Skip to content

Mini Novelet: Piano Tanpa Nada (1)

by pada 6 Agustus 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada libur Lebaran. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(www.dachstein-salzkammergut.com)

(www.dachstein-salzkammergut.com)

Oleh Aniza Pratiwi

 Rinai hujan yang sedari tadi turun membasahi permukaan bumi, belum kunjung reda. Aku menatap kosong ke luar jendela. Seakan ada sesuatu di luar sana, yang mampu menyita seluruh pandanganku.

Setahun sudah, kejadian kelam itu terjadi. Dan seakan hari ini, sepenggal kisah masa lalu bergulir kembali. Ya, tepat hari ini, impian terbesarku lenyap. Impian untuk dapat menjadi seorang pianis hebat, seperti ayahku. Mungkin bakat yang dimiliki ayah, menurun ke darahku.

Sejak umur lima tahun, aku sangat suka bermain piano. Sampai usiaku beranjak dewasa, aku semakin mencintai permainan itu. Tetapi kini aku tidak bisa bermain piano lagi, karena kecelakaan yang kualami setahun lalu telah merenggut segalanya.

Merenggut beberapa jari tangan yang kumiliki  bahkan merenggut nyawa kedua orangtuaku. Saat ini aku masih tidak percaya, nasibku akan begini jadinya. Sekarang piano itu membisu. Nada yang biasanya terdengar indah, lenyap sudah. Seperti impianku, yang sudah tak terlihat lagi.

*******

Masih terbayang olehku kecelakaan yang telah merengut sebagian hidupku. Bermula sejak aku dan kedua orangtua berada di Bandung, menghadiri konser yang diadakan di sebuah acara. Hari itu, semua orang bertepuk tangan hanya untukku. Ibu dan ayah sangat menantikan saat-saat itu, ketika semua orang terpukau atas permainan pianoku.

Masih terbayang di benakku saat ibu memakaikan kostum untukku. Terlihat senyum yang sangat begitu tulus dari wajahnya. Aku sangat bahagia dapat melihat senyuman itu.

“Lihat betapa cantiknya dirimu Nada,” kata ibu sambil memutar tubuhku ke arah cermin.

Aku hanya tersenyum. Namun belum lagi usai aku menata penampilan, seseorang memanggilku.

“Pranada Melodi, nama yang sangat indah,” gumamnya.

Ya, aku pun sangat menyukai nama itu. Nama yang diberikan ayah –karena beliau sangat mencintai musik– memang sangat indah.

 “Lima menit lagi kamu tampil, ya,” ujar lelaki paruh baya, sambil keluar ruangan membawa beberapa lembar kertas di tangannya.

“Ini saatnya, Nak. Tunjukkan kemampuanmu di depan banyak orang. Ibu yakin, kalau hari ini adalah awal karir dan kesuksesanmu sebagai pianis hebat. Berusahalah,” kata ibu sambil memegang pundakku.

“Baik bu, aku akan berusaha yang  terbaik untuk ibu dan ayah,” ujarku dengan senyum manis.

Saat yang ditunggu–tunggu penonton tiba. Ketika aku naik ke panggung, sorak–sorai dan tepuk tangan penonton spontan memenuhi ruangan dalam gedung. Namun keheningan segera tercipta, saat aku mulai menekan tuts demi tuts piano. Hanya alunan musik “Bethoven” yang terdengar di ruangan saat itu.

Aku sangat menikmati alunan musik yang tercipta oleh piano. Makin aku menikmatinya, semakin trenyuh perasaanku. Lampu panggung menyala kembali, bersamaan dengan berakhirnya lagu “Bethoven” itu. Tepuk tangan penonton serentak memenuhi ruangan yang sedari tadi hening. Aku pun berdiri dari kursi, melihat senyuman bangga dari kedua orangtuaku yang duduk di kursi paling depan. Senyum yang begitu tulus terpancar dari paras mereka.

Siapa duga kalau itu adalah senyum terakhir mereka yang aku lihat. Setelah konser, kami beniat makan siang di sebuah restoran yang agak jauh dari gedung konser. Kami harus menempuh perjalanan dengan mobil, kurang lebih 30 menit, untuk dapat sampai di restoran itu.

Di perjalanan keluargaku asik bercanda gurau, tiba–tiba truk besar melaju dengan kecepatan tinggi dari arah depan mobil. ”Awas!” teriak ibu histeris. Ayah panik, lalu dengan cepat membanting stir ke arah lain. Tetapi arah yang diambil ayah adalah jurang yang curam.

Tak ada yang dapat kulakukan saat itu. Aku hanya dapat menangis ketakutan di dalam pelukan ibu. Setelah itu, aku tidak ingat apa–apa lagi. Yang aku ingat kemudian sudah terbaring di ranjang, tak tahu dimana.

Saat membuka mata, kulihat seseorang memakai baju putih tengah memandang kepadaku. Beberapa detik kemudian, aku tak sadarkan diri kembali. Hanya lampu putih terang yang terakhir sempat kulihat. (Bersambung)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: