Skip to content

Keteguhan Cinta Sepanjang Usia (1)

by pada 12 Agustus 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari Kisah Nyata, yang terdiri 2 (dua) bagian. Tak hanya pasangan Romeo-Juliet, Habibie-Ainun, atau Sam Pek-Eng Tay yang memiliki kisah cinta yang mengharukan. Kisah cinta ini juga sama mengharukannya, keteguhan cinta yang diuji berbagai cobaan hidup. Mari kita simak di penghujung libur Lebaran.

(www.merdeka.com)

(www.merdeka.com)

Oleh Dede Kartika

Berdua merasakan asam manis cinta dan kehidupan, dalam perjalanan usia yang kian menua. Tetap setia mendampingi, hingga ajal menjemput.

Kala itu usiamu menginjak 14 tahun. Usia yang begitu muda dan bebas. Pesantren Al-Baqiyatus Sholihat, tempatmu belajar tak jadi penghalang jiwa mudamu untuk merasakan eforia masa remaja.

Seperti kebanyakan murid pesantren, kau juga aktif mengikuti kegiatan-kegiatan kerohanian di sekolahmu. Pengajian, qasidah, dan nasyid turut menjadi aktifitas keseharianmu. Saat itu, kau hanya menikmati masa remajamu dengan suka cita.

Tak pernah terbersit sedikitpun, itulah masa terakhirmu menikmati masa remaja. Tak seperti biasanya, Baba —panggilan ayah untuk orang Betawi— mendatangimu ke pesantren. Padahal, sebelumnya hanya Enyak —panggilan ibu untuk orang Betawi— yang biasanya datang menjengukmu.

Pikiranmu pun menjadi bertanya-tanya mengenai kedatangan Baba. Kau pun menghampirinya dan mencium tangannya. Deretan kalimat yang Baba ucapkan saat itu, ternyata cukup sakti untuk membuatmu tertunduk lesu.

Seminggu setelah kedatangan Baba, kau resmi keluar dari pesantren. Baba hendak menjodohkanmu dengan anak sahabat karibnya. Perjodohan telah membuatmu putus sekolah, meninggalkan pesantren dan teman-teman untuk kembali ke rumah sederhana di utara Bekasi.

Sedihkah? Kecewakah? Ya, tetapi tak ada lagi yang bisa kau perbuat selain menuruti keinginan Baba. Seperti lazimnya seorang anak yang selalu menuruti kehendak orang tua.

Tak berselang lama kesedihan hinggap di wajahmu. Toh, kau senang berkumpul bersama Enyak dan ketujuh orang adikmu. Kembali merasakan kehangatan suasana rumah ternyata mampu mengusir rasa sedih dan kecewamu.

Enyak yang memang sudah mulai sakit-sakitan jadi berkurang beban pekerjaan rumah semenjak kau ada di rumah. Menyapu, mengepel, memasak, mencuci baju, merapikan rumah, menjaga ketujuh adik, merupakan aktifitas baru yang mengisi keseharianmu.

*******

Hampir sebulan berselang setelah keluar dari pesantren, Baba kembali membicarakan perjodohan itu. Diberinya kau sebuah foto laki-laki calon suamimu. Lumayan juga, pikirmu saat itu, sepertinya orangnya baik. Dari situlah mulai mengalir cerita Baba mengenai Ahmad, si pemuda calon suamimu, yang tertarik kepadamu dan ingin menjadikanmu istri.

Ternyata Baba sering sekali membicarakanmu kepada H. Main —ayah dari Ahmad— di setiap kesempatan mereka bertemu. Kau itu pintar, rajin, selalu menuruti apa kata orang tua, dan banyak sifat baikmu yang sering diceritakan Baba kepada teman karibnya itu. Singkat cerita, H. Main pun menceritakannya kembali kepada Ahmad dan bermaksud menjadikanmu menantunya.

Bagaimana bisa menyukai seseorang yang bahkan bertemu sekali pun belum pernah? Mungkin memang tidak masuk akal, tetapi itulah yang terjadi pada Ahmad. Kau, yang saat itu hanya mendengarkan cerita Baba sedikit tertarik untuk mengetahui siapa Ahmad sebenarnya.

Pemuda yang menurut cerita Baba adalah pemuda yang baik, bertanggung jawab, dan sudah mapan di usianya yang masih muda, menjadi topik perbincangan hangat di rumah selama beberapa hari. Tak menyangkal, jika saat itu kau juga penasaran ingin mengenal Ahmad secara langsung.

Sore itu, kau sedang memijat kaki Enyak sambil berbincang. Hanya kepada Enyak kau bisa berkeluh-kesah, menumpahkan segala cerita. Apa saja bisa kau jadikan bahan obrolan dengan Enyak, termasuk soal Ahmad.

Walaupun kau hanya mengenal sosoknya dari cerita Baba ataupun Enyak sepertinya nama itu terus terlintas di kepalamu. Membangunkan rasa penasaran yang kian hari kian meningkat. Hingga akhirnya muncul saat kau bertemu untuk pertama kalinya.

Tok tok tok, suara pintu diketuk membuatmu beranjak dari tempat tidur Enyak dan membuka pintu. Deg, yang bertamu adalah H. Main dan anaknya. Kau yang tak siap untuk bertemu dengan Ahmad pun menjadi salah tingkah. Rasa penasaran yang meningkat, kini berubah menjadi dentuman jantung yang terus mempercepat frekuensinya.

Kaget, bingung, lemas, semua bercampur menjadi satu. Kau hanya berani sekilas memandang Ahmad. Selanjutnya kau masuk ke dalam kamar, ikut bermain dengan adik-adikmu. Pikiranmu pun mulai bertanya-tanya, mungkinkah kedatangannya untuk membicarakan tanggal pernikahan?

Ternyata hasil pembicaraan dari pertemuan itu, bukanlah membahas tanggal pernikahan, tetapi membiarkan kau dan Ahmad lebih mengenal satu sama lain. Sejak itu, rutinlah acara apel malam minggu ke rumahmu. Tidak sekalipun Ahmad absen untuk menemuimu.

Setiap pertemuan ada saja yang diperbincangkan. Rupanya benih itu mulai tumbuh dan terus bertambah mekar dengan apel-apel malam minggu. Setahun waktu yang kau dan Ahmad jalani, untuk akhirnya memutuskan menikah pada Juli 1975. Usiamu 15 tahun dan Ahmad 20 tahun.

*******

Menjadi pengantin muda bukanlah hal asing pada saat itu. Bahkan banyak teman sebayamu yang sudah memiliki anak pada umur yang begitu muda. Kau dan Ahmad baru saja memasuki fase kehidupan baru sebagai suami istri.

Tinggal bersama mertua membuatmu sedikit banyak mengenal karakter keluarga Ahmad. Hingga dua tahun usia pernikahan, lahirlah buah cinta pertamamu dan Ahmad. Hendra adalah nama yang kau berikan pada anak pertamamu. Sepertinya kebahagiaan sudah lengkap kau dapatkan.

Kebahagiaan yang kau rasakan, lagi-lagi tak berumur panjang. Enyak terkena penyakit kanker leher rahim. Tak ada yang bisa dilakukan untuk memulihkan kesehatannya. Biaya untuk berobat trelampau besar. Baba tidak sanggup untuk memenuhinya.

Jadi, setiap hari kau harus mengunjungi Enyak. Merawat tubuhnya yang hanya bisa tertidur di atas kasur dan mengurus ketujuh adikmu. Hal itu rutin kau lakukan beberapa bulan, hingga akhirnya Enyak mneghembuskan nafasnya yang terakhir pada tahun 1978.

Kehilangan pertama yang sangat menyakitkan. Tak ada lagi sosok yang selalu mendengar keluh-kesahmu. Tak ada lagi sosok yang selalu menyayangimu dengan kasih tak berpamrih. Sejak itu, beban baru berada di pundakmu.

Mengurus ketujuh adikmu yang masik kecil-kecil. Tak ada yang mudah, sejak Enyak meninggalkanmu.  Kau pun memiliki dua tanggungjawab besar yang harus kau penuhi, menjadi seorang istri dan ibu bagi keluargamu. Juga mnejadi sosok ibu baru bagi adik-adikmu.

Baba yang kehilangan istri tak berlama-lama menduda dan menikahi seorang gadis muda. Ketujuh adikmu kini dalam tanggung jawabmu. Mengurus, memberi makan, menyekolahkan, membelikan baju, dan berbagai keperluan lainnya.

Ahmad, tak henti memelukmu ketika kau menangis, karena cobaan yang begitu berat. Tetap di sampingmu, memberikan nafkah untuk keluarga besarmu –dengan gaji yang tak cukup untuk makan 10 orang tiap harinya dengan berbagai kebutuhan lainnya.

Sungguh, tak ada yang mudah saat itu. Hanya Ahmad yang menjadi tumpuan dan sandaranmu setiap waktu. (Bersambung)

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: