Skip to content

Cerpen: What If (2)

by pada 25 Agustus 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari cerpen, yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada libur akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(adoc.deviantart.com)

(adoc.deviantart.com)

Oleh Rara Ramadyawati

Khansa, kau kenapa?” tanya Sandy yang baru datang. “Ar-Arvan..” “Ada apa dengan Arvan?” Sandy terlihat panik. “Dia..” aku tidak sanggup menceritakannya pada Sandy. Air mataku tidak mau berhenti. Sandy kemudian memelukku, membiarkanku menangis di pundaknya.

Cerita demi cerita keluar dari mulutku, saat aku dan Sandy berada di dalam mobil. Ia mendengarkan ceritaku sambil menyetir. Ia tidak menyanggah sama sekali. Ia membiarkanku bercerita, hingga hatiku terasa lebih tenang.

Hujan turun dengan deras, sementara salah satu dari kami harus keluar untuk membuka pintu garasi.

“Biar aku saja,” kataku, sambil mengambil payung lipat dari dalam tasku.

“Tidak, kau tunggu saja di sini,” ujar Sandy, mencegahku keluar.

“Aku tidak apa-apa, kok,” tukasku menenangkan Sandy. Aku menepis tangannya dan bergegas membuka pintu mobil.

Tangan kiriku menggenggam payung sementara tangan kananku berusaha membuka pintu garasi. Karena hujan, tanganku menjadi licin yang menyulitkanku membuka pintu. Tanpa aku sadari, sepasang tangan kekar segera membantuku membuka pintu garasi. Ya, itu adalah tangan Sandy.

“Sudah kubilang, kau di mobil saja.”

“Sandy..”

Sandy tiba-tiba memelukku. Aku begitu kaget, sehinggga payungku terjatuh ke teras.

“Aku mencintaimu, Khansa,” ungkap Sandy seraya mencium keningku. “Aku mencintaimu. Sudah lama sekali aku mencintaimu. I love you.” Berulang kali ia membisikan kata I love you di telingaku. Ia memelukku, sangat kuat.

Merasa aku mulai menggigil, Sandy melepaskan pelukannya. Ia merangkul pundakku dan membawaku masuk ke dalam rumah. Dengan isyarat matanya menyuruhku duduk di kursi, sementara ia pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman hangat.

“Ini,” kata Sandy seraya menyodorkan segelas cokelat panas, minuman kesukaanku. “Aku siapkan air panas dulu untukmu. Kau bisa sakit,” lanjutnya, sambil beranjak ke kamar mandi.

“Tunggu.” Aku memegang tangan Sandy, mencegahnya pergi. “Aku akan menjawabnya sekarang.”

*******

“Khansa!” teriak seseorang dari belakangku.

Aku menengok ke belakang, tampak seseorang yang sepertinya sudah tidak asing lagi.

“Arvan!” seruku kaget, tidak menyangka bisa bertemu dengannya di Tokyo. “Apa kabar?”

“Aku baik-baik saja,” jawabnya sambil tersenyum ramah. “Kebetulan sekali kita bertemu di sini.”

“Ya, hari ini aku janji dengan..”

“Maaf, aku terlambat!” tiba-tiba seorang pria muncul dengan napas terengah-engah.

“Sandy! Lama tidak bertemu,” sahut Arvan seraya menjabat tangan Sandy.

“Arvan? Sedang apa kau di sini?” tanya Sandy.

“Ada proyek yang harus kutangani di Jepang,” jawab Arvan.

“Bagaimana kalau kita minum-minum bersama?” ajak Sandy.

“Tapi..”

“Sudahlah Arvan, kau tidak perlu sungkan,” kataku berusaha terdengar ramah, meskipun hatiku berdebar-debar tidak menentu. Apakah aku masih..

“Kalian duduk saja di sini, biar aku yang memesan minuman,” kata Sandy sambil beranjak menuju kedai yang menjual minuman.

“Aku kaget sekali, saat Silvia memberitahuku bulan depan kalian akan menikah.” Arvan membuka pembicaraan.

Deg, hatiku bagai dihantam batu yang sangat besar. Aku menarik napas. “Aku dan Sandy sudah berpacaran selama dua tahun belakangan ini, jadi..”

“Tunggu dulu, apa kau bilang?”Arvan terlihat sangat kaget. “Dua tahun?”

“Ya, aku memang baru berpacaran dengannya selama dua tahun. Tidak sepertimu dan Silvia, yang sudah berpacaran selama lima tahun.”

Arvan terdiam sejenak. “Jadi, lima tahun yang lalu, kau belum berpacaran dengannya?”

Aku meremas-remas tanganku sendiri. Mungkin sudah saatnya aku berterus-terang pada Arvan, meskipun hatiku rasanya bagai ditusuk pedang yang sangat tajam.

“Aku.. Lima tahun yang lalu, aku menyukai seseorang. ”Hening sesaat, sebelum akhirnya aku meneruskan kalimatku. “Aku menyukaimu,” lanjutku sambil memalingkan muka.

Arvan terdiam. Ia tampak kaget sekali dengan pengakuanku barusan. Ia masih menatapku. Mulutnya terbuka seperti hendak mengatakan sesuatu, namun menutup lagi seakan tidak jadi mengatakannya.

“Aku juga dulu menyukaimu.” Tiba-tiba saja Arvan membuat pengakuan, yang membuatku nyaris pingsan mendengarnya.

Arvan mengenggam tanganku. Aku seharusnya berusaha melepaskan tanganku darinya, tapi entah kenapa aku malah menikmatinya. Genggeman tangan Arvan yang kuat dan terasa hangat.

“Kau tahu kenapa aku mengungkapkan perasaanku pada Silvia? Karena aku takut kau akan menolakku. Aku takut kalau ternyata kau mencintai Sandy.” Arvan menghela napas. “Tapi, ternyata aku salah..”

Aku terperangah. Jadi dulu..

“Masih adakah tempat bagiku di hatimu?” tanya Arvan dalam. “Sebenarnya, sampai saat ini pun aku tidak bisa melupakanmu,” bisiknya.

*******

Tak jauh dari tempat Khansa dan Arvan mengobrol, tampak seseorang sedang memperhatikan mereka dari balik pepohonan. Tidak berani menunjukkan dirinya, hanya mendengarkan yang mereka bicarakan. Ia menunggu hingga keduanya menyelesaikan perbincangan mereka, yang seharusnya tidak boleh ia dengarkan.

*******

“Aku..” kembali aku meremas-remas tanganku sendiri. Aku gugup sekali.

Arvan menatapku lurus-lurus, menanti jawaban yang akan keluar dari mulutku.

Aku mengepalkan tanganku. “Arvan, aku senang akan perasaanmu padaku. Tapi, saat ini aku mencintai Sandy, jadi..” Aku menatap matanya. “Maaf.” Aku benar-benar merasa bersalah.

Arvan hanya tersenyum. “Andai waktu dapat terulang kembali, aku akan menyatakan perasaanku padamu dulu.”

Andai waktu dapat terulang kembali, mungkin aku tidak akan patah hati lima tahun yang lalu, batinku.

*******

Aku bersyukur waktu tidak dapat terulang kembali, batin Sandy sambil keluar dari balik pepohonan. Jika waktu dapat terulang kembali, mungkin saat itu aku yang akan patah hati, bukan Khansa ataupun Arvan.

“Maaf, lama. Tadi antriannya panjang sekali,” kata Sandy berbohong, sambil mengacungkan 3 botol minuman pada Arvan dan Khansa.

*******

“Maaf, saat ini aku masih mencintai Arvan,” kata Khansa.

Aku memegang tangan Khansa yang dingin, berusaha menghangatkannya. Meskipun aku tahu, tanganku sendiri pun dingin. Aku mengelus pipinya yang lembut dengan menggunakan punggung jari telunjukku. Dia tidak berani menatapku. Ia seperti merasa bersalah.

“Aku akan menunggumu,” ujarku lembut. “Aku akan menunggumu, sampai kau bisa melupakan Arvan.”

Lima tahun yang lalu Khansa menolakku. Namun, ketika aku melanjutkan kuliah di Jepang, ia tiba-tiba datang ke apartemenku dan mengatakan kalau ia sudah melupakan Arvan. Sejak saat itulah aku dan Khansa mulai berpacaran. (Selesai)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: