Skip to content

Mini Novelet: Nikah Siri (3)

by pada 4 Agustus 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(reformata.com)

(reformata.com)

Oleh Ratu Nur Inayah

Hawa dingin kota Malang menyambut kedatanganku. Aku merasa lelah, setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh. Ah, aku ingin istirahat dulu..

Setiap hari aku selalu ber-sms ria dengan Wiwi, kami saling bertukar nasihat maupun puisi. Dia kelihatan begitu bahagia.

Pernah dia sms aku seperti ini, “Aku tak bisa menggambarkannya lewat kata–kata. Dia terlalu sempurna, kertas dan pena pun tak akan cukup untuk menuliskannya. Akhlaknya begitu mempesona, dan mampu membuatku jatuh cinta. Dan kini, aku bahagia hidup bersama laki–laki pilihanNya.”

Subhanallah, semoga diberkahi,” ucapku.

Aku selalu berharap yang terbaik buat sahabat–sahabatku. Aku berharap juga mendapatkan laki–laki pilihanNya, yang mau menerima aku apa adanya. Bukan ada apanya, hohoho…

Tak berselang lama, Allah SWT mengabulkan harapku, Dia mendatangkan seorang laki–laki saleh untukku. Tanpa ragu aku menerima pinangannya, meski kami tak kenal sama sekali.

Di hari pernikahan, semua sahabatku hadir. Begitu juga Wiwi. Dia datang sendirian, tanpa suami yang dikasihi. Wow, tentunya sangat mengejutkanku. Badannya kurus sekali. Ada apa dengan sahabatku ini?

Selesai akad nikah, aku ngumpul bersama Yuni, Aufa, Sari dan Wiwi. Kami saling berbagi cerita dan guyon bersama.

“Wi, kamu kurus amat?”

Dia hanya tertawa, seraya tetap sibuk menerima telpon dari suaminya nun jauh di sana. Ya, sebagai seorang Manejer di perusahaan swasta, pasti suaminya sibuk sekali.

Selesai bertelpon ria, dia kuledek, “Wi, kayaknya kamu TBC deh.

Yang lain ikut tertawa.

“Enak saja.. Aku sehat walafiat, Nene.”

“Tekanan batin, Cinta, kan jauh dari suami tersayang,” kilahku

“Aku pulang dulu ya? Kata suamiku, jangan berlama–lama.”

“Egois amat suamimu. Udah gak ada di sampingmu, eh, kamu main aja kagak boleh. Gimana, sih?

“Maaf, aku harus taat pada suamiku. Dia imamku, pemimpinku, dan belahan jiwaku.”

“Oke lah, selamat istirahat. Semoga lain waktu, kita bisa kumpul–kumpul lagi.”

*******

Langit mendung. Namun tak menyurutkan niatku untuk silaturrahim, kumpul–kumpul dengan sahabat–sahabatku di lebaran ini. Ya, kami –Aufa, Sari, aku dan Riri– ngumpul di rumah Riri. Sementara,  Wiwi lebih pilih menyendiri. Mungkin dia sangat sedih, suaminya tak datang lebaran ini.

Terakhir, kami kumpul–kumpul di kontrakanku. Saat itu, Wiwi sempat bercerita tentang bagaimana rumah tangganya. Ya, Rayhan yang susah dihubungi. Rayhan yang memilih pulang ke Jakarta menghabiskan lebarannya, ketimbang bersama Wiwi dan anak-anaknya.

“ Sabar, Sayang. Mungkin liburan nanti, dia akan pulang kesini.”

“Entah, dia susah sekali dihubungi.”

“Mungkin sibuk, Sahabatku. By the way, kapan kalian meresmikan pernikahan kalian?.”

Gak tahu kapan dia bisa cuti. Dulu, dia berniat ingin pindah kerja ke kota ini”

“ Baguslah, kalau begitu.”

“Saranku, kalian percepat pernikahan secara resmi,” ucap Aufa.

“Kami menabung dulu untuk acara walimah pernikahan kami.”

“Tidak perlu meriah, yang penting nikah resmi. Sah di mata agama dan negara,” sambung Sari.

“Aku setuju ucapan Sari, sebaiknya kalian secepatnya ke KUA,” ucapku sambil menatap mata Wiwi.

Wiwi hanya diam saja.

Ya, itulah percakapan saat kami kumpul–kumpul dulu. Dan terakhir kudengar kabar, Rayhan pindah kerja  ke kotaku. Aku ikut bahagia, karena akan membuat sahabatku berkumpul lagi dengan belahan jiwanya dan bisa meresmikan pernikahannya.

Tetapi bak di sambar petir, pagi ini kuterima surat darinya. Bukan kabar pernikahan yang kuterima, namun kabar buruk yang teramat sangat. Kabar yang sangat menyesakkan dada. Hal yang kami takutkan dulu terjadi juga, sahabatku yang malang kini menjadi janda tanpa surat.

Rasa tak percaya masih menyelimuti hati. Berulang kali kubaca surat dari Wiwi, tak sanggup aku membendung  airmata. Andai saja aku bisa terbang kuingin memeluknya, menghiburnya, berbagi cerita untuk mengurangi beban yang ada. Dari kejauhan aku hanya bisa mendoakan, semoga Wiwi mendapatkan pengganti yang lebih baik. Aamiin ya Rabb.. (Selesai)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: