Skip to content

Analogi Pendidikan di Indonesia

by pada 27 Agustus 2013
(www.solopos.com)

(www.solopos.com)

Oleh Ratna Yuliasari

Suatu kelas terdiri dari ikan, gajah, kucing, ular, dan kera. Guru mengatakan akan ada ujian hari ini. Ujiannya adalah memanjat, berenang, salto, dan berlari.

Ujian memanjat dimulai. Mereka diwajibkan terampil memanjat pohon untuk lulus dalam ujian ini. Kucing, ular, dan kera berlomba sampai ke tempat tertinggi lebih dahulu.

Bagaimana dengan gajah dan ikan? Sang gajah terdiam, memikirkan cara untuk memanjat tanpa harus merobohkan pohonnya. Sang ikan terkulai lemas sambil menggelepar-gelepar setelah keluar dari akuarium. Jangankan memanjat, baru keluar saja dia sudah hampir mati!

Siapa yang dapat nilai tertinggi? Tentu si kera. Dia sudah terbiasa memanjat pohon. Namun, untuk ujian berenang, salto, dan berlari, belum tentu dia dapat nilai tertinggi. Dalam ujian berenang, ikan jagonya. Salto? Mungkin kera bisa. Berlari? Gajah mungkin lebih cepat.

*******

Cerita tersebut merupakan perumpamaan gambaran pendidikan di Indonesia. Betapa sistem pendidikan di Indonesia mengharuskan setiap siswanya mampu menguasai banyak pelajaran, tanpa peduli potensi terbaik mereka. Lihatlah tas-tas siswa SD, yang besarnya hampir menyamai besar tubuhnya. Apa saja isinya? Buku-buku besar pedoman belajar.

Siswa SMP dan SMA pun tak jauh berbeda. Si Calon Dokter dipaksa mempelajari Ekonomi, si Calon Ekonom dijejali ilmu Biologi, dan sebagainya. Dalam ujian pun semua siswa disamaratakan.

Pemerintah seakan tak peduli keadaan dan kemampuan siswa yang sesungguhnya. Mereka dianggap mampu mengerjakan soal-soal UN (Ujian Nasional) dengan baik. Tak peduli sekolahnya beratap atau tidak, memiliki buku-buku pedoman belajar yang lengkap atau tidak, dan guru-gurunya berkualitas atau tidak.  Parahnya, pemerintah mengabaikan potensi terbaik yang dimiliki masing-masing siswa.

Pantaslah kalau Retno Listyarti, Sekretaris Jenderal FSGI (Federasi Serikat Guru Indonesia), menganalogikan UN sebagai “termometer rusak”, tidak dapat mengukur suhu tubuh yang sebenarnya. Artinya, UN tidak dapat mengukur kualitas pendidikan di Indonesia yang sesungguhnya.

Mengapa kelulusan siswa harus ditentukan dari hasil UN? Padahal yang mengetahui kemampuan siswa yang sebenarnya adalah sekolah. Untuk itu, Retno menyatakan, para guru, orang tua siswa, dan masyarakat yang peduli pendidikan sudah berkonsultasi dengan tim lawyer untuk mengajukan constitutional complaint ke MK (Mahkamah Konstitusi).

Mereka menolak UN sebagai penentu kelulusan siswa dan meminta pemerintah segera melaksanakan Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 2596 K/PDT/2008 Jo. Putusan Pengadilan Tinggi Jakarta Nomor 377/PDT/2007/PT.DKI Jo. 228/Pdt.G/2006/PN.JKT.PST: mengembalikan evaluasi pendidikan ke sekolah sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 58 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan mengembalikan kewenangan kelulusan siswa ke sekolah.

*******

Belum tuntas kisruh UN, pemerintah kini menyajikan persoalan baru, Kurikulum 2013. Guntur Ismail, Presidium FSGI, mengatakan ada 3 alasan penolakan Kurikulum 2013, yaitu dilaksanakan tanpa uji coba, adanya ketidaksiapan guru dan sekolah, dan ketidaksiapan materi.

“Buku babon dan buku siswa belum selesai dibuat, tender harus diulang, belum lagi distribusi buku juga membutuhkan waktu dan proses yang tidak singkat. Jadi, ketidaksiapan materi tentu membuat Kurikulum 2013 ini layu sebelum berkembang,” katanya.

Bayangkan, bagaimana hasil dari pendidikan di Indonesia yang kurikulumnya saja masih cacat? Apakah tujuan pendidikan itu hanya untuk mencetak lulusan seperti mesin?

Kalau iya, mesinnya saja bukan mesin yang terbaik (baca: kurikulum). Apakah berprestasi hanya dilihat dari beberapa mata pelajaran tertentu? Apakah ikan harus memanjat dan gajah harus bersalto?

Kita dapat meniru Finlandia, salah satu negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia. Di sana tak ada ujian standar dan kurikulumnya pun fleksibel, guru punya peran yang besar dan dapat berkreasi dalam memberikan perhatian khusus kepada setiap siswa. Mereka tidak mewajibkan ikan mampu memanjat dan gajah bersalto. Mereka akan mengutamakan penilaian berdasarkan kemampuan individu tiap siswa.

Catatan Redaksi: Tulisan ini dimuat di Berita21.com (http://lipsus.berita21.com/2013/berita-anda/analogi-pendidikan-di-indonesia.html)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: