Skip to content

Kesalehan, Standar Utama Pendidik (1)

by pada 14 Mei 2013
Dr. Amie Primarni

Dr. Amie Primarni

Pengantar: Barangkali, tulisan ini (Reblogged dari Majalah Amanah Online), dapat dipelajari kelebihannya sebagai latihan kita. Tema ini menarik karena tujuan pendidikan tak akan tercapai tanpa adanya pendidik yang berkualitas. Mungkin mau ditanggapi dan kasih komentar? Silakan dan semoga manfaat.

Oleh DR. Amie Primarni

Dalam model pendidik Islami, integritas ahlak, moral dan etik (adab) menjadi pilar utama bagi seorang pendidik. Pendidik tidak bisa berperilaku yang menyimpang.

Jika merujuk pada standar pendidikan Imam Al-Ghazali misalnya, maka sosok pendidik tidak cukup hanya cerdas dan ahli dalam keilmuan. Melainkan harus memiliki ketaatan dalam ibadah, dan bukan sebagai sebuah pekerjaan yang dibayar atau menentukan bayaran.

Didanai Pemilik Kepentingan

Sekarang tentu kita harus melihat pada Peran pendidik, sebagai implementer dan pelaku praksis pendidikan di lapangan. Pertama kita akan melihat atau merujuk dulu pada syarat umum seorang pendidik, baik perspektif pendidikan Barat maupun pendidikan Islami.

Dalam perspektif pendidikan Barat, ke-‘pakar’-an menjadi pilar utama untuk seorang pendidik, makin ahli dan spesifik dalam suatu bidang akan semakin tinggi nilai kedudukannya di dalam dunia pendidikan. Kedua, adalah aspek metode pengajaran, uji coba terapan dilakukan di Barat untuk menguji sebuah konsep. Kelas menjadi laboratorium hidup untuk pengamatan dan research (penelitian).

Barat unggul dalam terapan, disebabkan banyaknya hasil penelitian yang dihasilkan. Sebuah konsep dilahirkan dan diperkuat dengan hasil penelitian. Riset menghasilkan metode-metode pengajaran. Sebut saja metode Active Learning, Quantum Teaching, dan masih banyak lagi. Metode-metode pengajaran lahir dari banyaknya penelitian yang dilakukan dan kesinambungan penelitian. Research menjadi sebuah project-project yang didanai besar oleh pemilik kepentingan terkait dengan industri, apakah industri buku ajar, video edukatif, dan laboratorium pendukung lain.

Ketiga, adalah aspek experience (pengalaman). Pengalaman di sini bukan saja ditekankan pada lamanya mengajar, namun diimbangi dengan penemuan-penemuan lapangan yang dihasilkan dari upaya mencari solusi. Atau penemuan-penemuannya dalam strategi belajar, yang didapat dari kesehariannya selama mengajar. Tiga aspek ini merupakan syarat pendidik dalam perspektif Barat.

Model yang Berjalan

Sekarang mari kita tengok syarat pendidik dalam perspektif Islam. Banyak pakar pendidikan Islam yang merumuskan syarat pendidik. Namun penulis akan ambil saja saripati dari syarat-syarat yang ada. Pertama adalah ke-‘pakar’-an yang berjalan paralel dengan ‘akhlak,’ kedua pilar ini melebur pada istilah ‘otoritas.’

Berbeda dengan Barat, otoritas dalam perspektif Islam tidak dilegitimasi oleh ijazah atau sertifikat lembaga pendidikan. Tetapi otoritas didapat dari pengakuan kolega dan umat setelah melihat, membandingkan dan membuktikannya. Istilah ‘pakar’ dalam perspektif Islam, tidaklah dibatasi pada aspek ilmu pengetahuan spesifik saja, namun juga ‘pakar’ dalam ilmu keagamaan. Sehingga perbedaan ini, mengantarkan Islam memiliki ilmuwan-ilmuwan yang spesifik-universal. Berbeda dengan Barat, yang memiliki ilmuwan-ilmuwan yang spesifik-linear.

Kedua, dalam Islam seorang pendidik adalah “role model” model yang berjalan. Seluruh perilaku, perkataan dan kepribadiannya, baik sebagai mahluk yang beribadah ke Rabb, maupun dalam hubungannya dengan sesama, menjadi standar pengukuran integritas. Ketiga adalah kesalehan, semakin tinggi kedekatan seorang pendidik kepada sang Khalik, semakin baik persepsinya di mata murid.

Sekadar Penghargaan

Sekarang mari kita lihat dalam implementasi di lapangan. Baik pada pendidikan umum yang menggunakan perspektif Barat atau pendidikan Islami. Keduanya terlihat tidak saling melengkapi. Dengan menggunakan paradigma Barat, saat ini pendidik –-dengan sedikit paksaan-– diberi model sertifikasi dan kepangkatan untuk mengembangkan keilmuannya melalui penelitian yang dituangkan dalam hasil jurnal-jurnal pendidikan. Namun, melepas sisi akhlak dan moral –-kecurangan, manipulasi data, sampai penjiplakan– yang dilaporkan terjadi.

Pertanyaannya, inikah tujuan sertifikasi dan kepangkatan? Saya yakin, tidak. Dunia pendidikan di Barat sangat kritis terhadap ‘kecurangan akademik.’ Saya menyebutnya demikian, dengan pengertian ‘menjual murah moral –integritas–  untuk sekadar mendapat penghargaan intelektual dan dukungan finansial. Tetapi Barat di sisi lain, masih memiliki sifat ambiguitas. Mereka dalam posisi tertentu, ‘enggan’ menyebutkan sumber ilmu yang mereka dapat. (Bersambung)

DR. Amie Primarni adalah Pemerhati Pendidikan yang bekerja sebagai Dosen dan Konsultan Pendidikan

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: