Skip to content

Keceriaan dan Kepolosan Rizki

by pada 28 Mei 2013
(Foto: RA)

M. Rizki (Foto: RA)

Oleh Rizki Amalia

Seorang anak jalanan bukanlah sebuah pajangan, yang terkadang secara fisik memang ada tapi keberadaannya hanya dianggap sebagai angin lalu. Mereka juga bagian dari kita, yang menjalani kehidupannya kurang beruntung. Karena itulah, mereka mencoba mengubah hidupnya di jalanan dengan cara masing-masing.

Mungkin kebanyakan anak-anak menghabiskan waktunya untuk belajar dan bermain, berbeda dengan anak-anak jalanan. Mereka menghabiskan waktunya untuk bekerja di jalanan, yang dianggapnya sebagai tempat menyambung hidup. Seperti ladang yang selalu mengandung emas, tapi sangat sulit didapat.

Pada sore yang mendung diiringi rintik hujan, seorang bocah laki-laki bertubuh kecil dan tanpa alas kaki, menawarkan jasanya sebagai ojek payung.

“Kak, ojek payung?” adalah kalimat pertama yang terucap. Tangannya yang kecil, sangat berbanding terbalik dengan payungnya yang besar.

“Oh, sebentar, Dek. Mau nggak diwawancara sebentar aja?”

Awalnya ia terlihat ragu dan takut, tapi saya dan teman berusaha membuatnya nyaman melalui obrolan-obrolan santai.

Dia, bocah laki-laki itu, bernama M.Rizki. Pertemuan dengan Rizki terjadi di depan Margo City, Depok. Saat kami berjalan di jembatan penyeberangan antara Detos dan Margo, Rizki datang menawarkan ojek payung.

Diusianya yang akan menginjak 8 tahun, ia sudah bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya. Namun diakuinya keinginan bekerja datang dari diri sendiri, tiada paksaan siapapun. Ayahnya bekerja sebagai pemulung dan ibunya cuma ibu rumah tangga.

Rizki memiliki seorang kakak yang duduk di bangku SMP dan seorang adik yang masih balita. Agak aneh sebenarnya mendengar hanya Rizki yang bekerja, sedangkan sang kakak tidak. Padahal Rizki juga bersekolah, duduk di kelas 3 SD Negeri 05 Beji, Depok.

Sekolah dan bekerja menjadi kegiatan yang selalu dilakukan Rizki sehari-hari. Seusai sekolah, ia biasanya pulang ke rumah terlebih dahulu. Baru pukul 16.30, ia berangkat bekerja. Meski begitu, keceriaan tidak menghilang dari wajahnya. Entah datangnya dari mana, namun keceriaannya terlihat tulus.

Biasanya pukul 18.30 Rizki selesai bekerja, dengan penghasilan rata-rata perhari Rp 50.000,00. Ia mengatakan sebagian besar pendapatannya diberikan ke orang tuanya, meski ia juga jujur mengutarakan keinginannya membeli handphone dari sedikit yang ditabungnya. Rizki menambahkan hanya bekerja ketika musim hujan, selebihnya waktu dihabiskan dengan bermain layangan. Polos jawabannya.

Saat ditanya apakah ia ingin melanjutkan sekolahnya ke tingkat yang lebih tinggi, dengan antusias dan pasti ia menjawab, “Iya.” Tapi ketika ditanya mengenai cita-citanya, ia hanya diam. “Nggak tau.” Sekali lagi, yang terdengar adalah jawaban polos.

Itu adalah sedikit cerita, tentang seorang anak jalanan di sekitar kita. Keberadaanya yang memang nyata, membuat kita lebih menyadari makna ‘nyata’ tersebut. Keberadaanya juga bukan merupakan warna ‘hitam’ kehidupan, tapi menjadi ‘pelangi’ yang terkadang tidak disadari oleh mata ini.

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: