Skip to content

Cerpen: Tak Sekuat Hatimu (2)

by pada 11 Agustus 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari cerpen, yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada libur Lebaran. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(sketsastra.blogspot.com)

(sketsastra.blogspot.com)

Oleh Elfiana Fitriah

Aku sering sekali main di kampus bang Rizky, semata-mata ingin tahu pelajaran jurnalistik. Namun kali ini, baru saja aku sampai di kantin kampusnya, sudah 4 cowok yang mau berkenalan denganku.

Astaga, ini benar-benar baru bagiku. Sampai terpaksa aku menelpon bang Rizky untuk segera menjemput di kantin, lantaran bingung menghindari mereka. Tak lama Abang datang menemuiku, dan dengan lega langsung mengabaikan keempat cowok itu.

“Kamu sudah lama di sini, Dek? ” tanya bang Rizky.

“Sudah. Lama banget, sih, Bang. Gue risih, nih. Banyak banget temen-temen lo yang minta kenalan” sergapku dengan muka cemberut.

Sambil senyum-senyum, bang Rizky mengajakku ke dalam kelasnya. Di situ, aku dikenalkan dengan teman-temannya yang cowok semua. Ya, lagi-lagi cowok.

Tapi, tunggu dulu.. Dari sekian banyak cowok di kelas, ada satu yang tampil beda. Aku perhatikan sikapnya. Benar, dia adalah cowok teracuh yang pernah aku lihat. Wajahnya lurus menatap ke depan, seolah tak pernah ada makhluk tercantik di sampingnya.

Aku kian penasaran, tanpa malu kubisikkan ke bang Rizky untuk menanyakan namanya, Kurang asem, sengaja sekali Abang memanggilnya untuk menghampiri kami.

Kenalin nih, dia adek gue yang waktu itu lo liat fotonya, Sa, ” kata Abang.

Sambil menjabat tanganku, ia memperkenalkan dirinya. Ternyata namanya Yessa. Setelah mengobrol, aku tahu kalau Yessa adalah mahasiswa yang berprestasi dalam bidang fotografi. Aku lihat semua karyanya yang ditunjukkan. Sangat bagus dan terlihat mewah. Perfect sekali.

Hari semakin sore tanpa terasa, sudah waktunya aku dan Abang Rizky pulang ke rumah. Sebelum pamitan, Yessa meminta nomor handphone-ku. Alasannya, dia sedang mencari model. Berhubung aku juga suka dengan dunia fotografi, aku berikan nomorku tanpa maksud lain.

Sampai di rumah, aku mandi dengan air yang hangat. Lagi-lagi Bunda yang menyiapkannya. Padahal, Bunda baru saja pulang dari kantor. Sungguh sabar sekali Bunda merawatku, meski di rumah ada Bi Sri yang melayani. Makasih ya Bunda, sudah menghangatkan badanku.

Kini aku sudah bersih dan wangi, saatnya bermain bersama ketiga abangku. Ketika ingin keluar kamar, handphone-ku berbunyi. Aku lihat pada layar, ternyata Yessa yang menelepon. Entah mengapa, aku senang sekali. Aku angkatlah telpon darinya.

“Hallo, ini Rea?” tanya Yessa berbasa-basi, membuka percakapan..

“Ya, ini Rea. Kenapa, ya?” balasku, juga berbasa-basi.

Nggak, aku ingin menelepon kamu saja, Boleh, kan?” sahutnya to the point.

“Oh, boleh saja,” tukasku cepat, melepas rasa.

Kami pun langsung akrab, seperti sudah kenal lama. Baru kali ini aku merasa nyaman mengobrol dengan seorang cowok. Sebelumnya, aku tidak pernah merasakan hal ini. Ya Tuhan, apakah aku mulai jatuh cinta?

*******

Tidak terasa sudah dua bulan perkenalan kami. Tapi selang seminggu lalu, aku juga dikenalkan –oleh Frida, adik kelasku– dengan Nathan, teman baiknya. Nathan sepantar, sedangkan dengan Yessa aku berselisih 4 tahun. Meskipun demikian, aku menganggap Yessa sebatas teman. Meski sejujurnya, aku mulai merasakan sesuatu dengan Yessa. Ya Tuhan, mengapa pula ini?

Sepulang sekolah, kulewati lorong-lorong sekolah bersama adik kelasku dan teman-teman lain. Ketika sampai di depan gerbang sekolah, ternyata Yessa sudah menungguku. Aku sangat terkejut melihatnya. Tanpa sadar, aku langsung meninggalkan rombongan dan berlari menghampiri Yessa.

Kami pun melaju di atas motornya yang gede. Selama perjalanan tak putus kami mengobrol. Mulai dari masalah -masalah yang kuhadapi, sampai cerita tentang keluargaku. Dia memang enak diajak tukar pikiran, dan aku merasa sangat nyaman.

Di depan pintu, Bunda sudah menyambutku dengan senyumnya. Bunda menanyakan hubunganku dan Yessa. Aku hanya menjawab kalau Yessa bukan siapa-siapa. Meski di dalam hati, aku menginginkan kejelasan status hubunganku dengannya.

*******

Hari demi hari, aku jalani pertemananku bersama dua cowok yang berbeda karakter. Tapi belakangan ini, terasa Yessa berbeda sikap. Mengapa ia tidak meneleponku lagi? Apakah ia sudah mempunyai pacar, sehingga aku di tinggalkan olehnya?

Beribu pertanyaan muncul di pikiranku. Aku juga bertanya kepada bang Rizky, tetapi ia juga tidak mengetahui keberadaan Yessa sekarang. Aku hanya pasrah menunggu kabar Yessa.

Selang beberapa minggu kemudian, Nathan mengajakku makan malam. Ternyata kesempatan itu digunakannya untuk menyatakan cinta. Sungguh, aku benar-benar tidak menduga.

Aku tidak tahu, harus menerimanya atau tidak. Karena di lubuk hati yang paling dalam, aku memang lebih suka Yessa, Bukan Nathan. Sayangnya, Yessa pergi entah kemana. Tidaki ada kabar, hilang begitu saja.

Di tengah kegamangan menjawab permintaan Nathan,  aku mendapat info dari bang Rizky kalau Yessa sudah memiliki pacar. Sontak aku kaget. Hatiku mulai goyah dan tak kuat menahan sakit. Yessa yang kutunggu, ternyata..

Hampir satu bulan aku mengharap kabar Yessa. Menjaga hatiku untuknya. Baru saja aku merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya, tapi berakhir kecewa, Atas nasihat Bunda, aku berupaya tegar dan kuat. Ya, seperti kuatnya hatimu, Bunda, yang selalu menyayangiku.. (Selesai)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: