Skip to content

Cerpen: Jaga Selalu Hatimu (1)

by pada 22 Juni 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen, yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(leelfishyhae.wordpress.com)

(leelfishyhae.wordpress.com)

Oleh Elfiana Fitriah

“Sampai saat ini, rasaku bertahan di sini. Rasa yang tak akan hilang oleh waktu. Kau tidak di sini, aku pun tiada di hatimu. Jiwaku ikut menghilang bersamamu.” Begitulah Luppy menulis  di buku diary-nya.

Malam yang sunyi, aku termenung di dalam ruangan. Hanya buku diary, pulpen, dan air mata, yang menemaniku saat gundah gulana seperti ini. Aku bingung. Dia tidak mengerti perasaanku. Dia hanya menyalahkan, memarahi, bahkan meremehkanku, bagai kekasih yang tidak dianggap. Tuhan, kapan semuanya berakhir dengan bahagia?

Malam semakin larut. Aku mengambil boneka Nightmare –yang di berikan Ryan– untuk menemaniku tidur malam ini. Aku peluk erat-erat boneka, karena, sungguh, sangat membutuhkan orang yang membuatku tenang. Tapi, apalah daya.. Hanya bisa memeluk bonekanya, karena dia telah pergi meninggalkanku sendiri.

“Ryan, andaikan saja kamu di sini, kamu pasti menemani dan menenangkan aku,” curhat Luppy.

Air mata makin mengalir saat kuucapkan kata-kata itu. Betapa aku merindukan dirinya, saat dia tidak bisa menemani lagi. Aku hanya bisa mengenang, andai saja kecelakaan itu tidak terjadi, pasti lah tidak sesedih ini.

Tiada terasa, malam kian larut dan udara semakin dingin. Aku tertidur pulas bersama boneka di pelukan, hingga mentari bangkit dari peraduannya. Sungguh, aku terkejut ketika dibangunkan Bunda.  Terlebih karena abang Bany sudah menungguku, untuk mengantar ke sekolah.

“Dek, kamu kenapa? Kok, matanya bengkak?” tanya abang Bany.

“Kangen sama Ryan,” sahutku polos.

Aku langsung memeluk abang Bany dan menangis lagi di bahunya. Aku pun mulai tenang, saat dia mengusapkan tangannya di pundakku. Kemudian, tanpa banyak bicara aku segera berkemas.

*******

Aku melewati koridor-koridor sekolah menuju kelas. Sesampainya di ruang X11 IPA 1, aku langsung duduk dan mengikuti pelajaran.

Entah mengapa, mataku tertuju ke lapangan basket. Sejenak kenangan lama muncul, saat Ryan dan teman-temannya bermain di lapangan itu.

“Woy, pagi-pagi udah bengong aja, lo! Kenapa, sih, Lup?” tanya Adit.

Gue kangen sama Ryan, Dit,” sahutku lirih, dengan air mata kembali tergenang.

Adit terdiam. Mungkin, karena dia mengerti.

“Sabar, ya, Lup, Gue juga ngerasain, kok, yang elo rasain. Gue juga kehilangan dia, Lup. Gue kangen sama bercandanya, dia paling sabar di antara temen-temen. Salut gue sama dia. ”

Aku hanya bisa menangis dan menangis. Walaupun Adit sudah mencoba menghiburku, tapi, air mataini tak berhenti. Betapa aku merindukanmu, Ryan.

“Sudah, jangan nangis lagi. Gue nggak mau ngeliat temen menangis terus,” pinta Adit.

“Iya, Dit, makasih, ya.” Dengan tersendat-sendat aku menjawab.

“Iya, Lup, Elo kan temen gue. Jadi yang elo rasain, pasti gue juga rasain, Lup,” jawab Adit.

Luppy mulai tersenyum.

“O ya, Lup. Gimana hubungan elo sama si Ashraf?” tanya Adit.

Aku pun menceritakan yang terjadi dengan aku dan Ashraf. Adit terkejut saat tahu ‘keanehan’ hubunganku dengan Ashraf.

“Kok, tega, ya, Ashraf. Bisa nggak nganggap elo sebagai pacarnya? Kayaknya kalau gue liat, dia baik sama elo, Lup,” tukas Adit.

“Entahlah, kenapa dia bisa berubah kayak gini sama gue. Padahal, gue rela berkorban buat dia. Tapi, dia ngebalas ini semua dengan nyakitin gue, Dit,” jawabku.

Kuperhatikan wajah Adit. Dia mulai tidak suka dengan kelakuan Ashraf, yang menyia-nyiakan diriku begitu saja. Aku lihat tangannya mengepal keras, seolah ingin menonjok Ashraf yang membuatnya kesal.

Waktu berlalu tak terasa, bel pergantian pelajaran pun berdentang keras. Ketika pelajaran kembali dimulai, aku mencoba serius, Berkonsentasi sambil memperhatikan Bu Rossa yang mengajar Biologi. Tetapi tetap saja otakku tak kompromi, rekaman kejadian bersama Ryan dan Ashraf terus mengganggu hingga pelajaran selesai begitu saja.

*******

Saat jam istirahat, aku mengobrol dan makan bersama Adit, Silvi, Niken, dan Ray. Aku sedikit tertawa, saat Ray memperagakan gaya-gaya bencong yang sering kami ganggu. Ray.. Ray.. Elo lucu banget, sih. Makasih, ya kawan, sudah mampu membuatku kembali tersenyum.

Betapa senangnya mempunyai teman-teman seperti mereka, yang bisa menghibur kala orang yang aku sayangi menyakiti hati. Sungguh, kalian sangat mengerti dengan keadaanku.

Di tengah canda-ria dengan teman-teman, tiba-tiba handphone-ku berbunyi. Aku lihat nama yang tertera pada layar, ternyata Ashraf. Ingin rasanya tidak menjawab, tapi jariku terlanjur memencet tombol hijau secara otomatis.

Ya, Tuhan.. Mengapa aku selalu serba salah di mata dia? Padahal aku sudah melakukan semua yang dia mau. Sungguh, aku tidak ingin merasakan kehilangan lagi untuk yang kedua kalinya.

“Hallo..” Mau tak mau kusahuti panggilannya.

“Kamu lagi dimana?” tanya Ashraf.

“Aku lagi di kantin, sama teman-teman,” jawabku.

Ngapain di kantin? Bukannya di kelas saja? Kok, malah main-main di kantin. Anak sekolah tujuannya belajar, tidak ada main-main. Balik sana ke kelas,” perintah Ashraf kasar.

Hatiku tidak kuat menerima ucapan kasar Ashraf. Dengan sengaja telepon kumatikan dan tanpa sadar terisak. Adit yang melihat aku menangis, langsung mengambil handphone-ku. Ternyata dia menelepon Ashraf kembali –bahkan distel dengan suara dari speaker— dan memakinya.

Eh, elo apain temen gue? Kok, dia nangis?” tanya Adit dengan nada keras.

Gue nggak ngapa-ngapain temen, lo. Dianya aja yang bikin gue kesel. Sudah tahu lagi di sekolah, pake main-main di kantin ” sahutnya.

Adit naik darah, “Eh, dia tuh lagi makan sama gue dan temen-temen lain. Wajar, dong, lagi istirahat kita ngobrol. Elo, tuh, ya, bener-bener nggak punya hati dan perasaan. Udah, deh, mendingan elo putus aja sama Luppy. Nggak tega gue, ngeliat dia nangis melulu.”

Seusai bicara, Adit langsung menutup telepon.

Air mataku makin menderas, meski di depan teman-teman yang tadinya lagi bercanda. Kini mereka membujuk untuk meredakan tangisanku. Perasaanku sakit sekali. Apalagi sampai Adit meminta Ashraf memutuskan hubungan. Mungkin ini memang jalan yang terbaik buatku dan Ashraf.

Selang beberapa menit, aku baru dapat mengendalikan diri. Kami pun kembali ke kelas. (Bersambung)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: