Skip to content

Mini Novelet: Nikah Siri (2)

by pada 3 Agustus 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian kedua dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

Oleh Ratu Nur Inayah

(www.tuliskabar.com)

(www.tuliskabar.com)

Kali ini kuterima SMS dari Wiwi,Sahabatku.. Rahman sudah sadar dari komanya. Dia ingin sembuh dari kleptomania. Dia tak pernah menginginkan hal itu, aku akan menerima dia apa adanya..”

Kubalas smsnya, “Apakah kau benar–benar siap, kawan? Bukan maksudku menghalangimu, tapi masa depanmu masih panjang. Masih banyak pria yang lebih baik dari Rahman.”

Tak berselang lama Wiwi membalas smsku, “Aku sudah konsultasikan pada Kiki, sahabat kita yang jadi psikolog. Katanya, Klepto bisa disembuhkan dengan dorongan dari orang–orang yang dia cintai.”

Aku dengan cepat membalas sms sahabatku, “Semoga saja..”

Wiwi segera membalas smsku, “Ya, kami akan mulai hidup baru, Sahabat. Kami akan merantau, ke tempat yang tak ada seorang pun mengenalku maupun Rahman.”

Ya, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik buatmu, Sahabat. Insya Allah, Juni mendatang aku akan berangkat. Melanjutkan studiku, demi cita–cita yang sempat tertunda.

*******

Sejak kepergianku ke Malang, aku hanya sms-an atau telponan saja dengan Wiwi. Kabar terakhir kudengar, dia berangkat umroh bersama keluarganya. Duhai,  hati ini juga rindu dengan tanah suci. Kapankah aku bisa menginjakkan kaki ini di kota Makkah Al Mukarramah?

Kini Ramadhan telah tiba, rencananya lebaran kali ini kulewati sendiri di kota Malang. Namun Abah menelpon, memintaku pulang karena kakakku, Titi, akan melangsungkan pernikahan. Acaranya digelar empat hari setelah lebaran. Ya, akupun pulang. Demi menghormati orangtuaku, demi menghadiri pernikahan kakak, meski aku baru 3 bulan di perantauan.

Semua teman–teman kuundang, tak terkecuali Wiwi. Dan sms balasannya pun kuterima, “Bolehkah saya membawa seseorang ke walimah pernikahan kak Titi? Seorang laki–laki tampan yang mendampingi saya, insya Allah kita sudah halal adanya.”

Berulang kali kubaca sms-nya, apa gerangan artinya? Apakah Wiwi sudah menikah?

Tapi kubalas juga, “Kamu sudah menikah, Wi?”

Tak lama kemudian Wiwi membalas, “Nantilah ceritanya di walimah pernikahan kak Titi. Jadi, bolehkan saya mengajak beliau?”

Aku pun tanpa ragu membalas sms Wiwi, “Ya, pasti lah boleh, Wi!

Hari pernikahan Kak Titipun tiba. Acaranya sangat meriah, maklum orangtuaku termasuk tokoh masyarakat di kampung. Wiwi hadir dengan menggandeng seorang pria berbadan tinggi,  berwajah ganteng, berjenggot, Subhanallah sempurna!

“Hai,” sapaku.

“Kenalkan, ini suamiku.”

What? Kok, kamu gak kasih kabar? Kapan kamu menikah, Sahabat?”

“Tenang, fren. Nantilah cerita–ceritanya.”

 Sang suami pun bergabung dengan ikhwan lainnya, sedang kami ke bagian akhwat.

“Diakah Rahman? Tapi, kok, beda dengan foto Rahman yang kulihat dulu? Rahman yang mirip Bam Samson.”

“ Oh, tidak kawan. Dia Rayhan.”

“Hah? Rayhan sang munsyid itu? Kamu masih menyimpan cinta untuknya, laki–laki yang kau carikan istri dulu?” Aku terperanjat, bingung.

“Oops, bukan kawan. Ini Rayhan yang berbeda. Aku di-ta’aruf-kan oleh keluargaku. Setelah aku putus dengan Rahman, seolah tak punya semangat lagi. Orangtuaku berusaha menghibur dan mengenalkanku dengan seseorang, ya.. beliau ini. Beliau masih ada hubungan keluarga dengan almarhum kakek,” jelasnya.

Alhamdulillah,” ucapku, “Barakallah ya, sayang. Akhirnya kamu mendapatkan yang terbaik.”

Kok, kamu tidak marah, Ray?” tanya Wiwi dengan mimik serius.

Lha, kenapa aku harus marah, sayang? Aku bahagia kamu menikah dengan orang shaleh dan membatalkan rencanamu menghabiskan usia bersama Rahman, yang kita tidak tahu apakah klepto-nya bisa disembuhkan,” tukasku seraya tersenyum.

“Aufa marah Ray, karena aku tak memberi khabar tentang pernikahanku. Dia jutek sekali sama aku.”

“Nanti juga dia baik lagi, kok. Tenang aja,“ sahutku.

“Oh ya, kenapa kamu tak memberi kabar kepada kita-kita sebagai sahabat dekatmu?”

“Ya, rencananya nanti, pas acara walimah saja. Tapi, aku tak kuat menyimpannya dari kalian.”

“Kapan rencananya? Mumpung aku lagi pulkam.”

“Belum tahu Ray, kami baru nikah siri.”

“Hah? Nikah siri? Kenapa?” ucapku meninggi.

“Hatiku sudah mantap memilihnya. Kami ingin menjaga hati, tapi kami tak mau bertunangan. Takut, seperti yang dulu aku lakukan dengan Rahman.”

“Terus, kenapa tidak nikah resmi saja?”

“Yah, menunggu waktu yang tepat, Say. Beliau masih bertugas di Batam.”

“Tidak salah kan nikah resmi? Meski nikah siri juga sah di mata agama, tapi tidak tercatat di KUA.”

“Inginnya seperti itu, tapi kami tak mau terjadi fitnah. Mosok setelah nikah, langsung berpisah? Nanti apa kata tetangga..”

“Orang akan mengerti, Say. Yang memisahkan kalian, karena sikon yang belum memungkinkan. Malah menurutku, jalan yang kau tempuh ini dapat mengundang fitnah. Andai kamu hamil, misalnya? Bisa-bisa disangka orang, kamu hamil di luar nikah.”

“ Aku ikut KB, kok,” kata Wiwi.

“Kamu tidak takut resiko nikah siri?”  tanyaku.

“Kenapa harus takut?”

“Nikah siri banyak merugikan kaum Hawa. Aku yakin, kamu mengerti. Kamu orang berpendidikan, tidak perlu aku jelaskan.”

“Ya, aku mengerti. Saat ini, pernikahanku belum diakui negara,” ucapnya.

“Bukan itu saja, Wi. Maaf, seandainya beliau menikah lagi dengan orang lain? Beliau bisa saja mengaku masih lajang, bukan? Maaf, bukan maksudku menakut–nakuti ataupun berprasangka buruk.”

Insya Allah, beliau tidak seperti itu. Aku percaya sama beliau.”

Aaamiiiiin Ya Rabb,” sahutku. (Bersambung)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: