Skip to content

Lihatlah Orangtua Lebih Dekat

by pada 19 September 2013
(akmasuatan.wordpress.com)

(akmasuatan.wordpress.com)

Oleh Muadz

Tak dapat dipungkiri, orangtua lah yang paling bisa memahami di kala diriku sedang kesulitan. Tuhan telah mengirim mereka berdua untuk merawat, menjaga dan menyayangiku sepenuh hati. Mereka selalu mendampingiku sejak kecil hingga dewasa demi membahagiakanku. Lalu, terbersit pertanyaan dalam benak, pernah kah sekali saja memahami orangtuaku sendiri, mengikuti kata mereka?

Berawal dari sosok ibu, yang melahirkanku dengan taruhan nyawa. Tak sedikit ibu di dunia ini yang kehilangan nyawa, saat mendatangkan diriku. Bahkan, aku dilahirkan dengan bantuan operasi Cesar. Aku tak bisa membayangkan sekuat apa ibuku ini, melahirkanku tanpa peduli nyawanya sendiri.

Setelah masa-masa menegangkan, lahir lah diriku. Aku dirawat ibuku penuh kasih sayang, selalu memberikan asupan gizi agar aku tumbuh sehat. Menuntunku agar mampu berjalan dan memelukku dikala menangis. Pengorbanan yang tak dapat dibayar dengan apapun. Sungguh, betapa besar pengorbanan ibu untukku.

Pernah beberapa kali aku merajuk, tidak mau masuk sekolah. Dengan penuh pengertian ibu mengiantarkan sampai ke kelas, sedang diriku masih saja menempel di lengannya. Saat itu masih kelas satu SD, tidak bisa jauh dari ibuku. Teman-teman dan guru pun ikut membujuk, agar bisa belajar tanpa ibu di sampingku.

Pak guru bahkan meminta ibu untuk menjauh dariku, agar teman-teman lain bisa terus belajar. Apa yang dilakukan ibuku? Dia mengambil seutas tali, kemudian aku dan ibu saling memegang kedua ujungnya. Dengan begitu ia bisa mendampingiku, meski dari luar kelas. Beliau tak peduli dilihat banyak orangtua, guru, bahkan sebagian murid yang menertawakannya, ia tetap berdiri memperhatikanku..

Begitu pula ayah sebagai kepala keluarga, yang selalu mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Kasih sayang yang lengkap –berupa materi dan rohani– selalu tercurah untuk kami. Bait demi bait nasihat terus mengalir, seiring bertambahnya usiaku. Materi pun terus keluar, demi mencukupi kebutuhan dan pendidikanku yang layak. Tak peduli seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan, ayah tetap berusaha. Tetapi, apa yang aku lakukan dengan semua pengorbanannya?

Aku pernah sekali mengecewakan ayah. Saat ayah membelikan komputer, guna menunjang pendidikanku. Awalnya aku giat menggunakan untuk mengerjakan tugas, tetapi diam-diam juga bermain game tanpa sepengetahuan ayah. Alhasil, aku mulai mengabaikan tugasku.

Ayah mulai sadar ketika nilaiku turun dan saat itu juga ayah memanggilku. Aku sudah menduga hal ini akan terjadi dan ayah bisa marah. Benar saja, ayah menanyakan penyebab nilaiku yang menurun. Aku pun mulai takut, bukan karena game. Melainkan karena aku sadar, tidak bisa menggunakan komputer pemberian ayah dengan sebaik-baiknya.

Namun, ayahku hanya tersenyum. Malah memberikan sebuah CD interaktif, agar ku dapat bermain sambil belajar. Berkali-kali kuucapkan rasa syukur dan kagum terhadap ayah, yang sabar dan tenang menyikapi kenakalan ini.

Tetapi, entah pengaruh apa, di ambang dewasa sikapku mulai berontak. Menepis semua nasihat orangtua, meski demi kebaikan. Kasih sayang yang dilimpajhkan mereka, hanya menjadi angin lalu bagiku. Apakah begitu balasan dariku atas pengorbanan kedua orangtuaku selama ini?

Ah, kini aku pun tersadar atas berbagai perbuatan yang negatif. Diriku perlu menjadi seorang anak kecil dulu, untuk mengetahui yang diinginkan beliau berdua. Sebaliknya, perlu juga mendewasa, untuk memahami nasihat mereka.

Aku kembali mendekati orangtuaku, dan mengajaknya berdiskusi tentang hidupku maupun hidupnya. Dengan begitu kuharapkan, dapat lebih memahami orangtuaku. Memahami semua makna dan bentuk kasih sayangnya, karena tak cukup bila sekadar menyesali kesalahanku selama ini.

Dalam kedewasaan inilah, aku bisa melihat lebih dekat tentang orangtuaku.

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: