Skip to content

Mini Novelet: Nikah Siri (1)

by pada 2 Agustus 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(alwialatas.blogspot.com)

(alwialatas.blogspot.com)

Oleh Ratu Nur Inayah

Airmataku mengalir, membaca surat dari sahabatku nun jauh disana. Aku benar- benar tak menyangka. Ya Rabbi, tegarkan ia. Ingin rasanya aku terbang menemuinya, memeluknya sekadar meringankan beban yang ia rasa. Ah sahabatku, malang nian nasibmu, janda tanpa surat. Inilah kisahnya.

Rangkaian alur perjalanan hidup yang indah telah saya lalui. Dari kecil, remaja hingga dewasa, saya diberi karunia oleh Allah memiliki sahabat terbaik seperti kalian (walau saya bukan yang terbaik buat kalian, tapi kalian yang terbaik buat saya). Layaknya air yang telah berliku menuju muara, inilah saya dapati muara saya. Muara yang akan membebaskan saya dari beban lika-likunya dan muara yang akan memberikan kehidupan baru untuk saya. Ini bukan keinginan saya. Namun takdir sudah berkata, saya mampu menjalani ini semua. Mungkin “satu untuk selamanya” bukanlah milik saya. Kini saya telah sendiri teman..

Dia terlalu baik untuk saya, hingga saya tidak mampu mengimbanginya. Sekarang saya berada di posisi paling down dalam hidup saya, lebih buruk dari pernyataan tidak lulus SMA. Dan berharap jiwa dan raga saya bisa kembali tertawa secara bersamaan, bukan tawa yang dilakukan oleh raga saya sendiri.

Kalian teman saya, tolong terima status baru diri. Ini bukan sebuah permainan, tapi kenyataan begitu pahit yang harus saya jalani. Tolong mengerti saya, agar luka hati ini dapat sembuh kembali.

Wasalam,

Wiwi

Saya pun kembali terkenang, mengingat masa-masa kami bersama. Saling berbagi cerita tentang yang dirasa, baik suka maupun duka. Ya, dulu 4 sahabat yang selalu bersama: saya (Raisya), Aufa, Wiwi dan Sari.

Dulu Wiwi pernah dekat dengan seorang munsyid, namanya Rayhan. Namun keluarga Wiwi tidak setuju, karena mereka beranggapan masa depan munsyid tidak terjamin. Ketidaksetujuan pihak keluarga inilah yang kemudian membuat Wiwi mundur teratur dan kemudian mengenalkan Rayhan pada seorang kenalannya yang berasal dari Pontianak.

Akhirnya Rayhan menikahi gadis itu, setelah melewati masa ta’aruf yang cukup dan keduabelah pihak merasa adanya kecocokan. Wiwi pun dengan berbesar hati berangkat ke Pontianak, menghadiri acara pernikahan Rayhan –laki–laki yang ia cintai. Setelah pernikahan itu ternyata Rayhan masih mengharapkan Wiwi, namun sahabatku selalu menghindar.

*******

“Hai, Ray,” ucap Wiwi menyapaku.

Yupz, ada apa Say?.”

“Aku bertunangan,” sahutnya.

“Wow, sama siapa?.”

“Rahman, asli Padang. Sekarang tengah melanjutkan studi di Kairo, Mesir. Aku mengagumi, karena kedalaman ilmunya. Pesona yang dia miliki, mampu membuatku bisa melupakan Rayhan,” tutur Wiwi penuh semangat, dengan mata berbinar-binar.

“Syukurlah kalau begitu. Semoga itu yang terbaik, ya Say.”

“Aaaamiiin Ya Rabb.”

Setelah percakapan itu, lama aku tak bersua dengan Wiwi. Maklum kami beda kabupaten dan sibuk dengan pekerjaan masing–masing. Hingga akhirnya ada undangan pernikahan Riri, salah satu teman kami. Aku pun datang ke acara walimah pernikahan Riri. Di situ aku bertemu Wiwi. Tapi, entah kenapa, hari ini kulihat wajah Wiwi begitu muram. Seolah ada mega hitam yang berarak perlahan di wajahnya. Ada apa gerangan?

“Wi, ada apa? Kok, seolah tak semangat, gitu?”

“Nanti lah aku cerita, Ray. Hari ini kamu jadi kan nginap di rumah Sari?”

Yups, insya Allah,” ucapku.

Belum selesai acara walimah Riri, entah mengapa aku merasa tidak betah. Aku minta diantar ke rumah Sari saja. Di situ aku istirahat bersama Yuni, sedangkan Sari, Aufa dan Wiwi kembali ke walimah Riri.

Malam pun tiba. Kami saling berbagi cerita, sedangkan Sari sibuk SMS-an entah dengan siapa. Sekarang Sari memang sangat jauh berubah, dia lebih sering bergelayut dengan ponselnya ketimbang berkumpul serta berbagi cerita dengan kami seperti dulu.

“Wi, katanya tadi kamu mau cerita? Apa gerangan yang membuatmu muram, hingga tak seceria biasanya ? Adakah yang mengganggu pikiranmu?” ucapku lembut.

“Ray, cukup kalian saja yang tahu, aku sangat sedih Ray. Rahman kecelakaan dan sekarang dia koma di rumah sakit.”

Innalillah, yang sabar ya, Say. Semoga cepat pulih dan diberikan yang terbaik,” ucapku.

“Aku berharap dia mati saja,” ucap Wiwi sendu, sambil menundukkan wajahnya.

Astagfirullah, kenapa kau berucap seperti itu, Sayang?”

“Aku malu. Aku ingin mengakhiri hubungan ini, tapi aku bingung mencari alasan untuk memutuskan hubungan kami. Aku bingung memberikan alasan pada orangtuaku nanti.”

“Kenapa kau seperti ini, Wi ? Cacatkah dia?

“Yah, kakinya patah. Tapi sebenarnya, aku bisa menerima dia dengan kondisi apa pun.”

“Terus kenapa kamu ingin mengakhiri hubungan yang sudah kalian bina selama ini dan mengharapkannya mati?”

“Kamu kira, kecelakaan itu kecelakaan sungguhan? Tidak, Ray.”

“Lantas?” kejarku.

“Dia dihakimi masa karena mencuri,” ucap Wiwi pelan dengan linangan airmata.

Kok bisa? Dia seorang yang taat agama. Setahuku selain dapat beasiswa, dia juga anak seorang saudagar kaya di Padang sana.”

“Iya Ray, kamu benar. Mencuri bukanlah kemauannya dan aku baru tahu ternyata..”

“Ternyata apa, Wi?” sahutku cepat.

“Rahman mengidap Kleptomania.”

“Tidak bisakah itu disembuhkan?” tanyaku.

“Entah, itu memang sebuah kelainan jiwa yang dideritanya sejak SD.”

Malam terus beranjak, sang Rembulan masih memberikan senyumnya dan bintang gemintang tetap menghiasi angkasa. Kami pun pergi ke kamar untuk istirahat. (Bersambung)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: