Skip to content

Mini Novelet: Bahasa Kertas Bisu (2)

by pada 6 Juli 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian kedua dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

Oleh Naomi Sitorus

(www.youtube.com)

(www.youtube.com)

Pagi-pagi sekali Airin sudah bangun dan bersiap ke sekolah. “Kok, pagi banget, Yie?” tanya mbok Iyem, saat melihat Airin sudah siap dengan seragam jam 6 pagi. “Ya, nanti acaranya jam 9. Jadi, harus persiapan dulu di sekolah, mbok. Doain aku, ya, mbok,” sahut Airin sambil berlari ke arah mobil. Mbok Iyem hanya terkekeh melihat kelakuan Airin. “Ayo, pak, kita jalan!” perintah Airin ke Pak Asep yang sudah menunggu di depan rumah.

Sesampainya di gedung kesenian,  Airin langsung bergabung ke kelompok dari sekolahnya. Terlihat banyak anak-anak dengan bermacam-macam seragam.

Gue harus menang. Buat Papa, Mama dan Rico. Begitu tekad Airin pada dirinya sendiri. Airin mengambil handphone dan mengirim sms untuk Papanya, “Pa, jangan sampe telat ya. Aku tampil jam 10. Di gedung kesenian lantai 2”

Seusainya, Airin menyimpan handphone-nya dan kembali bergabung dengan teman-temannya sambil mempersiapkan diri untuk tampil.

Tepat jam 9 pagi, acara kesenian antar SMA se Jakarta dimulai. Airin melihat Rico dan Anya duduk di bagian tengah, sambil tak lupa menyimak satu persatu penampilan peserta dari sekolah lain.

Airin mulai merasa tegang, karena inilah pertama kalinya Papa Airin akan datang menyaksikan penampilannya. Setengah jam berlalu, Papanya masih belum juga terlihat.

Mungkin macet, sebentar lagi Papa pasti datang. Pikirnya menghibur diri sendiri. Lalu ia pun kembali membaca naskah puisi yang akan dibawakan nanti.

*******

Tanpa terasa, penampilan peserta terakhir sebelum Airin mulai membacakan puisinya. Guru guru sudah menyuruh Airin bersiap ke belakang panggung. Saat peserta terakhir hampir selesai, handphone Airin bergetar. “Ayie, Papa lupa hari ini acara kamu. Sms kamu baru sampe, Papa ga bisa kesana.ada meeting mendadak. Sukses, ya, sayang,

Airin memandang sms itu beberapa saat, namun tiba-tiba panitia menarik Airin dan menyuruhnya naik ke atas panggung. Airin menitipkan handphone-nya dan berjalan ke atas panggung seraya merenung.

Lupa? Segampang itu, ya, lupa sama gue? Ini penting buat gue, tapi segampang itu Papa melupakan.. Batin Airin berkecamuk. Saat naik ke atas panggung, hatinya terasa hancur. Tatapannya kosong.

Ia melihat ke arah Rico dan Anya. Anya terlihat sangat antusias, berbeda dengan Rico yang mulai sadar ada yang aneh dari tatapan Airin. Rico memutar pandangannya, mencoba mencari Papa Airin. Tapi nihil. Ia kembali memaandang Airin dan memberikan senyuman kecil untuk menenangkan hati kekasihnya.

*******

Di atas panggung, Airin diam beberapa saat. Ia melihat naskah puisi di tangannya, lalu menutupnya. Mendadak suasana di ruangan hening. Ingin rasanya ia berlari dari atas panggung, tapi segera ditepisnya. Ia pun mendekatkan diri ke mikrofon.

Ketika mentari pagi menyapa
Harapan datang dan pergi
Inginku melukis hari dengan sejuta warna
Menanti harapan dengan mimpi yang tergantung tinggi
Aku disini sendiri menatap sepi
Menunggu mereka yang kukasihi

Kemana kah aku harus mencari?
Lelahku di sini menanti mimpi sendiri
Salah kah aku yang ingin pergi
Salah kah aku yang lelah untuk sendiri

Biarkan aku berlari bersama sepi
Biarkan aku menyatu dengan bias cahaya mentari
Biarkan aku menjadi cahaya yang dunia cari

Mungkin di sana, aku bisa berarti
Mungkin di sana, tak ada rasa sepi
Karena di sana, aku dan sepi saling melengkapi

Seraya melangkah menuruni panggung, Airin tak bisa menahan air matanya lagi. Ia berlari menangis ke luar gedung kesenian. Rico yang melihat Airin berlari langsung mengejarnya.

“Ayie!!” panggilnya.

Tapi, Airin terus berlari. Sebenarnya ia mendengar teriakan Rico, tapi ia tak ingin menghentikan langkahnya. Airin tahu, Rico selalu menenangkan hatinya, menghiburnya dan membuat lupa akan kesedihannya. Tapi menurut Airin, sebenarnya Rico malah menenggelamkannya semakin jauh di dalam kekecewaan dan sepi, karena rasa rindu pada perhatian kedua orang tuanya.

Ia terus berlari tanpa tujuan ke luar jalan dan tiba-tiba, “AYIIII..!!” teriakan Rico terdengar bersamaan dengan suara klakson truk yang melaju cepat dari perempatan jalan. Lalu, semuanya terasa dingin dan gelap.

Dengan susah payah, Airin membuka kedua matanya.Iia melihat Rico datang dan menggenggam tangannya, menangis dan memeluknya. Namun dalam sekejap, semuanya terasa dingin dan gelap. Bahkan pelukan Rico yang selama ini terasa begitu hangat dan menenangkannya, tak dapat menyingkirkan dingin yang seolah membekukannya.

********

Di rumah sakit..

Kenapa bisa begini, Co?” sembur Mama Airin, begitu melihat Rico yang berdiri di depan ICU.

“Maaf, Tante. Tapi Airin kecewa, karena Om dan Tante gak jadi datang ke acara tadi. Begitu turun panggung, Ayie lari keluar. Aku sudah nyoba ngejar dan panggil dia, tapi tiba-tiba aja..” Rico tak dapat menyelesaikan kata-katanya.

Papa Airin memandang lesu ke dalam ruangan tempat Airin berbaring.

“Saya yang salah. Saya janji akan datang, tapi tiba-tiba membatalkannya,” sahut Papa Airin lirih, dengan tatapan kosong. Air matanya jatuh begitu saja.

“Sekali lagi maaf, Om dan Tante. Bukan bermaksud lancang, tetapi ini bukan pertama kalinya Airin merasa kecewa karena kurangnya perhatian dari Om dan Tante,” tambah Rico.

Tangisan Mama Airin terdengar semakin keras. Ia tak dapat menguasai diri atas kesedihan dan penyesalan yang begitu mendalam. Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang ICU.

Gimana, Dok, keadaan anak saya?” tanya Papa Airin dengan cepat.

“Maaf, pak..” Dokter tersebut berusaha mencari kata yang tepat untuk menjelaskan, “Tapi pasien kehilangan banyak darah dan kepalanya terbentur sangat keras. Kalau dia sadar nanti, mungkin akan mengalami kebutaan. Dan satu lagi, tulang kakinya pun terbentur keras. Kemungkinan ia akan lumpuh” jawab Dokter menjelaskan keadaan Airin.

“Dok, tolong anak saya.. Usahakan yang terbaik buat anak saya, Dok,” mohon Papa Airin menahan tangis. Terdengar seperti orang yang sedang merengek.

“Saya berusaha melakukan yang terbaik. Kita berdoa saja, supaya hal-hal buruk tidak terjadi,” jawab Dokter sambil menepuk pundak Papa Airin. (Bersambung)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: