Skip to content

Berwisata ke Sindang Barang, Kampung Budaya Adat Sunda

by pada 14 September 2013

Oleh Andhika Ramadhan

Suasana Asri di Kampung Budaya (foto: AR)

Suasana Asri di Kampung Budaya (foto: AR)

Kampung Budaya menjadi simbol kebudayaan Sunda, yang masih melestarikan kesenian tradisional untuk diperkenalkan ke seluruh dunia

Bangunan-bangunan sederhana adat Sunda di pedalaman Desa Pasir Erih, Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor ini masih berdiri kokoh. Halamannya berumput hijau, dipadu hitamnya batu-batu yang tersusun rapi di setiap sudut halaman.

Begitu masuk ke dalam kampung, pengunjung akan disuguhkan keasrian alam yang menyejukan hati dan ornamen rumah adat yang mempunyai nilai keindahan tersendiri. Hamparan sawah yang luas di belakang rumah adat, makin menambah pesona Kampung Budaya ini.

Bentuk rumah yang dibuat model panggung sesuai adat ini, konon dapat menjalin kerukunan warga. Selain itu, berfungsi menetralisir jika ada getaran gempa, karena memang tidak memiliki pondasi batu yang ditanam. Sirkulasinya pun pasti lebih sejuk dari rumah modern, karena dinding dan atapnya dapat meneruskan aliran udara. Sedangkan warna coklat sudah menjadi ciri khas  semua rumah adat Sunda di Kampung Budaya ini.

Terdapat berbagai jenis bangunan yang dibedakan atas fungsinya. Saung Talu, digunakan untuk penyimpanan semua alat kesenian tradisional seperti rengkong, angklung gubrak, dan reog. Juga di bangunan yang ukurannya tidak terlalu besar, di dalamnya berisi wayang golek dan cendramata khas Sunda yang sangat indah. Lalu ada 6 Lumbung Padi yang tertutup, untuk menyimpan padi hasil panen, Dan bangunan utama disebut Imah Gede, yang hanya boleh digunakan oleh Ketua Adat (Pupuhu). Tidak sembarang orang bisa masuk ke dalam rumah tersebut,” jelas Mbah Encem, pengelola Kampung Budaya.

“Kampung Budaya ini dibangun pada 2007, tepatnya 4 Maret, oleh Bapak Ahmad Mikami Kusuma Wijaya, selaku Kepala Adat sekaligus Penyumbang Lahan. Tujuannya demi melestarikan Budaya Sunda yang hampir punah, akibat pecahnya kerukunan warga lantaran kian banyaknya penduduk asing yang berdatangan. Pembangunannya menghabiskan dana sekitar 825.juta rupiah –yang 90% merupakan sumbangan Gubernur Jawa Barat dan sisanya dari Pemda Kabupaten Bogor– dengan jangka waktu 5 bulan sehingga tamu pertama diterima pada bulan ke-6, tepatnya 4 September 2007,” lanjut Mbah yang selalu mengenakan busana hitam ini.

Mbah Encem juga mengakui, pada awalnya banyak orang penting dan turis mancanegara yang datang. Tanggapan Pemda cukup baik, terbukti dengan diadakannya acara-acara penting pemerintahan di sini. Bahkan, anak-anak Kampung Budaya juga sering diundang untuk mementaskan kesenian tradisional.

Promosi Lewat Seni

Mbah Encem, Pengelola Kampung Budaya (foto: AR)

Mbah Encem, Pengelola Kampung Budaya (foto: AR)

Di Kampung Budaya ini, berbagai kesenian khas Sunda dilestarikan kembali oleh anak-anak muda yang saya rekrut. Sedikit demi sedikit mereka saya ajarkan tari Jaipong untuk para wanita dan gamelan untuk para laki-lakinya. Alhamdulillah, melalui seni semua warga kampung bisa bersatu kembali,” tutur Mbah Encem.

Setiap tahunnya, sambungnya lagi, Kampung Budaya selalu mengadakan acara Seren Tahun Tanpa Tahun. Harapannya agar tahun yang akan datang lebih baik dari sebelumnya, setidaknya sama dengan tahun sebelumnya.       

Lewat seni juga lah Kampung Budaya mempromosikan diri. Malah, seiring perkembangan zaman dan kemajuan teknologi yang semakin canggih, informasi tentang Kampung Budaya dapat diunggah melalui website tersendiri. Semua itu dilakukan agar dapat lebih dikenal masyarakat, bahkan hingga di seluruh dunia.

Paket Wisata

Ternyata di Kampung Budaya tersedia penginapan untuk para pengunjung, melalui penawaran 2 paket wisata. Pertama paket satu hari, mulai jam 08.00 sampai 16.00 WIB dengan harga Rp.75.000. Kegiatannya penuh dari pagi sampai sore hari.

Setelah kumpul di aula, pengunjung mengikuti acara tumbuk padi, yang disebut nandur. Kemudian boleh bermain enggrang dan bakiak, sejenis permainan tradisional. Seselesainya, para pengunjung diajak marak lauk atau mengambil ikan di kolam. Ikannya memang disediakan pengurus Kampung Budaya, sehingga boleh dibawa pulang.

Guna membersihkan diri seusai nyebur ke kolam, pengunjung diajak ke sungai Ciapus. Ketika kembali ke Kampung Budaya, pengunjung dipersilakan membilas badan di kamar mandi dalam penginapan. Terakhir –setelah penampilan kembali rapi dan wangi– barulah pengunjung disajikan penampilan berbagai kesenian tradisional sampai sore.

Paket kedua, menginap dengan harga Rp. 200.000 untuk satu orang, Fasilitas rumah yang cukup untuk delapan orang ini, dilengkapi.tempat tidur, lemari dan ruang tamu. Kegiatan yang dilaksanakan sama seperti paket satu hari, namun sajian kesenian tradisionalnya ditampilkan hingga malam. Tentunya, disediakan makan tiga kali dalam sehari.

“Ajaklah teman lainnya, ya,” bujuk Mbah Encem menutup pembicaraan.

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: