Skip to content

Fatamorgana Rasa

by pada 30 Juni 2013

Oleh Ashma Mardhiyatu Musyaffa

(hidrogenalfa.blogspot.com)

(hidrogenalfa.blogspot.com)

Diam dan Meledak!

Malam ini,
Pilu semua pilu, inilah menunggu
Bernafas saja membuatku begitu pilu, begitu menyedihkan

Untuk Engkau yang mencipta, pemilik tahta, maha dari segala maha
Hilangkan sakit ini,
Hilangkan, tanpa ada sisa, tanpa rasa, serasa anta

Biarkan semuanya menghilang,
Tenggelam tanpa menimbulkan riakan
Agar aku tidak merasakan apa-apa,
Agar aku mati rasa, sampai benar tak terasa
Hempasan ombak pun tidak

Cukup untuk rasa sakitnya, cukup
Aku muak, ingin melesat meninggalkan
Aku ingin hidupku yang dulu

Walau hanya harap dan angan omong kosong
Tapi aku ingin.. Setidaknya ..
Yang ada hanya senyuman,
Aku mau, walau hanya sampul depan dan sesimpul senyum memaksa
Bisakah? Aku mohon, aku terlalu rapuh untuk ini

Dan aku terlalu berharga
Jikalau hanya untuk menghabiskan waktu dengan menunggu
Malam ini begitu dingin,
Dinginnya menembus hingga ke sum-sum
Entah apa penyebabnya,

Aku yakin karena rasa sakit ini
Pilu yang begitu mendesak, melesak dan tengah menyeruak
Aku ingin menangis, tidak!

Toh aku sudah menangis sedari tadi
Sejak sebelum kuraih tuts-tuts keyboard di hadapanku

Norak? Berlebihan? Tidak nyata?
Masa bodo! Anda tidak merasa yang tidak nyata!
Karena ini terlalu nyata untuk tak dirasa, klise? Yah, memang

Casanova? Apalagi..
Sadarlah, Anda saja yang hanya jadi bayangan dan memaki tak berarti
Hanya tampak seperti sampah yang terbawa riakan ombak
Laut menolak apalagi daratan, mati saja!

Hahaha

(cynthiavenikalioe.com)

(cynthiavenikalioe.com)

Jangan begini, aku juga ingin terlelap
Bersama dengan mimpi, menjadi peri atau bidadari

Tawa, isak, tawa lagi, isak lagi..
Aku itu lelah, tau?

Menangis atau tertawa, apa sajalah itu namanya
Mau sebut airmata atau rona tawa
Yang jelas aku lelah

Jangan tanya, jangan
Aku bilang jangan

Aku le…lah!
Apa sudah cukup jelas?
Bagus..

Jangan menatap, mengolok, menyudutkan
Tatapan itu juga membuat aku lelah

Hahaha, khayal, aku berkhayal
Semuanya semakin tampak
Yang tadi itu fatamorgana
Ake tertipu..Bodohnya…

Siapa yang tanya? Siapa juga yang menatap?
Harusnya sadar, itu sudah lalu
Tak akan kembali, tak akan terjadi

Dasar!
Hanya mengharap pada yang semu
Tidak lebih baik dari pada bayangan
Bayang hitam tak bernyawa

Dan, itu aku..

From → Puisi

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: