Skip to content

Perjuangan Gadis Mungil

by pada 26 September 2013
Nanda yang Berjuang (foto: AF)

Nanda yang Berjuang (foto: AF)

Oleh Amanda Fachdya

Di kejauhan, terlihat sosok mungil duduk termenung di bawah sinar matahari. Ia tengah istirahat sambil menjaga kardus dan karung yang dibawa, hasil kerjanya sedari pagi. Meski panas terik membakar tubuhnya yang kecil, tetapi ia tidak gentar. Sesekali terlihat orang yang iba dan memberinya sedikit uang.

Dia lah Nanda. Kendati baru berusia 10 tahun, kesehariannya diisi dengan memulung di sekitar jalan raya Depok. Pekerjaan yang menjadi kewajiban di keluarganya, karena semua kakak dan adiknya juga dipaksa memulung oleh orangtuanya. Namun gadis mungil itu tidak pernah mengeluh, semata ia  menganggap sebagai bentuk pengabdian terhadap kedua orangtuanya.

Samar terlihat gurat penderitaan di wajah polosnya, memperjelas keberadaan begitu banyak bekas luka di sekujur tubuhnya yang mungil. Namun dengan “gengsi” kodratinya, ia mengaku semua itu cuma akibat sengatan matahari yang tiap hari menyapa tubuhnya tanpa permisi.

Keprihatinan hidup terlihat jelas, saat menatap matanya. Meski tampil rona keikhlasan ketika matanya berbicara, namun tetap agak canggung jika diminta berkisah. Ya, dirinya telah menanamkan keharusan berjuang dalam makna sebenarnya, demi memudahkan orangtua menghidupi dirinya.

Perjuangan yang tidak mudah untuk ukuran gadis seusianya. Disingkirkannya keinginan bermain dan menikmati dunia anak-anak yang riang gembira, hingga ke dasarnya. Tanpa sungkan, ia memulung botol dan kardus bekas dari jalan ke jalan. Namun –yang sungguh harus diacungi jempol– ia pantang meminta belas kasihan orang lain.

Padahal bila tidak mendapatkan botol dan kardus yang banyak, ibunya pasti akan marah. Belum lagi, banyak perintah ibunya yang juga mesti dilakukan setiba di rumah nanti. Akibatnya Nanda takut pulang ke rumah, terlebih bila tanpa hasil. Karena itu –walau sering kelelahan– ia tetap berjalan dan memulung, agar masih tersisa waktu untuk mencuri istirahat.

Meski hari-harinya terasa begitu pahit untuk dilalui, ia tidak berani menyalahkan keadaan atau orangtuanya. Keluh kesah pun tak pernah ia lontarkan dari bibirnya yang mungil. Hanya ada semangat yang tak pernah padam. Termasuk untuk mengenyam pendidikan, di sekolah gratis yang letaknya tidak jauh dari rumah.

Begitulah, Nanda masih bersyukur. Baginya, tidak ada waktu yang berhak dibuang sia-sia. Berdasar pengalamannya, setiap detik dalam hidupnya sangat berarti untuk membuat kehidupannya menjadi lebih baik dari hari ini.

Dalam kesederhanaan pikirannya, ia hanya berani mengatakan semua ini merupakan cobaan Tuhan yang pasti berakhir. Besar harapannya –agar ketika besar nanti– ia mampu membahagiakan kedua orangtuanya.

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: