Skip to content

Mini Novelet: Bahasa Kertas Bisu (1)

by pada 5 Juli 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(www.rangkaianbungasurabaya.com)

(www.rangkaianbungasurabaya.com)

Oleh Naomi Sitorus

Airin terlihat begitu ceria. Sepagi ini telah berpakaian seragam rapi dan duduk manis di meja, sebelum Papa dan Mamanya masuk ke ruang makan. Bahkan, ia sempat ingin membantu mbok Iyem menyiapkan sarapan pagi. “Sudah non Ayie duduk aja, biar mbok Yem yang beresin mejanya,” kata mbok Iyem saat Airin membantu membawakan piring-piring dari dapur. “Gak apa-apa, mbok. Kalau aku masih bisa bantu, kenapa nggak?” sahut Airin, sambil tersenyum ke arah mbok Iyem.

Mbok Iyem –pengasuh yang kini berusia 55 tahun, sudah bekerja dan mendampinginya sejak ia masih di kandungan– hanya tersenyum melihat kelakuan anak tunggal majikannya itu. Sementara Papa dan Mama Airin memiliki kesibukan yang sama. Pergi pagi dan pulang malam, sehingga Airin jadi lebih dekat dengan mbok Iyem.

*******

“Pagi, Ma,” sapa Airin riang, saat  Mama masuk ke ruang makan.

“Pagi, Ayie,” jawab Mamanya, sambil membawa tas dan beberapa berkas di tangannya.

“Pagi, Papa,” sapa Airin, saat Papanya masuk ke ruang makan dengan tas kerja dan tumpukan berkas yang lebih banyak dari Mamanya tadi.

“Pagi, sayang,” jawab Papa Airin, sambil mencium kening anak semata wayangnya itu.

“Pa, Ma, besok final kompetisi puisi antar SMA. Kalau aku menang, akan masuk ke tahap antar propinsi lho,” cerita Airin dengan penuh semangat.

“Pasti kamu menang, anak Mama kan pinter,” kata Mamanya sambil melempar senyum, tapi langsung kembali sibuk dengan handphone-nya.

Airin mengalihkan pandangan ke Papanya, yang terlihat serius dengan laptop di hadapannya.

“Pa, dengerin cerita Ayie gak, sih?” tanya Airin ke Papanya.

Denger, sayang. Anak Papa yang cantik dan pinter ini, pasti lulus sampai menjadi juara” kata Papa Airin, tapi tetap fokus ke laptopnnya.

“Hmm.. Besok Papa dan Mama datang kan ke acaraku?” tanya Airin melihat ke kedua orang tuanya.

“Aduh, Mama besok ada rapat ke puncak, sayang,” jawab Mamanya.

“Yaaah, ayo dong, Ma. Biar Ayie tambah semangat. Lagipula orangtua teman Ayie yang lain, juga pada datang, kok,” kata Airin sambil merengek.

“Mama ada rapat, Yie. Kamu ngerti kan?” jawab Mamanya lagi.

“Cuma sebentar aja, kok, Ma. Kasih dukungan waktu aku maju, sebentar aja,” rengek Airin lagi.

“Ayie, kamu, tuh, udah besar ya. Jangan kayak anak-anak lagi, merengek-rengek begitu,” kata Mamanya dengan nada kesal.

Emangnya salah, ya, Ma, kalo Ayie minta Mama datang buat liat penampilan Ayie? Selama ini ada acara orangtua di sekolah, Mama juga gak pernah datang. Bahkan, ambil raport pun harus mbok Iyem. Mosok cuma luangin sedikit waktu buat liat aku lomba aja, Mama gak mau, sih?” berondong Airin mulai emosi.

“Kamu ini mulai berani bantah Mama? Kamu kira Mama pergi pagi pulang malam buat senang-senang? Buang-buang uang? Mama tuh kerja cari uang, buat kebutuhan kamu!” tukas Mama Ayie dengan nada benar-benar marah.

“Cari uang? Bisa, gak, sih, Ma.. Mama di rumah aja, ngurus rumah dan Ayie? Biar Papa aja yang cari uang? Ayie gak butuh ke sekolah pake supir. Ayie gak butuh sekolah di sekolah mahal. Ayie butuh Mama, saat Ayie udah capek di sekolah, cerita kejadian-kejadian dan hal-hal lain.. Seperti keluarga normal lain lakuin! Bisa, gak, Ma?” sahut Airin dengan air mata berlinang karena emosi.

“AIRIN!!” bentak Mamanya.

Tetapi Airin langsung berdiri, mengambil tas dan berlari masuk ke dalam mobil. Sambil terisak, ia meminta Pak Asep –supirnya yang setia– untuk menjalankan mobil.

*******

Tangis Airin meledak di mobil. Pak Asep hanya memandang iba ke arah anak majikannya. Ia tahu, betapa kesepian majikan kecilnya itu.

“Sabar, Non.. Mungkin Mama Non memang sedang sibuk, gak bisa dipaksakan,” hibur Pak Asep berusaha menenangkan Airin.

“Dari dulu Mama gak pernah punya waktu. Masih lebih tau mbok Iyem, prestasi yang udah aku dapat. Mama tau apa? Cuma tau aku pergi sekolah dan waktu Mama pulang aku udah di rumah,”  curhat Airin di sela tangisnya.

“Apa Mama gak bangga liat aku, 4 semester terus menerus jadi juara kelas? Bahkan Andi, temen sekelasku, yang gak dapat peringkat di kelas, tapi dapat nilai Sejarah 8, Mamanya sibuk pamer di sekolah,” jerit Airin dengan penuh emosi.

“Coba bapak liat Mama, apa Mama pernah tau ada angka berapa aja di raportku selama ini? Mama cuma tau aku juara kelas, terus kasih hadiah. Aku gak butuh hadiah, aku butuh Mama ada di setiap kegiatanku!” Ayi pun memuntahkan kekesalannya.

Pak Asep terdiam melihat luapan emosi Airin, karena bukan pertama kali ia mengeluh tentang kesibukan Mamanya. Tapi baru kali ini Airin terlihat begitu terluka.

Udah mau nyampe, Non. Dihapus dulu air matanya,” ujar Pak Asep seraya memberi tisu.

“Ayiiiiii,” teriak Anya, teman sebangku dan juga sahabat Airin.

Gimana persiapan buat besok? Udah siap, kan?” tanya Anya antusias.

Gak tau, Nya. Kayaknya besok gue gak akan lolos, deh,” jawab Ayie lesu.

Kenapa? Gue udah liat naskah puisi, lo. Elo pasti menang, deh,” Anya memberi semangat.

Airin hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepala, memberi isyarat kalau ia sendiri tak yakin dengan dirinya. Anya hanya diam, melihat Airin yang sepanjang hari tak bersemangat.

*******

Pulang sekolah Rico, pacar Airin, sudah menunggu di depan kelasnya.

“Hey sayang, gimana besok? Pasti siap, kan,” tanya Rico dengan wajah penuh senyum.

Airin hanya diam, lalu tiba-tiba berlari sambil menangis. Rico melihat ke arah Anya, yang hanya menggelengkan kepala sambil memberi isyarat untuk mengejar Airin. Rico pun tersadar, segera mengejar Airin yang berlari ke arah parkiran.

“Yie, tunggu aku,” panggil Rico.

Airin tak menghiraukan panggilan pacarnya, tapi tak lama kemudian Rico berhasil menyusulnya dan menarik tangan Airin.

“Kamu kenapa, sih, Yie?” tanya Rico.

“Aku gak siap buat besok. Untuk kesekian kalinya, Mama dan Papaku gak hadir di acara penting buat aku. Mereka gak peduli” kata Airin dengan tangis yang meledak.

Rico tersenyum melihat pacarnya itu,

“Siapa bilang gak peduli? Aku yakin mereka peduli, tapi mereka punya kewajiban yang harus dikerjain. Lagi pula kan ada aku dan Anya, yang akan jadi suporter kamu paling heboh. Atau aku jemput mbok Iyem juga, biar lebih rame,” ledek Rico sambil tersenyum.

Airin pun tersenyum dan menghapus airmatanya.

“Ya, udah. Aku antar kamu pulang, yah,” ajak Rico.

Saat mobil Rico hampir sampai di depan rumah, handphone Airin berbunyi tanda pesan masuk. Tiba-tiba Airin teriak dan lompat dari tempatnya duduk.

Kenapa, Yie? Kaget, aku,” tanya Rico, sambil menoleh ke Airin.

“Papa sms aku, Co! Nih, baca,” sahut Airin dan menyodorkan handphonenya menunjukkan sms dari Papanya “Ayie, besok papa akan datang ke acaramu. Dan kamu harus juara, untuk membayar waktu Papa. Oke, sayang :-) love you.”

Rico tersenyum melihat kelakuan pacarnya. Tak lama kemudian mereka sampai di rumah Airin.

“Aku langsung ya, Yie. Mau ke bengkel dulu, nih,” pamit Rico.

“Okey, kamu hati-hati, ya” balas Airin.

Saat ia mau turun dari mobil, Rico menarik tangannya.

“Besok kamu harus menang, ya. Harus lolos ke tahap selanjutnya. Buat Papa kamu, Mama kamu, dan juga.. kado 8 bulan jadian kita,” harap Rico lembut.

“Oh iya, lusa kita udah 8 bulan. Pasti, deh! Buat Papa, Mama dan kamu,” janji Airin tersenyum lebar.

“Kamu mau hadiah apa, Yie?” tanya Rico.

“Hmm..” Airin menggaruk dagunya, seakan ia tengah berfikir sangat keras.

“Bunga! Bunga yang banyaaaak banget,” pekik Airin sambil mencium pipi Rico, lalu tertawa centil dan turun dari mobil.

Ia melambaikan tangan dan masuk ke dalam rumah. Rico terdiam sejenak, memegangi pipinya karena dikuasai rasa kaget akibat aksi Airin tadi,

Bunga? Tanya Rico dalam hati. Airin yang sudah 8 bulan menjadi kekasihnya adalah sosok ceria yang pemalu, dan jarang bermanja-manja dengan dirinya. Beda sekali kelakuannya tadi..

Akhirnya Rico mampu kembali menguasai dirinya. Tersenyum dan menjalankan mobilnya. (Bersambung)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: