Skip to content

Cerpen: Hari Itu di Kereta Ekonomi (2)

by pada 9 Juni 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari Cerpen, yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

Oleh Dede Kartika

(haztak21.blogspot.com)

(haztak21.blogspot.com)

“Papa haus nih, sayang. Boleh jika Papa minum dulu?” tanya Papa padaku. Aku mengangguk cepat, tak sabar ingin mendengar kelanjutan kisah Tuan Gendut.

Hari pertama, seperti biasa Tuan Gendut dan Tuan Senyum mulai bekerja pagi hari. Tuan Gendut mengantarkan rakyat jelata ke pasar, sungai, sawah dan ke rumah sanak saudara mereka. Ketika mengantarkan rakyat jelata ke pasar, mereka berisik sekali, barang bawaannya banyak, baju mereka bau. Sesampai di pasar, mereka hanya mengucapkan terima kasih dan mendoakan Tuan Gendut agar senantiasa sehat dan bahagia.

Tuan Gendut sangat heran. Ia kesal sekali, perut buncitnya kelaparan. Tuan Gendut tak punya makanan. Ia terus cemberut dan mengemudikan kereta dengan kencang.

Berbeda halnya dengan Tuam Senyum. Ia mengantarkan bangsawan ke tempat tujuan mereka. Tuan Senyum senang, karena ia mendapatkan banyak makanan. Ketika petang Tuan Gendut dan Tuan Senyum pulang ke rumah masing-masing. Sebelum pulang ke rumah, Tuan Senyum memberikan makanan yang tadi didapatnya ke para tetangganya. Termasuk ke Tuan Gendut, yang segera mrlahapnya.

Seminggu berlalu, rakyat jelata tak suka naik kereta Tuan Gendut. Ia selalu marah-marah, jika mereka berisik. Tuan Gendut juga selalu mengemudi kereta dengan kencang, membuat rakyat jelata ketakutan. Karenanya, rakyat jelata mengadukan Tuan Gendut kepada Raja. Raja segera memanggil Tuan Gendut ke istana dan memarahinya. Tuan Gendut hanya menunduk dan gemetar ketakutan.

Raja menegaskan jika sekali lagi Tuan Gendut membuat rakyat jelata tak  nyaman naik kereta, Raja akan memecat Tuan Gendut. Mendengar itu, Tuan Gendut kian ketakutan.

Seminggu berlalu sejak panggilan ke istana, tubuh Tuan Gendut makin kurus. Perut buncitnya kini mengecil.

Tuan Gendut semakin kesal ketika perutnya sedang lapar, seorang anak kecil menangis di dalam keretanya. Tuan Gendut menjadi berang. Ia lantas mengemudikan keretanya dengan kencang, sehingga membuat anak tersebut terjatuh dari gendongan ibunya dan terlempar ke luar kereta. Ibunya menjerit. Orang-orang segera berteriak menyuruh Tuan Gendut untuk berhenti.

Tuan Gendut akhirnya berhenti dan melihat anak yang jatuh dari kereta, tanpa meminta maaf. Tuan Gendut lantas pergi, karena perutnya sangat lapar dan ingin segera makan. Ia sama sekali tak peduli.

Keesokan harinya, Raja memnaggil Tuan Gendut ke istana. Atas kelakuannya, Tuan Gendut dipecat Raja dan dipenjara di ruang bawah tanah. Tuan senyum kembali menjadi masinis kereta jelata. Tak ada yang berubah dari Tuan Senyum. Ia tetap baik dan ramah seperti biasa. Rakyat jelata bergembira, mereka tak takut lagi naik kereta api.

“Nah, selesai ceritanya, sayang,” ucap Papa, sambil mengelus rambutku.

“Kasihan Tuan Gendut, ya, Pa.” sahutku kemudian.

“Hm, itu adalah hukuman bagi orang yang selalu mementingkan diri sendiri. Tuan Gendut hanya memikirkan makan dan kesenangannya sendiri,” terang Papa,”

“Dengar Papa, ya, sayang. Kamu tidak boleh seperti Tuan Gendut. Jadilah seperti Tuan Senyum yang baik hati dan suka menolong orang lain,” pesan Papa menutup cerita.

“Iya, Pa. Alin juga ngga mau seperti Tuan Gendut. Ih, nanti perut Alin juga buncit lagi,” ujarku sambil memegang perutku.

“Haha, anak baik.” Papa tergelak, seraya kembali mengelus rambutku

*******

Teng teng teng.

“Jalur enam akan masuk kereta ekonomi tujuan Depok. Periksa kembali karcis dan barang bawaan Anda, pastikan tidak tertinggal di stasiun Manggarai.”

Kereta cukup penuh hari itu, yang menjadi hal biasa  jika terjadi hujan. Apalagi kereta datang terlambat, akibat gangguan sinyal. Aku segera masuk. Tetapi tak ada bangku kosong, semua sudah terisi. Aku mengambil posisi di dekat persambunagn gerbong kereta. Lantai kereta becek, Aku harus hati-hati, agar tak terjatuh.

Kereta berjalan cukup cepat. Aku memandang ke luar jendela, melihat deras hujan yang mengguyur tanah. Tadi sewaktu menunggu kereta, aku mengingat kembali cerita Papa dulu semasih berusia enam tahun. Aku rindu sekali pada Papa. Aku kembali memandang sekelilingku.

Lihatlah Papa, mungkin ini gambaran kereta jelata yang kau ceritakan dulu. Kini makin banyak sosok Tuan Gendut. Para pemuda yang asik bercengkrama dengan teman atau kekasihnya, sama sekali tak memerdulikan seorang kakek tua yang berdiri di hadapannya.

Lihatlah Papa, Tuan Gendut kini menjelma menjadi sosok seorang nyonya besar yang tengah duduk. Ia memkai semua perhiasannya. Ia sibuk menekan tombol di telepon genggamnya, tanpa peduli dengan anak kecil tukang sapu yang memelas meminta rezeki padanya.

Lihatlah Papa, sosok Tuan Gendut juga tampil pada seorang kondektur kereta api yang menerima uang haram dari penumpang kereta yang tak membeli karcis. Kantong celanya tebal, dipenuhi uang dua ribuan.

Lihatlah Papa, malah Tuan Gendut juga menjadi seorang berandalan yang hanya peduli pada dirinya sendiri. Ia mengambil dompet yang bukan miliknya, merampas perhiasan nyonya besar, dan lari terbirit-birit begitu mendengar teriakan copet.

Lihatlah Papa, Tuan Gendut bermukim di para hakim yang dipercaya sebagai orang yang paling bijaksana dan adil, justru menerima suap untuk membenarkan perbuatan yang salah.

Lihatlah Papa, semakin banyak Tuan Gendut yang kini mempunyai kedudukan penting di Negara ini. Mereka mengambil uang rakyat, menghabiskannya untuk diri sendiri dan keluarganya. Sama sekali tak peduli dengan meningkatnya kemiskinan dan penderitaan rakyat.

Lihatlah Papa, bahkan Raja tak pernah mendengar keluh kesah rakyatnya, bahkan tak ingin repot menghukum Tuan Gendut. (Selesai)

 

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: