Skip to content

Cerpen: Perempuan dalam Lukisan (2)

by pada 29 September 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari cerpen, yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada libur akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(javanews.co)

(javanews.co)

Oleh: Bucimuchal Pujakemi

Esoknya, pagi-pagi sekali, Pram kembali lagi ke galeri setelah semalaman tak dapat tidur. Ia gelisah bukan main, takut kalau menjadi tak waras. Ia berbohong kepada ibunya, masih ada buku yang tertinggal di sana. “Mesti diambil cepat-cepat, Mak,” kilahnya.

Metro Mini penuh sesak penumpang yang ingin berlibur ke kota. Pikiran Pram dipenuhi tanya yang tak kunjung usai. Pening bukan kepalang. Tak dihiraukannya kondektur yang meminta ongkos, sehingga makian lincah keluar dari mulut si kondektur. Duh, benar juga yang dikatakan Pak Badrun tempo hari. Lidah memang tak bertulang!

Pram diam saja, asyik dengan lamunannya tentang lukisan. Semalam, ia berpikir untuk membelinya saja. Tapi, tak mungkin. Usianya baru 16 tahun dan tabungannya tak akan cukup memenuhi harga yang dibandrol pelukis. Biar kuajak bicara saja perempuan itu, pikirnya.

Pukul 10.15 pagi, Pram sampai di galeri. Sepi sekali. Hanya petugas kebersihan tengah menyapu di ruang depan. Beruntunglah, galeri ini tak memasang tarif terlalu mahal. Segera ia memasuki ruang lukisan. Lagi-lagi tak ada orang.

Tubuh Pram kembali gemetar. Dadanya berdegup sangat kencang, mungkin orang lain dapat mendengarnya tanpa bantuan stetoskop. Namun, keraguan mulai menyergap hati Pram. Meski tetap dihampiri juga lukisan perempuan bermata sendu itu. Posisinya tak berubah, masih sama seperti kemarin.

*******

“H.. Hai. ak.. aku datang lagi,” Pram mulai berbicara. Gagap.

Cukup lama tak ada jawaban. Tiba-tiba, mata perempuan itu melirik ke arah Pram. Tak ada senyum keluar dari bibirnya. Pram kepayahan menyembunyikan kekikukannya.

“Untuk apa datang ke sini lagi? Ingin mengejekku, atau ingin menjadi temanku?” tanyanya, dengan nada dan kemuraman yang sama.

Teman? Untuk apa pula berteman dengan lukisan? Ah, Pram makin serba salah. Namun, ia juga tak mampu membendung rasa penasaran.

“Boleh aku jadi temanmu?” balas Pram.

Sejujurnya, ia hanya ingin tahu reaksi perempuan itu. Benar saja, senyumnya mengembang. Matanya pun bersinar.

“Baiklah, kita berteman. Siapa namamu?”

“Pram.”

Kemudian mereka tenggelam dalam keakraban. Sesekali Pram menyadari, dirinya bagai orang tak waras. Apa daya, ia terlanjur menawarkan diri menjadi teman perempuan dalam lukisan itu. Mereka tertawa, tak ubahnya teman lama yang baru bertemu kembali.

*******

“Kau ingin masuk ke rumahku?” tanya si perempuan tiba-tiba, setelah hampir dua jam percakapan mereka.

Pram kebingungan. Rumah yang mana?

“Akan kujamu kau dengan baik, Pram. Kau suka kopi? Biar nanti kubuatkan. Mampirlah kemari, aku akan senang sekali kedatangan tamu,” lanjutnya.

“Ke dalam sana?” Pram menunjuk pintu kecil yang dilukis di belakang punggung si perempuan.

Ia mengangguk, tersenyum ramah sekali. Entah mengapa, Pram ikut mengangguk, malah diiringi senyum. Tubuhnya bergerak, tanpa aba-aba sang tuan. Ia menjulurkan kedua tangannya ke lukisan tersebut. Tembus, lenyap. Tangannya masuk, kemudian kepala. Setengah badannya telah lenyap, masuk ke dalam lukisan.

Mata Pram kosong. Tetapi senyumnya tetap mengembang, sumringah. Kemudian ia mengangkat kaki kanan, juga kaki kirinya. Kini seluruh badannya telah benar-benar masuk ke dalam lukisan. Si perempuan menyeringai.

Brak! Lukisan jatuh ke lantai. Lampu mati. Keheningan paling sunyi mulai bersahut-sahutan. Sejak saat itu, Pram tidak pernah kembali. (Selesai)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: