Skip to content

Cerpen: What If (1)

by pada 24 Agustus 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen, yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada libur akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(xtraordinarypeople.wordpress.com)

(xtraordinarypeople.wordpress.com)

Oleh Rara Ramadyawati

“Sandy! Apa kabar?” seruku sambil memeluk teman lamaku itu. “Baik,” jawab Sandy singkat seraya membalas pelukanku. “Ayo, masuk,” ajakku. Sandy kemudian menarik kopernya. Ia bermaksud menginap di rumahku selama sebulan karena saat ini sedang liburan.

“Bagaimana hubunganmu dengan Arvan?” tanya Sandy.

Aku mengangkat kedua alisku. “Yah, masih seperti biasa. Tidak ada perkembangan.”

“Kau ini, kenapa tidak kau duluan saja yang mengungkapkan perasaanmu padanya?”

Aku membelalakan mataku. “Aku tidak mau,” kataku sambil memberengut. “Bagaimana kalau dia menolakku?”

Sandy tersenyum. Ia geli melihat tingkahku yang kekanak-kanakan, padahal beberapa bulan lagi kami akan melanjutkan kuliah. Ia mengusap-usap kepalaku.

“Aku akan selalu mendukungmu,” kata Sandy.

*******

Kenapa dia lama sekali? Aku melirik jam tanganku untuk yang kesekian kalinya. Ia sudah terlambat sepuluh menit, pikirku.

Tin, terdengar bunyi klakson motor. Aku menoleh dan mendapati seorang pria dengan motor ninjanya yang berwarna hitam. Ia membuka helmnya. “Maaf membuatmu menunggu,” kata pria itu.

“Arvan,” panggilku sambil tersenyum manis. “Tidak. Aku juga baru keluar rumah,” jawabku berbohong.

“Ayo naik,” ajak Arvan, seraya melirik ke bagian belakang sepeda motornya.

Aku segera naik dan duduk di belakangnya. Aku melihat punggungnya. Haruskah aku berpegangan pada badannya?Aku gugup sekali.

“Kau bisa jatuh nanti,” kata Arvan, sambil menarik kedua tanganku dan meletakannya di pinggangnya.

Saking kencangnya Arvan menarik, tubuhku pun tertarik dan menempel pada punggungnya. Aku menjadi semakin salah tingkah. Namun, tanpa aku sadari seseorang memperhatikan dari balik jendela. Ia mengepalkan tangannya. Geram denganyang barusan ia lihat.

*******

“Terima kasih,” ujarku, saat Arvan mengantarkanku pulang.

“Sama-sama,” balas Arvan. “Ngomong-ngomong, minggu depan kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat.”

“Minggu depan? Sepertinya bisa,” jawabku.“Memangnya kita mau kemana?”

“Itu…” belum sempat Arvan melanjutkan, tiba-tiba Sandy datang.

“Oh, rupanya ada tamu,” ujar Sandy saat melihat Arvan yang berdiri di depan pintu.

“Ah, kenalkan.Arvan, ini Sandy. Dia teman lamaku yang menginap di sini. Sandy ini Arvan, dia temanku,” kataku memperkenalkan.

“Arvan,” ucap Arvan, sambil mengulurkan tangannya.

“Sandy,” balas Sandy, seraya menjabat tangan Arvan.

“Baiklah kalau begitu, aku pamit dulu,” ujar Arvan. “Dah, Khansa.”

“Dah,” balasku, tak bisa berhenti menatapnya hingga ia menghilang dari balik pintu.

*******

“Kukira kita mau kemana, ternyata..” aku sedikit kecewa, saat Arvan mengajakkku ke sebuah toko boneka.

“Hahaha.” Arvan tertawa renyah.

“Memangnya kau mau beli boneka?” aku penasaran. Apakah ia hendak membelikan boneka untukku, pikirku.

“Menurutmu, wanita itu paling suka boneka yang seperti apa?” tanya Arvan mengabaikan pertanyaanku.

Wajahku memerah. Sepertinya ia memang bermaksud membelikanku boneka.

“A.. I-itu..” Aku memandang ke sekeliling mencari boneka yang aku sukai. Pandangan mataku jatuh pada sebuah boneka beruang berwarna putih, yang di tangannya terdapat bantal berbentuk hati bertuliskan I love you.

“Bagaimana kalau yang ini saja?” ujarku seraya mengambil boneka beruang tersebut dari atas rak.

“Ide bagus,” tukas Arvan sambil menerima boneka beruang yang aku sodorkan padanya.“Terima kasih, Khansa.” Ia mengelus kepalaku.

Aku hanya tersenyum canggung. Arvan kemudian membawa boneka beruang itu ke kasir. Ia juga meminta agar boneka tersebut dibungkus dengan rapi. Padahal, jika ia hendak memberikan boneka tersebut padaku, tentu tidak perlu repot-repot membungkusnya, gumamku dalam hati.

“Terima kasih untuk hari ini,” ucap Arvan sekali lagi. “Maaf, hari ini aku merepotkanmu .Oh iya, tolong doakan aku ya semoga aku berhasil.”

“Mendoakanmu?” tanyaku tidak mengerti.

“Ya, hari ini aku akan mengungkapkan perasaanku pada seorang gadis. Dia temanku,” jelasnya.

Deg, hatiku berdebar-debar. Apakah mungkin…

“Dia teman sekelasmu, Silvia,” tambah Arvan.

Apa? Jadi, selama ini dia…

“Ayo kita pulang,” ajak Arvan.

“Eh, ehm… Maaf, kau pulang duluan saja. Tadi Sandy meneleponku. Ia mengajakku makan malam,” katau berbohong. Aku tidak ingin Arvan melihatku menangis.

“Lalu, di mana Sandy sekarang? Apa perlu aku menemanimu, hingga dia datang?”

“Tidak, kau duluan saja. Sebentar lagi ia juga sampai, kok.” (Bersambung)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: