Skip to content

Cerpen: Antara Aku, Dia dan Mereka (2)

by pada 12 Mei 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari cerpen, yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(www.motivasikeren.com)

(www.motivasikeren.com)

Oleh Anggi Cornelia

Aku benar-benar bingung. Aku tidak mengenal dia lagi. Aku takut. Aku tidak ingin melihatnya semakin hancur. Sejujurnya, aku tidak ingin melihatnya seperti ini. Gambaran kehancuran makin terlihat jelas di matanya.

Aku tidak bisa membayangkan kekecewaan orangtuanya, jika tahu dia seperti sekarang. Pasti mereka akan sangat terpukul. Padahal, selama ini, mereka sudah mencoba memberi yang terbaik untuk Diah. Mulai dari kecil sampai dia dewasa sekarang.

Ya, dia memang sudah dewasa. Umurnya bukan 17 tahun. Bukan remaja lagi. Kini dia beumur 25 tahun. Umur, yang nenurutku, cukup dewasa untuk bisa menjalani hidup. Bisa memilahyang baik dan buruk. Terutama, sudah mampu mengontrol emosi. Itu yang aku ingin dia miliki.

Tapi kenyataannya, aku tidak melihat sikap itu sama sekali pada dirinya. Yang aku lihat bukan lah sikap gadis dewasa. Namun sikap remaja labil, yang masih butuh untuk dituntun. Butuh penunjuk arah. Masih perlu kompas hidup.

*******

“Kau berbohong,” katanya memecah keheningan.

“Berbohong?”

“Ya, kau berbohong.”

“Aku? Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Kau bohong! Kau bohong tentang semuanya. Kau pura-pura tidak mengetahui yang sebenarnya terjadi.”

“Apa maksudmu? Aku tidak menyembunyikan apa pun darimu.”

“Tidak, kau bohong.”

“Sudah cukup! Aku makin tidak mengerti maksudmu.”

“Kau pasti tahu. Kau tidak mungkin tidak tahu, kan!”

“Apa? Apa yang tidak mungkin aku tidak tahu? Katakan padaku.”

“Katamu, kau tahu aku sedih.”

“Ya, aku tahu itu.”

“Katamu, kau tahu aku hancur dan rapuh.”

“Ya, aku memang tahu itu.”

“Lihat, kau bisa tahu semua itu. Kenapa?”

“Karena aku mengenalmu.”

“Bukan! Kau berbohong lagi.”

“Apa maksudmu?”

“Kau pasti tahu, mereka bukan orangtua kandungku, kan!”

“A..a..a..ku tidak tahu. Aku benar-benar tidak tahu hal itu.”

“Kau bohong!”

“Sungguh! Aku tidak berbohong.”

“Aku ingin bertanya padamu.”

“Apa?”

“Siapa kau sebenarnya? Berapa umurmu? Mengapa kau bisa merasakan kesedihanku, padahal orangtuaku tidak.”

“Seperti yang kau tahu. Aku hanyalah orang bayaran yang ditugaskan orangtuamu untuk menemanimu. Menjadi temanmu selama mereka kerja. Setelah mereka pulang, barulah aku juga kembali ke rumahku. Umur? Umurku 41. Aku sudah cukup lama bersamamu. Mungkin sekitar 5 tahun. Jadi tidak heran, apabila aku bisa merasakan kesedihanmu, Diah.”

 “Bohong! Aku sudah tahu yang sebenarnya. Tolong jangan bohongi aku lagi, Ibu!”

“A..a..a..pa kau bilang? Ibu?”

*******

“Ya, Ibu! Aku tahu semuanya. Aku tahu, kau Ibu kandungku. Aku tahu juga, mereka bukan orangtua kandungku. Kemarin, tanpa sengaja aku menjatuhkan dokumen Ayah di ruang kerjanya. Saat itu, aku sedang mencari laporan kegiatan yang Ayah suruh aku mengerjakannya. Namun, ketika aku mencarinya, sebuah dokumen usang tanpa sengaja terjatuh. Aku mengambilnya, dengan maksud mengembalikannya ke meja Ayah lagi.”

“Tahu kah kau, apa yang aku lihat? Namaku tertera di dokumen itu, dengan jumlah rupiah yang sangat besar tertulis rapi.  Kau tahu apa? Saat aku buka dan membaca isi dokumennya, ternyata sebuah surat perjanjian. Isinya, pasti kau sudah mengetahuinya. Karena pada surat itu, tandatangan Ayah dan kau bertengger menghiasi surat sebagai pernyataan keabsahan isinya.”

“Maafkan aku.”

“Tapi, mengapa? Mengapa kau tega menjualku kepada mereka? Apa maksudmu?”

“Aku tidak bermaksud seperti itu.”

Dia terdiam, menangis.

Aku memang jahat. Dia benar, aku Ibunya. Tapi, aku tidak pantas menjadi seorang ibu. Aku menjualnya. Aku terpaksa menjualnya. Aku tidak punya uang saat itu. Dia juga merupakan anak yang terlahir dari hubungan gelapku, dengan seorang pria tidak bertanggungjawab. Aku terpaksa. Aku tidak mungkin bisa menghidupinya. Sedangkan aku saat itu, masih berumur 16 tahun.

“Maaf, aku terpaksa menjualmu. Aku menjualmu, bukan karena tidak menginginkanmu. Tapi aku tidak bisa menghidupimu. Aku masih sangat muda saat itu.”

“Tapi, megapa kau datang lagi? Berpura-pura sebagai orang bayaran, yang menemaniku setiap saat.”

“Itu perjanjian di antara kami. Saat kau berumur 20 tahun, aku boleh bertemu denganmu. Aku boleh menjagamu. Aku boleh membelaimu dengan kasih sayang, yang selama 20 tahun telah aku pendam dalam-dalam. Bukan sebagai Ibu, tetapi sebagai orang bayaran mereka.”

“Aku kecewa. Hatiku sakit. Hancur.”

“Maafkan aku.”

“Aku sedih! Aku tidak pernah membayangkan ini sebelumnya. Tidak pernah terlintas di otakku, kenyataan ini benar-benar ada. Aku patah hati. Patah hati karenamu, Bu! Kau tahu, betapa hancurnya hatiku ini. Tapi, aku tetap harus bisa senang, walaupun masih sangat sakit. Aku bisa mengetahui segalanya. Mengetahui kau Ibu kandungku. Aku benci padamu, tapi aku menyayangimu, Ibu. Aku mohon jangan pergi..”

“Tetap lah disini bersamaku. Mereka belum tahu, kalau aku mengetahu segalanya. Biarkan mereka tenang. Biarkan mereka tetap hidup dalam kebohongan. Yang penting, aku sudah tahu kebenarannya. Tetap disini, Bu. Bersamaku, walaupun bukan sebagai Ibu seperti yang mereka tahu. Namun, bagiku kau tetap ibuku. Seburuk apa pun itu. Tetap bersamaku, selamanya..”

“Maafkan aku. Aku berjanji, mulai saat ini aku akan selalu bersamamu, Nak. Ibu ada disini, selamanya.”

Dia terdiam, tertidur dengan air mata yang masih membasahi pipi merahnya.

Teringat aku akan dirinya, ketika masih bayi. Pipi merah dan bibir merahnya. Mata indah seperti bola pingpong seperti mataku. Bayi perempuan yang sangat cantik. Sadiah Raden Ayu Kusumawati.

Ini cerita antara aku, dia dan mereka. (Selesai)

From → Cerpen

2 Komentar
  1. saya senang membaca cerpen ini . Dialognya enaK, konflik yang tercipta cukup terkendali sehingga saya merasa harus membacanya saampai selesai, dan lega. Saya senang cerita yang optimis dan menyadari bahwa hidup itu tidak pernah buntu, artinya peluang selalu ada.
    berkaryalah terus. salam kenal dari saya Oldman Bintang Rina

    • azhmyfm permalink

      Trims sangat bapak atensi, pujian dan dukungannya.. Kami akan terus berusaha menulis seraya mengekspresikan karya jurnalistik maupun sastra, supaya dapat memenuhi keinginan dan memuaskan pembaca (meski belum semuanya)..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: