Skip to content

Diorama Derita Kota Tua

by pada 18 Mei 2013

Oleh Yunike Lusi Dahlia

(elfaryzie.blogspot.com)

(elfaryzie.blogspot.com)

Awan kelabu menyelimuti kota yang sering didatangi “bule” mancanegara.  Terdengar suara kembang api yang meriuhkan suasana sore terkesan aneh, namun menarik. Di tengah keunikan menjelang adzan Maghrib, terlihat seorang anak perempuan kusam yang sedang mengais rezeki. Menggunakan botol aqua berisikan beras sebagai alat musik, ia pun berdendang..

Jakarta memang tak pernah lepas dari kehidupan anak jalanan, dengan berbagai profesi. Penyanyi jalanan, pengemis, pemulung, penyemir sepatu, bahkan peminta-minta dari berbagai kalangan usia.

Tunggu Ada Rezeki

Berjalan dari cafe ke cafe, museum ke museum mencari kerumunan manusia, yang menghabiskan malam di Kota Tua. Bisingnya mobil melintas dan pikuknya jalan, seolah tak membuatnya lelah. Dengan langkah gontai, ia menelusuri jalan di tengah desiran angin sore.

Bermuka judes, berambut kusut dan berbaju yang seperti tak dicuci selama sepekan. Lucunya, dia selalu menyisir rambutnya setiap sedang mengamen. Entah kusut atau sekedar iseng, padahal semakin disisir justru terlihat semakin mengembang tak terurus.

Namanya Susi, sekarang berusia 11 tahun. Wajahnya lusuh, namun matanya menceritakan banyak hal. Kerasnya jalanan telah dia rasakan sejak kecil, meski sempat berangan-angan menjadi seorang dokter lantaran ayahnya meninggal akibat sakit jantung.

Susi kini harus menanggung hidup dan kontrakan bersama ibunya, dari hasil recehan yang dikumpulkan setiap hari. Pernah Susi meminta disekolahkan sebagaimana anak seumurnya, namun lagi-lagi jawaban ibunya,  “tunggu ada rezeki.”

Kendati memiliki dua kakak yang sudah berkeluarga, Susi dan ibunya kerap tak dianggap sebagai keluarga oleh mereka.

“Mama kadang nangis, minta beras ke kakak pun pakai dibentak,” katanya.

Menukar Keinginan Bersekolah

Tak hanya itu derita Susi selama ini. Terkadang, ketika dia tidak mendapat uang dari hasil ngamen seharian, dia benar-benar tidak makan. Atau saat perutnya keroncong tak tertahankan, terpaksa mengumpulkan makanan sisa yang ditampung dari piring-piring di cafe.

Namun, Susi tak pernah merasa bosan dengan profesinya. Dia senang bernyanyi, walau tak memiliki suara indah. Lagipula, tak pernah ada paksaan dari ibu untuk mengais rezeki, seberapa pun yang didapatkan.

“Yang penting aku pulang bawa uang, Mama pasti senang,” ujarnya dengan polos.

Mencari rezeki hingga pukul 12 malam, bahkan tak jarang sampai pukul 4 pagi. Susi pun tidur tak menentu, di emperan atau di trotoar pun dilakoni demi sekadar mengistirahatkan mata. Sholat pun jarang dilakukan, karena sibuk mencari uang. Semoga bukan karena uang yang menjadi tuhan, menjadi tuan diatas segala perkara yang ditanggung.

Susi kerap menangis gara-gara telat membayar kontrakan, karena tak tega melihat ibunya — meski telah memelas memohon perpanjangan–dimarahi pemilik kontrakan. Padahal kebutuhannya tak hanya membayar kontrakan, ibunda Susi pun memiliki utang dimana-mana.

 “Utang beras, utang lauk, utang barang,” begitu jelasnya.

Padahal ibu Susi juga mengais serpihan sisa bungkus air mineral, demi menambah pendapatan kendati hasilnya tak menentu. Susi begitu menyayangi ibunya, sehingga Susi rela menukar keinginan bersekolahnya untuk mencari nafkah demi kelangsungan hidup mereka berdua.

“Meski Mama kadang suka marah, tapi aku tau dia sayang aku. Cuma Mama doang yang aku punya sekarang,” katanya sepenuh hati.

Harapan Mulia

Derita Susi seakan tak kunjung usai, rumah Susi harus kebanjiran bila hujan datang. Tidur dikelilingi kubangan air pun, telah menjadi keniscayaan. Apalagi yang bisa diperbuat, selain menerima setiap kejadian yang ditakdirkan.

Mencari uang tak kenal cuaca, mungkin menjadi moto hidup Susi. Di tengah derasnya hujan yang menyelimuti Kota Tua, Susi masih mencari uang dengan lindungan kantong plastik. Kadang dia malah meminjam payung temannya dan beralih profesi menjadi ojek payung keliling.

Apapun dilakukan, demi mendapatkan uang. Panas terik, hujan deras, atau angin ribut sekalipun, tak pernah membuat dia gentar. Meski hidup serba kekurangan, Susi memiliki harapan yang begitu mulia. Berharap ketika besar nanti dia bisa membantu orang-orang susah, agar tak hidup seperti dirinya.

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: