Skip to content

Cerpen: Setengah Sadar Telah Kehilangan

by pada 21 September 2013
Kehilangan-Itat

(privatedoc/itat)

Oleh Shofiyah Qonitat

Telah terjadi perpisahan antara ruh dan jasadmu waktu itu. Setelah beberapa menit aku terlelap dalam tidurku, sama sekali tiada terdengar bunyi ponsel semalam. Kau dijemput —dan— aku tak tahu telah kehilanganmu.

Andai dapat aku memutar waktu. Ah, mimpi!

Aku hanya dapat memutar kenangan dan terkadang aku tenggelam di sana. Sejuta pertanyaan ‘mengapa’ selalu muncul dalam benakku. Andai kau tahu —oh, tentu kini kau melihatnya— betapa aku telah kehilangan.

Betapa ini sulit aku terima, meyakinkan pada diri saja tak kuasa. Bahkan aku tak pernah sudi menyebut kata almarhum, persis di depan namamu. Seberapa sering kaki ini berjalan ke sana dan berdiri di depan pusaramu, sebagai upaya untuk meyakinkan kalau kau memang telah berada disana. Kau telah bahagia dalam pelukanNya.

Entah bagaimana perjalanan ke sana, agar aku menemukanmu. Haruskah aku terbang untuk jumpamu? Apakah sang Pemilikku tak akan cemburu? Sangat beresiko, andaikan bisa. Lagi-lagi aku berandai, membayang penuh harap akan perjumpaan kita di kehidupan lain.

Jadi teringat, “In another life, I would be your girl.”

Oh, harusnya aku sadar.. Di dunia yang ini saja, aku tak menjadi “yours.” Lalu, bagaimana bisa aku menjadi “yours” di kehidupan yang lain. Miris benar perasaan yang sempit ini.

Kini harus sungguh-sungguh aku tepis semua mimpi, yang dulu kuciptakan sendiri. Menata ulang arah mimpi yang bertemakan cinta. Menepis angan, aku tidak akan berakhir bersamamu. Bahkan, kita pun tak pernah mengawali kebersamaan itu dengan sepatah —kata— apapun. Semua ini hanya aku yang berharap, bukan kita.

Dan jika kita bersama kemarin, hanya karena waktu. Ia memberikan aku kesempatan, untuk berada di satu tempat denganmu. Agar aku dapat menuliskannya, sehingga semua menjadi sesuatu yang dapat dikenang. Jika waktu tak memperlakukan aku dan kamu seperti saat itu, mungkin –setelah kehilanganmu– aku tak dapat tersenyum, karena tak satupun yang dapat aku kenang.

Mungkin kau masih ingat?

Ah, lupakan. Tapi ilalang telah menjadi saksi atas kebahagiaan yang tak bertepi saat aku bisa bersamamu di sana. Menyaksikan kita sebelum gelap, yang membubarkan kita. Hujan pun pernah menjadikan kita berhenti bersama, kala dingin menusuk-nusuk tulang.

Dan aku tahu, semua itu tiada berarti untukmu. Harusnya aku tahu, Pemilikmu pasti cemburu. Harusnya aku meminta padaNya terlebih dulu. Mungkin aku terburu-buru, hingga berakhir pilu.

Tiada bosan mengenangmu, tiada lupa mendoakanmu, tiada henti merindu dan tiada pernah selesai aku mengingatmu.

Sejak awal, pertama kalinya. Perjumpaan di sudut ruang yang mengantarkanku sampai hari ini, sampai seperti ini. Maafkan aku, maaf selalu dan terima kasih. Aku mengenangmu, kapanpun aku mau.

Kini kau berada di jalan menuju keabadian, semoga bahagia dalam pelukanNya. Karena Dia memanggilmu, itulah makna kalau Dia sangat menyayangimu. Dia ingin aku mengingatNya setiap saat, sebelum mengingat yang lain. Hanya cintaNya lah, yang selalu dekat dan mengalir.

Semoga kau disayangiNya, selalu. Selamat tidur, rinduku untukmu selamanya..

 

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: