Skip to content

Kesalehan, Standar Utama Pendidik (2)

by pada 16 Mei 2013

Pengantar: Barangkali, tulisan ini (Reblogged dari Majalah Amanah Online), dapat dipelajari kelebihannya sebagai latihan kita. Tema ini menarik karena tujuan pendidikan tak akan tercapai tanpa adanya pendidik yang berkualitas. Mungkin mau ditanggapi dan kasih komentar? Silakan dan semoga manfaat.

Oleh DR. Amie Primarni

Dr. Amie Primarni

Dr. Amie Primarni

Posisi pendidik pada dalam perspektif pendidikan Islami, memiliki posisi yang mulia. Hal ini disebabkan seorang pendidik tidak hanya mengembangkan aspek intelektual muridnya, tetapi turut serta membentuk, membina dan mengembangkan akhlak, moral sesuai tuntunan Al-Qur’an.

Tidak demikian dalam perspektif Barat. Peran dan tanggungjawab pendidik, hanya sebatas pada pengembangan intelektual. Kalau lah ada pendidik yang concern pada pengembangan diri, mungkin merupakan tanggungjawab perorangan. Dalam pembentukan karakter, mereka mendapat didikan yang baik untuk disiplin, tanggung jawab, dan jujur.

Sifatnya lebih kepada hubungan vertikal sesama manusia dan alam, tetapi tidak berdimensi nilai-nilai ketuhanan, Sebab urusan keagamaan adalah urusan pribadi semata. Sehingga jika kita telusuri jejak-jejak para ilmuwan, kita bisa menemukan perbedaan tajam antara kecemerlangan intelektual dan etos kerja yang tinggi dengan perilaku menyimpang.

Mengembangkan Akhlak Al-Qur’an

 Sekarang di dunia pendidikan Islam. Pertama, dorongan untuk melakukan penelitian masih sangat kurang. Bahkan disertasi yang –boleh jadi– sesungguhnya memiliki kualitas baik untuk dikembangkan menjadi buku atau bacaan yang berwawasan, kurang dikembangkan. Padahal Barat bisa mengekspansi pemikirannya melalui buku dan bacaan berwawasan, hasil dari serangkaian penelitian disertasi.

Kemudian mindset bahwa guru atau pendidik (dosen) hanya sebatas mengajar dan menghabiskan seluruh waktunya untuk mengajar, masih mendominasi model pendidik Islam maupun umum di Indonesia. Mereka pandai untuk mengajar, tetapi lemah dalam menulis. Komunikasi verbal masih mendominasi, dibandingkan komunikasi tertulis.

Kedua, dalam model pendidik Islami, integritas akhlak, moral dan etik (adab) menjadi pilar utama bagi seorang pendidik. Pendidik tidak bisa berperilaku yang menyimpang. Jika merujuk pada standar pendidikan Imam Al-Ghazali misalnya, maka sosok pendidik tidak cukup hanya cerdas dan ahli dalam keilmuan. Melainkan harus memiliki ketaatan dalam ibadah, dan bukan sebagai sebuah pekerjaan yang dibayar atau menentukan bayaran.

Ketiga, dalam cara pandang Barat, tidak ada korelasi antara kesalehan dengan perannya sebagai pendidik. Bisa saja seorang pendidik misalnya, memilih untuk Atheis. Bisa saja seorang pendidik berperilaku melanggar nilai-nilai dan aturan-aturan, yang ditetapkan dalam agama.  Hal inilah yang harus kita cermati, ketika mencoba merujuk pada standarisasi seorang pendidik.

Sistem Rekruitmen Komprehensif

Mari, kita mencoba merumuskan. Jika tujuannya untuk mengembangkan pendidikan holistik dalam perspektif Islami, yang mengembangkan ke empat elemen manusia (elemen spiritual sebagai fondasi, kemudian intelektual, fisik dan emosi), kiranya kita akan mendapatkan standar pendidik yang paling tidak harus memenuhi syarat sebagai berikut.

  1. Syarat spiritual, memiliki world view Islamic. Baik dalam rangka ibadah, maupun dalam rangka keilmuan.
  2. Syarat intelektual, memiliki kemampuan secara spesifik akademik sesuai dengan latarbelakang pendidikan yang ditekuni. Dan memiliki kemampuan untuk mengembangkan keilmuan lain secara general.
  3. Syarat fisik, sehat dan bugar
  4. Syarat emosi, memiliki kestabilan emosi, dan kecerdasan dalam mengelola emosi. Berjiwa tenang, memiliki kesabaran yang tinggi, dan ketekunan. Memiliki kekuatan untuk memimpin.

Syarat atau kriteria ini tentu saja masih harus dikembangkan kembali secara detail, jika ingin digunakan sebagai indikator proses seleksi dan rekruitmen. Tidak cukup hanya itu, harus ada mekanisme untuk melihatnya secara komprehensif dalam kehidupan keseharian. Mungkin, seleksi dengan sistem diklat yang membutuhkan waktu 3-7 hari untuk melihat perkembangan emosi, kegiatan ibadah, dan kesehatan.

Pertanyaannya, sudahkah kita memiliki sistem rekruitmen yang demikian komprehensif?

Inilah pekerjaan rumah kita yang lain. Sehingga peran ‘Sertifikasi Pendidik’, tidak hanya dilihat dari komponen administratif belaka, yang rentan terhadap manipulasi data. Dan kepangkatan tidak semata diukur dari perolehan nilai KUM, tanpa melihat apakah seluruh aspek spiritual, emosi, fisik dan intelektual berkembang dengan baik.

Sebab jika kita ingin menggunakan konsep pendidikan holistik Islami, maka notabene pendidiknya harus lebih dahulu memenuhi persyaratan tersebut. Semoga apa yang disampaikan dalam tulisan ini, membangkitkan semangat para pendidik Islami untuk bergerak secara lebih tersistemasi dan terstruktur, sebagai bagian dari membangun mujahid-mujahid intelektual. Salam persahabatan.

DR. Amie Primarni adalah Pemerhati Pendidikan yang bekerja sebagai Dosen dan Konsultan Pendidikan

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: