Skip to content

Cerpen: Bisikan di Bawah Hujan

by pada 26 Mei 2013
(eurydice25orpheus.blogspot.com)

(eurydice25orpheus.blogspot.com)

Oleh Linda Sa’i Hudri

“Tut…..tut….tut….” ponselku berdering tanda panggilan masuk. Segera kuangkat lalu, “Aku menangis, saat tak ada kesempatan bagiku untuk bertemu denganmu.” Suara seorang laki-laki membuka pembicaraan di ponselku.


Aku terdiam sejenak, mencoba menerawang setiap kata-kata yang terlontar dari bibirnya. Aku tidak mengenali nomor yang tertera di ponselku. Rasa heran menyergap pikiranku. Entah siapa yang saat ini sedang berbincang denganku, bahkan suara yang keluar itu pun aku tidak mengenalinya.

“Mengapa engkau pergi, pergi tanpa memberitahuku?” timpalnya.

“Maaf, kamu siapa? Aku tidak mengerti yang kamu katakan,” sahutku, berusaha menjelaskan dengan rasa bingung.

“Kamu tidak mengenaliku?” tanya dia, terdengar keras di telingaku.

“Sungguh, aku tidak tahu siapa kamu,” jelasku.

“Kamu benar-benar tidak mengenaliku?” Ia kembali bertanya.

“Maaf ya Mas, aku benar-benar tidak kenal sama kamu.” ujarku, kembali meyakinkan orang yang berbicara denganku.

“Aku tidak mengira, ternyata kamu lupa dengan diriku. Mungkin, kamu juga lupa dengan semua yang telah kita lewati bersama,” sahutnya terdengar lirih.

Kita lewati bersama? Duh, aku masih belum mengerti dengan apa yang ia maksud dalam kalimat itu. Siapa yang dimaksud ‘kita’ olehnya?

Kepalaku dipenuhi dengan kalimat yang sama sekali tak aku mengerti. Kusandarkan tubuhku di tempat tidur dan coba mengingat semua yang telah aku lewati. Berusaha membuka memoriku yang mungkin terselip. Cukup lama aku terdiam dalam keheningan.

“Kamu Reza?” kuberanikan diri bertanya, setelah lama mengingat dan menerka namanya.

“Kamu Reza, kan?” Aku kembali bertanya.

“Apakah kamu sudah ingat semuanya?” kini suaranya terdengar tegas.

“Tapi, apakah benar ini kamu, Reza?” tanyaku penasaran.

“Iya Dit, ini aku Reza.” sahutnya singkat.

“Za, aku minta maaf. Sungguh, aku tidak mengenali suaramu.” Tiba-tiba rasa bersalah menyelimutiku.

Kenapa kamu pergi begitu saja? Kenapa kamu tidak bilang sama aku, atas kepindahanmu?” Suara yang kudengar semakin lirih.

“Maafkan aku, Za. Aku pergi karena pekerjaan Ayah, yang mengharuskan kami pindah. Aku minta maaf, tidak sempat berpamitan. Selain itu, ..” ku coba menjelaskan rasa bersalah yang menyergap.

“Ya sudah lah, Dit. Semuanya memang sudah terjadi. Aku hanya bisa berdoa, agar kamu baik-baik saja dan betah tinggal di tempat barumu. Aku akan menunggumu kembali.”

“Tut..tut..tut..” Aku belum sempat menjelaskan semuanya, tapi dia telah memutuskan pembicaraan.

Aku coba menelponnya kembali, tapi nomornya berada di luar jangkauan. Penyesalan mulai menghantui pikiranku. Kelopak mataku yang kini penuh genangan air, perlahan terjatuh tanpa kusadari.

*******

Sejak saat itu, aku tak pernah lagi mendengar kabar darinya. Sesekali aku dan keluarga berkunjung ke tempat kami tinggal dulu, juga tempat Reza. Tapi, aku tak pernah bertemu dengannya. Ribuan sms dan pesan melalui e-mail telah kukirimkan, hanya saja ia tak pernah membalasnya.

Waktu terasa begitu cepat, hari, bulan hingga tahun berganti. Hampir lima tahun, aku tak pernah lagi berkunjung ke tempat Reza. Rasa rindu terhadapnya semakin dalam. Setiap detik yang aku lewati, hanya satu kalimat terakhir darinya yang selalu terngiang di kepalaku.

Mengapa rasa bersalah ini, tak kunjung hilang terhadapmu. Lima tahun telah terlewati begitu saja, tapi rasa penyesalan selalu hadir di setiap mimpiku. Batinku rapuh.

Kulangkahkan kedua kakiku menuju halaman rumah. Kesunyian daerah kompleks rumah, membuat aku semakin mengingatnya. Sore itu, kuputuskan untuk berjalan-jalan, sekadar mencari angin di sebuah taman yang tak jauh dari rumah.

Langkah kakiku terhenti. Kedua bola mataku tertuju pada sosok laki-laki berbaju biru tua, celana jins, dan memakai topi hitam, yang duduk di sebuah kursi dekat mainan anak-anak.

Perlahan kulangkahkan kaki mendekati sosok tersebut. Makin dekat dan semakin jelas rupa wajah laki-laki itu. Beberapa kali aku membuka dan membarsihkan kacamataku.

“Reza.” Aku tercengang, saat menyadari sosok laki-laki yang kuperhatikan adalah Reza.

“Dit ..ta, kok, kamu ada di sini?” tanyanya.

“Seharusnya aku yang bertanya ke kamu. Kenapa kamu ada di sini?” Heran bercampur riang, membuat bibirku bergetar.

“Aku sudah lama tinggal di daerah sini. Sudah menjadi kebiasaanku pula untuk jalan-jalan sore. Ya, sekadar cari angin,” jawabnya enteng.

“Kalau kamu?” Ia kembali bertanya.

“Ehm, aku juga lagi cari angin,” sahutku singkat. Kesal.

Sejak kapan ia tinggal di sini? Dan apakah ia pindah bersama orang tuanya? Atau mungkin ia hanya lewat dan beristirahat? Batinku penuh dengan pertanyaan, yang ingin sekali aku lontarkan kepadanya.

“Oh, ya. Ayo duduk!” Ia memberi ruang di sampingnya.

Aku segera mengambil posisi yang sedikit jauh dari posisi duduknya, agar ada jarak di antara kami. Hening. Beberapa kali kuhembuskan napas, mencoba menguasai keadaan. Tak ada yang keluar dari mulutku, semua pertanyaan seakan membelenggu di rongga mulut. Sesak.

“Ehm, Dit.” Reza membuka pembicaraan.

“I .. iya, Za. Ada apa?” tanyaku.

Kedaan kembali hening.

*******

“Sebenarnya, ada beberapa hal yang ingin aku sampaikan sama kamu.” Reza kembali membuka pembicaraan, yang membuatku makin tak mampu berucap.

“Pertama, aku sudah lama tinggal di sini bersama paman. Semenjak kamu pindah rumah. Selama itu pula, aku selalu memperhatikan dan mencari informasi tentang kamu. Aku juga sering menanyakan keadaanmu pada ibumu,” jelasnya membuka kartu.

“Kedua, aku minta maaf. Tak pernah membalas sms, pesan e-mail, bahkan aku tak pernah mengangkat telepon darimu. Semuanya aku lakukan cuma untuk mencari tahu, seberapa ingatnya dirimu terhadapku.” Reza menarik napas dan kembali melanjutkan.

“Kalau kamu mau marah, aku akan terima semua risikonya. Karena tahu yang aku lakukan selama ini, sungguh membuatmu selalu dihantui rasa bersalah.” Reza terlihat pasrah.

Aku hanya terpaku. Tubuhku seakan hanyut oleh derasnya aliran darah yang mengalir dalam tubuhku. Detak jantungku seakan tak lagi ingin berdegup, terhenti. Semua pertanyaanku terjawab sudah, tanpa aku lontarkan.

“Dit.” Reza memandangku dalam. Kurasakan penyesalan dalam suaranya.

Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, namun tak mampu berucap. Hidungku terasa sangat perih, mataku mengeluarkan butiran air yang terasa hangat di pipi.

“Dit..” Perlahan Reza mendekatkan tubuhnya. Ia memandangku dalam. Rintik-rintik air dari langit mulai berjatuhan, angin semilir pepohonan taman terasa masuk hingga ke rongga tulang.

“Dit, ayo kita berteduh. Hujannya semakin deras. Aku tak mau, kalau nanti kamu sakit.” Tangan Reza menggenggam kedua tanganku. Aku masih terpaku dalam keheningan. Tubuhku tak berdaya.

“Aku tak mau kehilangan kamu lagi, Dit.” Tiba-tiba Reza mendekapku erat. Terdengar isak tangis di telinga sebelah kananku.

“Aku minta maaf, Dit. Sungguh, aku tak bermaksud membuatmu menderita.” Dekapannya semakin erat, hingga aku sulit bernapas.

“Za..” Kucoba melepas dekapannya. Perlahan kutatap wajahnya yang basah oleh derasnya hujan. Kelebarkan senyum hangat untuknya, kuyakinkan tak ada yang harus dikhawatirkan. Semuanya akan baik-baik saja. Di bawah derasnya hujan, aku dan Reza saling mendekap, erat.

“Aku harap, kita akan selalu bersama hingga akhir hayat nanti,” bisikku dalam dekapannya.

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: