Skip to content

Kehilangan yang Menguatkan

by pada 17 September 2013

Oleh Maharani Dwi Utami

(www.youtube.com)

(www.youtube.com)

 

Kehilangan kedua orangtuanya saat kecil, tidak menjadi penghalang baginya untuk berkarya. Tragedi itu justru menjadi suntikan semangat bagi Vio dalam menjalani hidupnya.

Tanpa sadar air mata Vio jatuh, setiap kali ia mengalunkan lagu Senandung untuk Mama dan Tuhan dari Gigi. Jatuhnya bagaikan butiran tasbih yang putus, satu persatu rasa yang meluruh terlepas dari tali kesadaran. Terbuai dalam nada dan lirik lagu, membangkitkan ingatan atas semua kenangan pahit yang pernah ia alami. Namun, ternyata malah kepahitan itu membuat dirinya tegar sekarang ini.

Masih teringat dalam benaknya, ketika ia menangis di tengah keramaian Taman Kota di Blok M, Jakarta Selatan. Tangisan polos dirinya mengundang simpati orang-orang di sekitarnya. Entah apa yang terjadi malam itu, sehingga Vio kecil kehilangan kedua orangtuanya. Saat itu usianya baru 3 tahun, tidak banyak yang bisa ia ingat. Bahkan, untuk mengingat namanya sendiri.

Sejak kejadian itu, Vio diasuh oleh keluarga yang berdomisili tidak jauh dari tempat ia ditemukan. Mereka juga lah yang memberi nama untuknya, Vio Firmansyah. Ia merupakan anak bungsu dalam keluarga barunya.

Walaupun masih kecil, ia bertugas menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah orangtua asuhnya. Mencuci pakaian, mencuci piring, menyapau, mengepel, dan beberapa pekerjaan lainnya, menjadi santapan sehari-hari baginya. Tidak apalah pikirnya, daripada ia harus luntang-lantung di jalan yang terlalu berbahaya bagi dirinya yang sebatang kara.

Tiga tahun ia tinggal dengan keluarga barunya. Rasa lelah yang menderanya, membuat Vio kecil nekat pergi meninggalkan rumah tanpa pamit. Tidak peduli dengan yang akan terjadi pada dirinya, kembali mendatangi Taman Kota tempatnya ditemukan dulu. Ditemani semilir angin malam, ia tertidur pulas tanpa alas di tengah rindangnya pohon.

Saat pagi menjelang, ia memutar otak mencari cara agar dapat bertahan hidup di tengah kerasnya Ibu Kota. Dengan keberanian yang dimiliknya, ia coba mengamen hanya bermodalkan suara dan tepukan tangan. Beruntung ia memiliki suara indah, sehingga banyak penumpang yang memberikan apresiasi dengan memberi uang kepadanya.

Hidup di jalanan, membuat Vio bertemu dengan banyak pengamen. Oleh karenanya timbul keinginan untuk mampu memainkan alat musik, terutama gitar. Hasil yang tidak seberapa dari mengamen, digunakannya untuk ke warnet, dan mulai belajar membaca not balok

Vio tidak pernah mengenyam bangku sekolah. Hari-harinya ia habiskan untuk mengamen dari bus satu ke bus lainnya. Tidak peduli teriknya matahari atau derasnya hujan, semua diterjangnya demi mencari sesuap nasi dan mencapai keinginannya. Rupiah demi rupiah ia kumpulkan, agar bisa menyewa alat musik.

Kegigihan membuat dirinya lambat laun pandai memainkan gitar dan beberapa alat musik lainnya seperti bass dan drum. Orang-orang yang dulu melihatnya dengan sebelah mata, kini mulai memandangnya dengan kagum.

Karena keahliannya memainkan alat musik, banyak orang yang rela membiayai pendaftaran untuk mengikuti kompetisi. Ketika usianya beranjak remaja, Juara 1 se-Kabupaten pernah diraihnya pada lomba bermain drum. Sejak saat itu, ia  mendatangi Semarang, Bali, dan beberapa kota lainnya untuk mengikuti lomba-lomba sejenis.

Jarang ia pulang tanpa membawa hasil. Salah satu yang sangat berkesan baginya, ketika menjuarai ajang mencari bakat yang diadakan sebuah stasiun tv swasta. Tak tanggung-tanggung, ia mampu menyabet juara 1 pada acara tersebut.

Namun, bagi Vio hidup memang tidak seindah kata-kata mutiara. Pada usia 13 tahun, ia pernah merasakan dinginnya hotel pordeo akibat menghilangkan nyawa orang lain. Bukan tanpa alasan, ia hanya ingin menyelamatkan teman perempuannya yang diancam preman. Vio dengan emosi menggores dada laki-laki itu dengan cutter, hingga tewas seketika.

Selepas kejadian, Vio yang kebingungan hanya diam di tempat sampai polisi menangkapnya. Karena masih di bawah umur, ia hanya dihukum 1 tahun penjara. Untunglah ia mampu melalui cobaan, walau tidak seorang pun bersimpati kepadanya. Dalam hati ia berjanji, kelak sekeluar penjara akan menjadi anak baik yang mandiri.

Mengamen dari bus ke bus, masih menjadi kegiatan Vio sehari-hari sampai saat ini. Meski ia tinggal di rumah sahabat karibnya dan memiliki kerja sampingan sebagai guru les gitar. Gaji yang tidak seberapa tetap disyukurinya. Bisa berbagi ilmu dengan orang lain, cukup membuatnya bahagia.

Kelihaian jarinya memetik senar gitar, telah menghasilkan beberapa lagu indah. Baginya, keahlian yang ia miliki sekarang, cukup menghidupi dirinya tanpa harus meminta belas kasihan orang lain. Usaha dan tawakal, menjadi pedomannya dalam menjalani hidup.

Ya, kehilangan orangtua semejak kecil, terbukti malah menguatkan dirinya.

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: