Skip to content

Museum, Riwayatmu Kini

by pada 21 Mei 2013
(raunraunsenyo.blogspot.com)

(raunraunsenyo.blogspot.com)

Oleh Novrisa Wahyu W

Berjalan-jalan di sekitar Jakarta, serasa bertualang di hutan beton yang membosankan.  Sejauh mata memandang, gedung-gedung tinggi berdiri gagah menghimpit jalanan. Di salah satu sisi jalan, tepat di seberang Monumen Nasional, dibangun Museum Nasional. Mampir, yuk!

Inilah tempat yang mengasyikkan, bermacam jejak kebudayaan nan bersejarah dipamerkan demi menambah wawasan. Sayangnya, segelintir orang saja mau merelakan waktunya mengunjungi museum. Setidaknya begitulah kesan yang didapat, saat memasuki gedung luas bertingkat empat ini.

Gedung yang didirikan Pemerintah Belanda pada 1778, merupakan respon lahirnya perhimpunan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen dengan tujuan menelaah riset-riset ilmiah di Hindia Belanda. Kini, setelah Belanda hengkang sebagai penjajah, hasil riset dan temuan mereka tetap dipelihara dengan menjadikannya sebagai museum. Di dalamnya terdapat beberapa ruang yang berisikan berbagai koleksi Sejarah, Geografi, Prasejarah, Numismatik & Keramik, Etnografi, serta Arkeologi.

Ada dua jenis tiket untuk memasuki museum dengan harga yang berbeda. Tiket Perorangan yang terdiri atas pengunjung dewasa (Rp. 5.000,-), anak-anak (Rp. 2.000,-). dan khusus wisatawan mancanegara (Rp. 10.000,-). Sedangkan tiket Rombongan (minimal 20 orang) dengan harga Rp. 3.000,- (dewasa), Rp. 1.000,- (anak-anak) dan Rp. 10.000,- (wisman). Harga tiket itu menjadi relatif murah atau mahal, tergantung pandangan pengunjungnya sendiri.

 “Mahal,” menurut Intan (24), sambil tertawa.

 “Kenapa?”

 “Menurut aku, cara memamerkannya kurang menarik. Selain itu, kurang terawat. Pengetahuan yang didapat jadi kurang sekali.”

Ia mencontohkan salah satu arca, yang tampak berlubang tepat di setengah bagian wajah arca.

Kolektor buku ini mengaku memang senang mengunjungi museum untuk menambah pengetahuannya. Ia menggambarkan museum favoritnya di daerah-daerah, misalnya di Surabaya.

“Kalau di Jakarta, saya suka Museum Fatahillah.”

Demi menambah daya tarik, menurut Intan, sebaiknya museum ditata seperti aslinya. Bukan sekadar menjadi display dalam kaca. Misalnya dengan menatanya seperti diorama, sehingga pengunjung seolah-olah berada dalam situasi tersebut.

Catatan Penting

Bangunan Museum Nasional terbagi menjadi 2 gedung, yang dibuka setiap hari dari pukul 08.00 hingga 17.00. Gedung pertama disebut Gedung Gajah, yang berisikan peninggalan kebudayaan, seperti arca Ganesha atau arca Raja Aditiawarman yang berdiri tinggi menjulang di tengah ruangan. Arca inilah yang menjadi batas bagi ruangan-ruangan tertutup ber-AC di dalam museum, salah satunya Ruang Pameran Tekstil.

Lalu gedung kedua dinamakan Gedung Arca, yang dijembatani selasar besar berdinding kaca — yang dari sini kita dapat melihat pemandangan di luar museum. Fasilitas di gedung ini lebih modern. Terdapat 4 lantai yang dapat dicapai dengan lift atau eskalator, masing-masing merupakan ruang pameran Manusia dan Lingkungan, Ilmu Pengetahuan, Ekonomi, dan Teknologi, Organisasi Sosial & Pola Pemukiman, dan Koleksi Emas & Keramik Asing.

Di gedung ini pula pengunjung dapat santai sejenak di kafetaria. Sayang letaknya terpencil, sehingga tidak langsung terlihat. Pengunjung harus menengok ke kanan untuk menemukan kafetaria ini.

Hebatnya, masih lebih banyak wisatawan asing yang berkunjung. Mereka tampak antusias dengan benda-benda yang dipamerkan. Sementara itu, di beberapa ruangan tampak sepi. Misalnya saja ruang pameran tekstil yang sempat saya masuki, seperti luput dari kunjungan saking sepinya. Meski begitu, sebenarnya ruangan-ruangan pameran di Museum Nasional cukup nyaman karena difasilitasi pendingin ruangan.

Ini menjadi semacam catatan penting untuk pihak pengelola dan pemerintah, agar museum sebagai sarana penambah pengetahuan budaya dan sejarah dapat diperbaiki.

“Lebih ditata, dirawat, ditambahkan isi dan kualitasnya. Tetapi arsitektur gedungnya jangan dibangun modern seperti itu. Boleh modern, tapi tetap mencerminkan kebudayaan Indonesia,” tutup Intan.

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: