Skip to content

Cerpen: Merryline (1)

by pada 12 Oktober 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen, yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada libur akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

Oleh Rifka Annisa Islamy

(www.republika.com)

(www.republika.com)

Aku selalu bertemu Emerry setiap mentari terbangun dari tidurnya. Dan berpisah ketika bulan siap menjaga alam dalam sepi. Hanya Emerry yang mengerti aku.

Ketika darah segar mengalir dari hidungku begitu deras, Emerry sigap mengobatiku tanpa setahu Ibu. Ketika aku bercerita tentangnya, Ibu hanya tersenyum. Pernah suatu kali dia kuajak ke rumah menemui Ibu.

“Emerry, kemarin aku menceritakan tentangmu. Lalu Ibu menginginkanmu datang ke rumah. Besok pagi, akan kujemput kamu di sini,” ucapku sambil membelai rambut pirang Emerry yang menjuntai panjang.

“Aku tak ingin menemui siapapun, kecuali kamu, Aline.”

Selalu seperti itu jawaban Emerry. Tapi, aku tak menghiraukannya. Aku senang mengenal Emerry, sejak aku masih lima tahun. Aku bertemu di ladang bunga sore itu. Dia sedang menangis, karena bonekanya terjatuh di pinggir danau berwarna pelangi.

Segera kucari kayu panjang, demi membantunya mengambilkan. Sambil merayap pelan, kugapai boneka dengan cepat. Semenjak saat itu, aku bersahabat baik dengan Emerry. Ia tinggal sendiri di hutan dekat ladang bunga. Dan, aku mempercayainya.

*******

Tak satupun orang di rumah. kecuali Ibu yang ingin mendengarkan ceritaku tentang Emerry. Bahkan dua kakak laki-lakiku, pernah melarangku bermain dengannya. Alasan mereka sama. Hanya karena dia tak pernah ingin berkunjung ke rumah dan tak memiliki asal-usul yang jelas.

Tetapi Ibu membiarkanku bermain sepanjang hari bersama Emerry. Terkadang Ibu malah membuatkan roti isi salad dan daging ham untukku dan Emerry. Sedangkan ayah sudah tiada sejak aku kecil. akibat leukemia yang sudah lama diidapnya. Aku pernah menceritakannya kepada Emerry, hingga semua ceritaku sudah menjadi milik Emerry.

Suatu ketika di ladang bunga yang penuh dengan coretan warna dari Tuhan, Emerry mengajariku caranya terbang. Kulihat Emerry mengeluarkan sayap indah di belakang punggungnya. Lalu angin berhembus kencang, menggoyangkan seluruh bunga yang mengitari kami.

Perlahan dia melayang, mengulurkan tangannya untuk memintaku segera memegangnya. Dengan cepat ku pegang tangan Emerry erat, dan aku ikut melayang bersamanya. Satu meter, dua meter, sampai melewati ketinggian pohon champor di pinggir danau. Aku terus terbang tinggi bersama Emerry.

“Kamu sering terbang seperti ini, Emerry? Sangat menyenangkan, andai aku dapat seperti ini setiap hari, ” harapku sambil memegang erat tangan Emerry yang putih bersih.

“Ya, aku sering melihatmu dari atas sini, Aline,” jawab Emerry. “Suatu hari, aku akan berkunjung menemui keluargamu. Aku berjanji.” Tiba-tiba ucapan itu keluar dari mulut Emerry dan kami pun berpelukkan.

*******

janji Emerry diucapkan saat aku masih berusia sembilan tahun. Ketika darah putih belum ‘membeli’ lahan di tubuhku seperti sekarang, yang menyebabkan darah merah tak lagi memiliki tempat untuk tetap tinggal. Untuk sering bermain dengan Emerry saja, aku tak bisa berlama-lama.

Saat aku izin untuk pulang lebih cepat, terlihat jelas wajah sedihnya. Ia menggenggam tanganku erat. Tak ingin aku meninggalkannya lebih cepat.

“Aku harus istirahat, Emerry. Besok kita main lagi, ya.” Selalu seperti itu alasan yang kuberikan padanya. Ia hanya mengangguk pelan dan memelukku erat. Emerry bilang, ia takut kalau aku tak bisa lagi bermain bersamanya. Tetapi aku berjanji akan selalu menemaninya bermain.

Bau anyir darah terasa dan tercium ke hidungku ketika gusiku berdarah tanpa tertusuk apapun. Biasanya Ibu memberiku air dingin untuk berkumur, agar darah cepat membeku. Emerry juga pernah mengatakan hal yang sama. Dan aku menuruti keduanya.

Emerry pernah berkunjung suatu kali, ketika tak ada seorang pun di rumah, kecuali aku. Itu dilakukannya karena sudah sepekan aku tak mengunjunginya di ladang bunga. Dengan tubuh lemas aku meminta maaf, karena tak dapat menemaninya bermain selama itu.

Emerry bersikukuh memintaku datang ke ladang bunga, ia bilang punya kejutan untukku di sana. Dengan sedikit memaksa, Emerry membopongku sampai ke ladang bunga. Ku lihat bunga-bunga di ladang beterbangan menuju danau berpelangi, kemudian menari di atasnya. Kelopak-kelopak bunga jatuh secara berurutan membentuk hiasan di atas danau. Aku hanya tertegun, Emerry tersenyum puas.

“Kamu suka, Aline? Ini spesial untukmu,” kata Emerry sambil terus membuat hiburan untukku.

Tak lama kemudian –seperti saling merangkai– bunga-bunga itu membentuk bando dan hinggap di kepalaku.

“Kamu suka, Aline? Apapun, akan aku lakukan untukmu,”, lagi-lagi Emerry menghiburku dengan semua kekuatannya.

“Tetapi, Emerry, apakah kamu akan datang untuk menemui keluargaku? Sampai saat ini kamu tak pernah datang, kecuali jika tidak ada orang di rumah selain aku,” ucapku pada Emerry.

Ia menoleh, lalu menundukkan kepalanya.

“Aku sudah berjanji, Aline. Aku akan berkunjung suatu hari, tunggulah.. Tetapi, sekarang, aku hanya dapat berjanji bertemu denganmu saja,” jawab Emerry murung.

Yang bisa kulakukan hanya memeluknya erat. Aku tak akan meminta apapun lagi dari Emerry, begitu janjiku.

*******

Semakin hari, darah putih terus kelaparan dan tak berhenti memakan darah merahku. Semakin sering pula aku tak menemui sahabatku, Emerry. Aku rindu berlari hingga ke ujung danau berwarna pelangi bersama Emerry, kemudian Emerry menerbangkanku tinggi, menyusuri jalan-jalan yang terbentuk oleh awan lembut.

Aku rindu. Sebelum penyakit keturunan ini menggerogoti tubuhku, aku bisa melakukan semuanya. Ya, aku akui, akulah anak yang diberkahi penyakit ayah, leukemia. Maafkan aku, Emerry. Aku tak ceritakan satu hal ini padamu.

Aku dilarikan ke rumah sakit. Tulang-tulangku serasa tak ingin digerakkan. Ibu dan kedua kakak laki-lakiku begitu khawatir dengan keadaanku. Ku minta kakak pertamaku menyampaikan pesan pada Emerry, kalau aku sudah tak bisa berjalan. Tulangku sudah tak berfungsi dengan baik.

Hari pertama kakakku datang ke ladang mencari Emerry, namun Emerry tak datang. Hari kedua kakakku kembali mencari Emerry, lagi-lagi Emerry tak datang. Hingga hari ketiga, kakakku menyerah. Ia memberitahuku, Emerry tak muncul ketika ia datang.

Akhirnya kuminta kakak bicara saja pada sebuah pohon champor di dekat danau berwarna pelangi, mengenai ketidakhadiranku selama ini. Ia menuruti keinginanku. Esoknya, ia pergi menghampiri pohon champor.

“Emerry, adikku menitipkan pesan untukmu,” ucap kakak perlahan sambil menatap pohon champor dengan daun-daunnya yang selalu meneduhkan.

“Adikku bilang, ia mohon maaf karena sudah tak bisa menemanimu bermain. Dia sedang sakit, bukan sakit biasa. Tulangnya tak lagi berfungsi dengan baik. Jumlah butir darah merahnya makin menipis. Hanya itu yang ia minta untuk kusampaikan padamu, Emerry,” kakak mengusap pohon champor, kemudian pergi sambil menangis. (Bersambung)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: