Skip to content

Mini Novelet: Bahasa Kertas Bisu (3)

by pada 7 Juli 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(atjehpost.com)

(atjehpost.com)

Oleh Naomi Sitorus

Papa dan Mama Airin masuk ke ruang ICU menemui anak semata wayangnya itu. Tangisan Mama Airin kembali meledak, saat melihat putrinya yang tak berdaya dibantu berbagai mesin yang melekat di tubuh kecilnya.

“Maafkan, Mama, nak. Mama yang salah” gumam Mama Airin, sambil mencium kening putrinya.

Tiba-tiba mata Airin terbuka secara perlahan, “Ma..ma..  ke..na..pa.. na..ngis? Ja…ja..ngan.. na..ngis.. Ma,” kata Airin terbata-bata, di balik selang oksigen yang menutup mulut dan hidungnya.

“Pa, Ayie bangun.. Panggil Dokter!” jerit Mama Airin begitu melihat reaksi Airin.

Papa Airin berlari keluar memanggil Dokter, yang langsung masuk dan memeriksa keadaan Airin. Papa dan Mama Airin kembali menunggu di luar bersama Rico. Beberapa saat kemudian Dokter keluar.

“Bagaimana anak saya, Dok?” tanya Papa Airin yang melihat Dokter yang berjalan ke arahnya.

“Ini keajaiban, Pak. Kondisinya membaik, meski belum stabil semuanya. Tubuhnya sudah memberikan banyak respon. Kita harus tetap banyak berdoa, pak. Airin sudah boleh dipindahkan ke kamar perawatan. Namun, ia tetap membutuhkan dukungan dari kita,” jelas Dokter sambil tersenyum.

Mama Airin menjerit bersyukur dan memeluk Rico. “Ayie pasti sembuh, ya, Tante. Ayie kan kuat,” ujar Rico sambil memeluk Mama kekasihnya.

Mama dan Papa Airin serta Rico menginap di rumah sakit, menemani Airin. Waktu menunjukan hampir tengah malam. Mama dan Papa Airin yang terlihat sangat lelah, telah tertidur di sofa. Sedang Rico duduk di samping Airin, sedih menatap perempuan bertubuh mungil yang selama 8 bulan ini selalu ada di sisinya.

*******

“Ayie.. Aku tau, kamu kuat. Aku tau, kamu pasti sembuh” bisik Rico.

Tak ada reaksi apa-apa dari Airin. Air mata Rico menitik, jatuh tepat mengenai tangan Airin yang digenggam olehnya.

“Aku bisa tegar di depan semua orang. Di depan Mama Papa kamu, Dokter, dan para suster. Tapi sebenernya hatiku takut banget. Aku mohon kamu berjuang, ya, sayang. Aku butuh kamu, Mama Papa kamu juga butuh kamu. Perjalanan kamu masih panjang, Yie. Perjalanan kita masih panjang” kata Rico sambil menangis dan mencium tangan Airin.

Tiba-tiba tangan Airin bergerak. Rico langsung menyeka air matanya, saat sadar Airin terbangun.

“Kamu kenapa nangis, Co?” tanya Airin lirih.

“Aku gak nangis, kok, sayang. Sst.. Kamu jangan banyak ngomong dulu. Istirahat, ya,” sahut Rico seraya memaksakan diri tersenyum.

Airin ikut tersenyum, tipis. Lalu, memejamkan matanya. Tak lama kemudian, Airin kembali membuka matanya.

“Kalau kamu senang, aku juga ikut senang. Jadi, kamu harus bahagia, supaya aku ikut bahagia. Janji, ya,” tukas Airin seolah memohon, lalu kembali menutup matanya.

Rico berusaha tetap tersenyum, agar tak membuat khawatir pacarnya yang masih lemah. Ia lalu mencium genggaman tangan Airin. Tapi Rico langsung tersentak, Airin tidak menggenggam tangannya lagi. Padahal baru beberapa saat yang lalu ia membuka matanya.

“Yie.. Ayie, kamu denger aku, kan?” bisik Rico. Tapi tak ada tanggapan dari Airin.

“Ayie.. Ayie, bangun sebentar” ulang Rico dengan suara lebih keras. Airin masih tanpa reaksi.

“AYIE.. AYIII..” teriak Rico, hingga membangunkan Mama dan Papa Airin.

Kenapa, Co?” tanya Papa Airin, sambil berjalan menghampiri Airin.

Rico tak menjawab, sibuk membangunkan Airin. Papa Airin segera sadar yang terjadi, langsung berlari memanggil Dokter jaga.

Dokter meminta semua yang ada di ruangan untuk keluar. Rico dan Papa Mama Airin menunggu dengan cemas di luar kamar, sampai Dokter keluar. Rico yang ada di depan pintu, langsung menanyakan keadaan Airin.

“Manusia hanya bisa berencana, tapi tetap Tuhan yang berkehendak,” jawab Dokter sambil memandang penuh arti pada Rico dan Papa Mama Airin secara bergantian.

Mama Airin langsung pingsan mendengar jawaban Dokter. Rico berlari ke dalam kamar dan mendapatkan para suster mulai melepaskan semua mesin bantu dari tubuh Airin. Rico berjalan mendekati tempat tidur Airin, sangat perlahan dan tanpa terasa air matanya mengalir. Sesampai di samping tubuh Airin, ia meraih tangannya dan menangis  sejadi-jadinya.

*******

Keesokan sorenya Airin dimakamkan. Terdengar jerit tangis dari orang-orang terdekatnya, Papa, Mama, mbok Iyem, pak Asep, Anya, dan teman-teman lainnya. Rico hanya terdiam, memandang peti yang mulai ditutup tanah.

Rico tak tahu saat Anya mendekat, dan memperlihatkan handphone-nya. Ada SMS dari Panitia Lomba, yang mengabarkan Airin menjadi juara. Rico hanya tersenyum dan kembali menatap makam Airin.

Semua teman bergantian menabur bunga di atas makam Airin. Rico yang terakhir, mendekat tepat di samping nisan dan menyandarkan rangkaian bunga di atasnya.

“Hadiah 8 bulan jadian kita, udah aku terima darimu. Barusan Panitia mengabarkan, kamu lah juaranya. Ini aku bawakan bunga seperti yang kamu pinta, sebagai hadiahku. Aku sayang kamu, Yie. Kamu tenang, ya, di sana. Aku janji, akan bahagia supaya kamu ikut bahagia,” bisik Rico di sela isaknya.

“Aku janji, ini air mata kesedihan terakhirku karenamu. Setelahnya, aku janji akan selalu membahagiakanmu. Hanya buat kamu,” bisik Rico lagi, sambil menyeka air matanya dan berusaha tersenyum.

*******

Seusai acara pemakaman, Anya mendekati kedua orangtua Airin. Dalam isak yang tertahan, ia memberikan buku putih berjudul ‘Bahasa-bahasa Kertas’.

“Ini buku harian, sekaligus kumpulan puisi Ayie. Mungkin Om dan Tante yang pantas menyimpannya,” kata Anya.

Mama dan Papa Airin sempat terkejut, tapi langsung bergegas masuk ke mobil. Mereka tak sabar ingin mengetahui isi buku harian anaknya.

Perlahan Mama Airin membuka halaman demi halaman, menyimak dengan airmata yang mengalir. Di halaman terakhir, ia tak kuat menahan tangisnya.

Sambil merengkuh kepala istrinya untuk menenangkan, Papa Airin mengambil buku yang kini telah basah air mata. Ia melihat ada foto dirinya, istrinya serta Airin beberapa tahun lalu yang terselip di halaman tersebut. Ditatapnya seksama dan segera saja berbagai kenangan melintas dalam benaknya.

Meski masih hanyut dalam kenangan masing-masing, mereka berdua kembali melihat tulisan di halaman terakhir itu. Lantas saling pandang, mengangguk  dan membaca puisi terakhir di buku harian anaknya dengan tersendat.

Kertas kertas lusuh yang bisu
Hanya padamu, aku dapat mengadu
Aku rindu
Aku sepi
Aku mencintai
Aku ingin mereka di sini

Kertas-kertas lusuh yang bisu
Aku mempunyai mulut, tapi tak bisa mengungkapkan
Aku mempunyai tangan, tapi tak bisa memeluk
Mungkin nanti

Bila tangan ini tak dapat meraih
Dan mulut ini tak dapat bicara
Kau dapat mengatakan pada mereka
Betapa aku menyayangi dan merindukan mereka
Dengan bahasamu
Dalam kebisuanmu

(Selesai)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: