Skip to content

(Masih) Bobroknya Pendidikan di Indonesia

by pada 11 Juli 2013
(hilmykhoiri.wordpress.com)

(hilmykhoiri.wordpress.com)

Oleh Herti Annisa

Indonesia kembali dihadapkan dengan ketidakmampuan pemerintah menangani masalah pendidikan. Belum reda ingatan kita tentang sekolah rusak di beberapa daerah, Indonesia harus menelan pil pahit akan berantakannya Ujian Nasional yang terasa amburadul.

Ujian Nasional memang sudah selesai hampir satu bulan yang lalu, tapi ingatan tentang ketidakbecusan pemerintah menjadikan warga Indonesia berpendidikan seolah tidak pernah hilang. UN sebagai ujian penentu lulus atau tidaknya siswa, ternyata menjadi hal yang membuktikan atas buruknya kualitas penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Sebelas provinsi di Indonesia harus menunda UN karena soal belum diterima.

Anggota Komisi X DPR-Fraksi PDI-P, Itet Tridjajati Sumarijanto, berpendapat bahwa kekacauan pelaksanaan UN 2013 merupakan imbas dari sistem pendidikan nasional yang tidak terimplementasi dengan baik. Apalagi, kekacauan selalu terjadi berulang kali dan tahun 2013 merupakan kekacauan yang terburuk sepanjang sejarah penyelenggaraan UN.

Pelajar Demo

Tidak hanya tentang UN, fasilitas sekolah yang rusak juga menjadi masalah utama. Minimnya bahkan tidak adanya fasilitas di sekolah, ternyata tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Masalah itu seolah tidak ada habisnya, sampai saat ini. Dari wilayah pedesaan sampai ibu kota, dari sekolah biasa hingga sekolah bertaraf internasional.

Pada tahun 2011, ratusan pelajar SMA Negeri 2 Palu, Sulawesi Selatan, melakukan demo di Kantor Wali Kota Palu di Jalan Balai Kota Selatan, Kecamatan Palu Selatan, Sulawesi Tengah, setelah sebelumnya berorasi di halaman sekolah.

Siswa sekolah bertaraf internasional tersebut mengeluhkan ruang belajar panas, WC rusak, dan fasilitas lainnya yang tidak memadai.  Padahal mereka diwajibkan membayar uang sejumlah uang komite sebesar Rp. 200 ribu dan uang pemutuan sebesar Rp4,5 juta yang dibayarkan ketika mendaftar di sekolah tersebut.

Tidak hanya di Palu, siswa SMKN 2 Garut berunjuk rasa pada tahun 2012. Lagi-lagi mengenai fasilitas sekolah yang tidak memadai. Kali ini, mereka melalukan aksi protes dengan cara tutup mulut atau bungkam seribu bahasa. Mereka menanyakan dana sumbangan pembinaan pendidikan serta dana sumbangan pendidikan yang telah mereka bayarkan.

Kejadian cukup memilukan terjadi di Bima, Nusa Tenggara Barat. Siswa sekolah dasar yang seharusnya belum berpikir untuk melakukan aksi demo, mau tidak mau melakukan hal itu dengan menanyikan lagu Bongkar karya Iwan Fals.

Ialah ratusan siswa SDN 07 Kota Bima yang bernyanyi sambil melompat-lompat di depan halaman sekolah. Mereka hendak menuntut para pembesar daerah mengembalikan sekolah mereka. Sebanyak 284 siswa tersebut akhirnya mogok belajar, lantaran rehabilitasi sekolah mereka hingga kini belum dituntaskan.

Dari beberapa cerita di atas, ternyata kisah memilukan tentang buruknya fasilitas pendidikan di Indonesia masih terdengar di tahun 2013. Waktu berlalu, tetapi usaha pemerintah belum membuahkan hasil.

Sebanyak 1.644 ruang kelas yang tersebar di 251 sekolah dasar, baik negeri maupun swasta, naungan Dinas Pendidikan Sumenep perlu direhab karena rusak. Dari 1.644 sekolah yang rusak, sebanyak 753 ruang di antaranya masuk kategori rusak berat, sedangkan  891 ruang masuk kategori rusak ringan dan sedang.

Satu tahun yang lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyodo menginstruksikan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, agar tidak ada lagi gedung dan bangunan sekolah yang rusak pada tahun 2014. Tepatnya pada tanggal 31 Juli 2012, dalam rapat koordinasi yang dipimpin Kepala Negara di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nur memaparkan perkembangan penyelesaian perbaikan gedung dan bangunan sekolah.

Presiden Optimis

Tepat tahun ini,  pemerintah mengajukan kenaikan anggaran belanja lewat RAPBN Perubahan (RAPBN-P) 2013 naik Rp39 triliun menjadi Rp1.722 triliun. Hal ini menyebabkan anggaran pendidikan naik karena harus 20% dari total anggaran. Dikutip dari data RAPBN-P 2013, total anggaran pendidikan pada RAPBN-P 2013 naik menjadi Rp344,4 triliun dari sebelumnya Rp336,8 triliun.

Presiden mengatakan, dirinya optimistis kualitas pendidikan di Indonesia bisa ditingkatkan. Pasalnya, anggaran pendidikan terus bertambah. Kuncinya adalah manajemen yang bagus, penetapan sasaran dan implementasi yang tepat, serta tidak terjadi penyimpangan di simpul mana pun. Tidak hanya itu, presiden pun menekankan bahwa pendidikan di Indonesia harus berkualitas, mudah, dan murah.

Mendengar keoptimisan presiden tentunya kita hanya bisa mengamini. Namun, jika dilihat dari perkembangan berita dari tahun ke tahun, tentunya perasaan pesimis hinggap di benak masyarakat. Terbukti dengan masih adanya kerusakan fasilitas hingga tahun itu, padahal berita memilukan tersebut telah didengar dari tahun sebelumnya, bahkan puluhan tahun sebelumnya.

Tampaknya, penyataan presiden mengenai tidak ada lagi gedung dan bangunan sekolah yang rusak pada tahun 2014 terdengar mustahil. Jangankan bisa merehabilitasi gedung sekolah rusak di pedalaman, di Ibu Kota saja kita masih mendengar bahkan melihat masih banyaknya bangunan dalam keadaan mengenaskan.

Pendidikan merupakan salah satu hal penting bagi kita semua. Oleh karena itu, sudah sepatutnya pemerintah menomorsatukan pendidikan, baik dari segi kurikulum maupun fasilitas, karena pendidikan membentuk karakter moral bangsa ini.

Catatan Redaksi: Tulisan ini dimuat di Berita21.com (http://lipsus.berita21.com/2013/berita-anda/pendidikan-di-indonesia-masih-dibawah-standar.html) pada Senin, 03 Juni 2013 pukul 20.28

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: