Skip to content

Broken Hearted Teraphy

by pada 8 Oktober 2013
(imammudamohdafeeqirfan.blogspot.com)

(imammudamohdafeeqirfan.blogspot.com)

Oleh Shofiyah Qonitat

Terapi patah hati, ditujukan kepada orang yang sedang kecewa atau masih kecewa. Atau malah kita, yang suatu saat bisa saja mengalami kekecewaan.

Apakah mencintai merupakan aktivitas hati yang melelahkan? Kekecewaan, termasuk juga kah? Lantas, apa benar kita patah hati?

Banyak sebab yang membuat kita merasa patah hati. Kadang dari diri sendiri atau mungkin juga dari luar, yang disebabkan oleh keadaan maupun orang lain.

Untuk itu, secepat mungkin kita harus membuat hati ceria lagi. Kembali pada situasi sebelum aktivitas hati melelahkan, yang menjadikan kita sebagai korban.

Terdapat tiga (3) unsur yang harus diperhatikan, saat kita ingin mengembalikan keadaan hati dan jiwa yang tadinya baik-baik saja. Berikut penjelasannya:

Hati

Memang, tak ada orang yang tahu pasti isi hati orang lain. Sekali pun isi hati seseorang yang kita cintai atau orang yang mencintai kita. Siapa yang tahu? Jelas, hanya Allah SWT –Sang Maha Pembolak-balik Hati– satu-satunya yang tahu seluruh isi hati manusia.

Heart. Dengan membacanya saja, terlintas di benak kita gambaran ‘love’ berwarna merah atau pink, seperti ABG jatuh cinta. Padahal, terdapat 2 jenis hati. Hati yang baik dan buruk, alias hati yang bersih dan kotor.

Tentu kita tahu dua hal tersebut di banyak kondisi dan situasi. Pernah lihat seseorang yang sedang galau? Dimana hati seorang penggalau diposisikan? Hati yang baik atau buruk? Atau hati baik yang tengah terkontaminasi, sehingga menjadi buruk?

Kita sering melihat orang yang setelah patah hatinya, bilang mau move on. Kalau demikian, benarkah sakit hati dapat menghancurkan mood? Mungkin iya. Bohong, jika ada yang mengatakan sakit hati tak mengganggu.

Tak seorang pun ingin sakit hati, bukan? Kapan, adakah yang akan tahu? Tak mungkin tak terasa, kecuali kalau kita tak menyadarinya. Setiap penyakit seharusnya selalu ada obatnya, agar lekas sembuh.

Jika pusing, kita minum analgesic supaya cenat-cenutnya hilang. Luka, dioleskan betadine agar bekasnya mengering. Bagaimana dengan hati? Sakit hati ternyata juga ada obatnya! Hanya banyak yang tidak tahu, tetapi tak mencari tahu. Bahkan terkadang, yang mengetahuinya malah tak ingin segera sembuh.

Dulu –sebelum abad kegalauan ini muncul– terdapat sebuah lagu yang berjudul “Obat Hati” yang dipopulerkan oleh Opick. Kira-kira seperti ini”

Obat hati, ada 5 perkaranya
Yang pertama, baca qur’an dan maknanya
Yang kedua, sholat malam dirikanlah
Yang ketiga, dzikir malam perpanjanglah
Yang keempat, perbanyaklah berpuasa
Yang kelima, berkumpullah dengan orang shaleh..

Itu sedikit liriknya. Terdengar berat? Berat, atau tak ingin mencoba? Katanya. ingin sembuh sakit hatinya.. Ayo, move on!

Karena Rasulullah SAW sejak tempo doeloe sudah menjelaskan tentang keadaan hati, dalam hadits-nya: “Sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging, apabila baik maka akan baik pula seluruh jasadnya dan apabila daging itu buruk maka akan buruk pula jasad seluruhnya, ketahuilah bahwa dia adalah hati.” (Muttafaq ‘alaih)

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat melihatnya. Seseorang yang hatinya (kira-kira) bersih, ia akan hidup akrab bersama ketenangan. Bagaimana pun keadaannya.

Kalau di pergaulan, apa obat hati itu?

Apakah move on kita artinya harus memiliki figur pengganti? Kalau seperti itu, besar kemungkinan tidak terlalu lama kita akan patah hati lagi. Apalagi kalau si pengganti tersebut belum jelas dan belum tentu pula jodoh kita.

Bangunlah, cari alternatif. Cari lingkaran yang bisa mendekatkan kita dengan Allah –Yang Maha Pembolak balik Hati. Hanya pada Allah diperbolehkan meminta, mendekatkan pada dia yang nantinya menjadi pasangan kita. Cepatlah mengadu dan katakan yang ingin dikatakan. Entah ingin dijodohkan atau dikenalkan. Atau paling tidak, meminta agar Allah menjaganya.

Doa

Muslim atau non muslim pasti percaya dengan kekuatan doa. Karena pada hakikatnya, dalam sanubari setiap manusia percaya akan keberadaan Tuhan Yang Maha Esa.

Mengapa doa?

Doa, termasuk pada tiga amalan yang tidak terputus. Allah akan senang dan akan menambah nikmatNya, bila kita meminta melalui doa. Kita yang butuh Allah, karena Dia Maha Pemberi, Pengasih dan Penyayang. Kalau kita tak berdoa, Allah tak rugi. Dia Maha Kuasa, sama sekali tak berpengaruh bagi Allah.

Misalnya saja, sebagai anak kita tak punya cukup harta untuk membahagiakan orangtua di dunia. Akan tetapi kalau di mata Allah kita termasuk anak yang shaleh dan selalu berdoa untuk kedua orangtua, niscaya doa itu terus mengalir meskipun mereka sudah tiada.

Juga doa orang yang teraniaya, termasuk yang segera dikabulkan. Zaman sekarang lumayan banyak orang menjadi korban bullying teman-temannya. Ada pula yang menjadi korban PHP (baca: Pemberi Harapan Palsu). Tunggu, apa korban PHP termasuk korban kedzaliman? Wallahu’alam.

Apabila doa kita didengar dan dikabulkan Allah yang kemudian kita sadari, semestinya langsung bersyukur. Subhanallah, karena tak semua doa langsung dikabulkanNya.

Ikhlas

Belajar “ilmu” ikhlas dimana? Entahlah. Percuma membaca banyak buku tentang keikhlasan, tapi tak pernah menyadari benarkah semua perbuatan kita sudah ikhlas atau belum. Jauh lebih penting dan asik prakteknya, karena mengikhlaskan juga termasuk obat hati.

Lalu, bagaimana caranya supaya bisa ikhlas? Bagaimana bisa tahu kalau kita sudah ikhlas atau belum?

Seringkali kita merasa punya mimpi, target atau tujuan yang tak bisa kita raih, akibat banyaknya penyebab yang membuat kita tidak mampu. Padahal, kita sudah berjuang melalui berbagai cara. Di saat inilah kita harus merelakannya, suka atau tidak suka. Ikhlas itu harus!

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Tiada suatu balasanpun di sisiKu yang diperuntukkan pada hambaKu yang mukmin, jikalau Aku mencabut nyawa kekasihnya dari golongan ahli di dunia, kemudian ia mengharapkan keridhaanKu –dengan meninggal kekasihnya tadi– melainkan balasannya itu adalah syurga.” (Riwayat Bukhari). Maksud “kekasih” dalam konteks ini seperti anak, istri dan lain-lain,  yang dekat hubungannya dengan diri kita ketika di dunia.

Jadi, takwa itu tak bisa sendirian. Tak bisa hanya dengan baca buku dan nonton ceramah. Kita harus terikat atau mengikuti kegiatan yang mendidik, seperti mentoring. Pendidikan bukan dari keluarga dan sekolah saja, tapi juga dari berbagai kegiatan informal dan lingkungan.

Kita harus aktif mencarinya sendiri. lewat kajian dan apapun yang bisa menjadi pengisi “kekosongan” hati. Hidayah bukan cuma dinanti, tapi harus dicari. Sama seperti keridhaan Allah, yang tak bisa sekadar didamba. Bertakwa itu harus bersama-sama.

Mari istirahat sejenak dari aktivitas yang melelahkan hati. Yuk, Bismillah buka hati yang baru, cari alternatif lain.

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: