. Tapi, aku tahu kau kecewa, sedih, terluka, sakit dan hancur.”

“Tidak, kau berbohong! Tidak ada yang pernah tahu, sehancur apa aku sekarang. Bukan cuma kau. Bahkan, orangtuaku pun tidak tahu kehacuranku sekarang! Aku benci kau, aku benci semua orang dan aku benci orangtuaku!”

“Tapi mengapa?”

Dia kembali terdiam.

*******

Tiba-tiba, dia mengambil sebatang rokok di depanku. Dibakar lalu dihisap olehnya. Aku terkejut! Setahu aku, dia tidak merokok. Tidak pernah aku melihatnya menyentuh racun dalam batangan yang dibungkus rapi itu. Bahkan, jauh sebelum kejadian hari ini, dia mengatakan padaku bahwa rokok merupakan barang haram yang tidak akan pernah ingin disentuh olehnya. Ya, dia mengatakan itu. Aku masih mengingatnya dengan jelas.

“Hei, tahu tidak ini apa? Ini disebut rokok. Kalau kata orang, itu bisa sebagai obat penenang, penghangat, bahkan bisa untuk bergaya. Seperti anak muda labil jaman sekarang. Yang sudah tahu bahaya rokok, tapi tetap menghisapnya hanya untuk membuat dia terlihat lebih keren.”

“Lalu, untuk apa kau membawanya sekarang? Apa kau juga ingin menjadi seperti anak muda labil itu?”

“Hahaha, tenang saja. Aku tidak akan pernah mencoba barang ini. Aku membawanya agar kau mengerti juga, sehingga nanti kau tidak mencobanya. Ingat, kau juga sudah tua. Tidak bagus untuk kesehatanmu.”

“Oh, baiklah, aku paham.”

Itu dulu. Namun sekarang. Dia tidak hanya menyentuh barang itu, tetapi malah menggunakannya. Membakar, lalu menghisapnya. Satu batang habis. Terus, dia pun melanjutkan ke batang yang kedua. Tak berhenti. Sekarang, mulai membakar batang yang kelima.

“Cukup!” sergahku.

“Apanya yang cukup?”

“Cukup. Hentikan perbuatanmu sekarang.”

“Apa? Apa yang harus aku hentikan?”

“Rokok!”

“Oh, hahahahaha…” Dia tertawa hambar.

“Ada apa sebenarnya dengan dirimu? Kau benar-benar berubah. Aku tidak mengenalmu seperti Diah yang dulu aku kenal.”

“Tenang saja. Aku sekadar ingin membuktikan kata orang tentang rokok, yang katanya dapat menghilangkan stres.”

“Tapi tidak sampai lima batang, Diah!”

“Hei, kau tenang saja!”

Kini, aku yang terdiam.

Aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku hanya bisa melihatnya menghisap rokok, yang tanpa istirahat berlanjut terus ke batang-batang selanjutnya. (Bersambung)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: