Skip to content

Cerpen: A Love of A Tree (2)

by pada 21 Juli 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari Cerpen, yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(octa-service.blogspot.com)

(octa-service.blogspot.com)

Oleh Yasmin Mardiyah

Ah, aku sedang berbuah lagi sekarang. Beberapa waktu yang lalu pun, aku terus berbuah. Semakin banyak setiap kalinya. Peri Kecil dan keluarganya pun terlihat sangat senang.  

Wajarlah, setelah penantian panjang –yang entah berapa tahun– akhirnya aku bisa rutin berbuah. Sekarang aku benar-benar merasa utuh, sebagai sebatang pohon yang mampu menjalankan kodratnya.

Tapi, kegembiraanku bagai tak diindahkan Peri Kecil. Sepertinya ia sedang sibuk akhir-akhir ini, karena jarang sekali terlihat di rumah. Mungkin seragamnya akan berubah sebentar lagi.

Suatu hari, aku mendengar suara Peri Kecil dari dalam rumah. Dia pulang sore sekali. Aku menantinya. Biasanya begitu sampai rumah, dia selalu menyapaku. Melihat perkembangan buah-buahku. Tapi yang kudengar berikutnya adalah suara pintu yang dibanting –pintu kamar Peri Kecil– dan suara isak tangis. Peri Kecil, kau menangis? Kenapa? Apa ada yang menyakitimu?

*******

Keesokan paginya, Peri Kecil keluar rumah menuju pekarangan dengan kepala tertunduk. Tampak lemas, tanpa semangat. Dia berjalan pelan menuju halaman berumput tempatku tinggal. Dia duduk persis di sebelah batangku yang tidak terlalu besar. Tempatnya biasa bersandar. Peri Kecil melayangkan pandangan ke seluruh pekarangan.

Seperti orang sedang bernostalgia, Peri Kecil memerhatikan satu persatu tanaman dengan penuh perasaan, sambil sesekali tersenyum tipis. Mungkin lantaran mengingat kejadian lucu tentang ia dan tanaman-tanamannya. Aku menunggu saat perhatiannya tertuju padaku. Aku penasaran dengan yang terjadi kemarin sore. semoga Peri Kecil mau menjelaskannya.

Saat Peri Kecil memandangku, tatapannya betul-betul sayu. Dia berdiri, mendongakkan kepala, memerhatikan daun yang lebat dan buah-buahku yang mulai ranum. Diangkat tangannya, lalu dielusnya satu-satu daun yang bisa dicapainya. Terakhir, dia memegang tubuhku, batangku, lalu memejamkan mata.

Aku merasakan perasaan hangatnya yang mengalir melalui sentuhan itu. Aku merasakan kasih sayangnya, cintanya. Aku ikut bernostalgia bersamanya. Mengingat-ingat tiap kebersamaan kami. Tak lama kemudian, Peri Kecil menangis. Air matanya mengalir deras. Kumohon Peri Kecil, bicaralah. Ada apa? Tapi, Peri Kecil tidak berkata apa pun dan langsung berlari masuk ke dalam rumah.

*******

Entah sudah berapa lama sejak hari itu. Tak ada yang menjelaskan padaku yang sebenarnya terjadi. Peri Kecil tak pernah lagi mengurusku. Pergi ke pekarangan pun tidak. Hanya Bunda Peri yang masih rutin merawatku. Aku merindukannya.

Suatu hari, rumah Peri Kecil kelihatan ramai sekali. Banyak ssekali orang di sekitar rumah. Sepertinya para tetangga. Beberapa di antaranya tampak keluar-masuk rumah sambil mengangkut barang-barang. Barang-barang itu diangkut ke atas mobil bak terbuka. Dan akhirnya, setelah sekian lama, Peri Kecil datang ke pekarangan.

Dia membantu Bunda Peri memindahkan tanaman yang berada di tanah ke dalam pot, lalu mengangkut semua tanaman-tanaman itu ke atas mobil. Peri Kecil tak melakukan apapun padaku. Tentu saja aku tak akan muat masuk pot mana pun. Tapi, dia benar-benar tidak memerhatikanku.

Apa artinya Peri Kecil? Apa arti keramaian ini? Kau akan pergi? Ke mana? Kenapa? Berbagai pertanyaaan terus berkecambuk dalam benakku. Tak ada yang kumengerti.

Saat tengah memikirkan pertanyaaan-pertanyaan di kepalaku dan meratapi kesedihan yang tak terjelaskan, Peri Kecil mendekatiku. Tangannya mengelus pelan tubuhku, lantas memelukku erat. Terdengar dia berbisik lirih.

 “Seandainya aku bisa membawamu juga. Maaf.. maaf.. maafkan aku. Sungguh.”

Dia terisak dan memetik beberapa buah yang tampaknya sudah matang dengan penuh rasa sayang. Matanya penuh genangan air. Seraya memegang erat buah-buah itu, dia berkata, “Selamat tinggal.”

Peri Kecil pun pergi, tanpa menoleh lagi.

*******

Aku kehilangan konteks akan waktu. Aku tak tahu sudah berapa hari, minggu, bulan, atau pun tahun yang sudah kulewatkan sejak Peri Kecil meninggalkanku. Sekarang, tiap detik pun terasa sangat lama bagiku.

Aku tak lagi perhatian pada sekelilingku. Tak peduli berapa banyaknya orang yang berteduh di bawah daunku. Tak peduli akan lalu lalang kendaraan yang semakin ramai di jalanan depan rumah.

Aku baru memerhatikan hal lain, ketika tiba-tiba saja jalanan depan rumah dilewati beberapa mobil yang sangat besar. Benar-benar besar. Getaran mobilnya ketika lewat saja, sudah membuat banyak daunku berjatuhan. Entah mobil apa, jenis mobil yang baru pertama kali kulihat.

Beberapa orang turun dari mobil-mobil raksasa itu. Orang-orang yang mengenakan topi dan seragam aneh. Mereka masuk ke rumah-rumah sekitar, yang baru kusadari sudah kosong tak berpenghuni juga. Beberapa di antaranya masuk ke rumah ini. Ada apa? Siapa mereka?

Salah satu dari orang-orang itu membawa sebuah benda yang memiliki bagian pipih bergerigi. Tampak tajam dan menyakitkan. Kemudian orang itu menekan sebuah tombol dan benda itu bergetar dengan suara sangat berisik. Bagian yang pipihnya pun berputar cepat. Suara yang dihasilkan benda itu membuat merinding. Nging…nging…

Dan sekarang orang tadi mendekatkan benda menyeramkan itu pada dahanku! Nging…nging… Ah, apa yang kalian lakukan? Kalian menyakitiku! Hentikan! Pergi kalian orang-orang jahat! Bruk! Dahanku jatuh ke tanah begitu saja. Benda itu dapat memotong dengan mudahnya. Tak berhenti sampai di situ, benda tajam itu pun beralih ke dahanku yang lain.

Aku teringat Peri Kecil. Senyum, tawa dan tangisnya. Seperti sebuah film yang diputar kembali, aku mengingat tiap detik kebersamaanku dengan Peri Kecil. Tangannya yang memilihku, tangannya yang menanamku, membelaiku, memelukku.

Ah, apa kau sudah tahu hal ini akan terjadi Peri Kecil? Karena itu kah kau menangis? Karena akan berpisah denganku? Tidak, jangan menangis Peri Kecil. Kumohon. Aku tak ingin kau sedih. Tersenyumlah. Tanamlah lagi pohon-pohon lain, yang bisa menghibur hatimu.

Cerialah. Jika ini memang akhir dari ceritaku, buatlah cerita lagi bersama tanaman-tanaman lainnya. Andai saja Peri Kecil, andai saja aku bisa melihat senyum perimu sekali lagi saja. Kurasa tak akan ada yang kusesali. Andai saja.

Sambil terus membayangkan wajah Peri Kecil dan terus menyenandungkan namanya dalam benakku, benda pipih tajam itu tetap terus berputar. Memotong, membelah dan menghabisi seluruh tubuhku. Argh.. aku sayang padamu Peri Kecil. (Selesai)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: