Skip to content

Cerpen: Merryline (2)

by pada 13 Oktober 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian akhir dari cerpen, yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada libur akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(www.kawankumagz.com)

(www.kawankumagz.com)

Oleh Rifka Annisa Islamy

Emerry muncul dari balik pohon champor yang lain. Tak terasa air matanya jatuh, mendengar cerita dari kakakku. Ia baru mengetahui, aku memiliki penyakit yang sama dengan ayahku.

Rintik hujan turun perlahan, seolah mewakili perasaan Emerry yang tengah sedih. Suara gemuruh petir bersahutan, seakan marah pada alam yang tak berdaya menolong sahabatnya. Emerry mengeluarkan sayapnya dan terbang tinggi, tanpa memperdulikan hujan yang kian menderas jatuh menyakiti tanah. Ia menemui Tuhan.

“Ya, Tuhan, Aline adalah satu-satunya sahabat terbaikku. Aku mohon padaMu, jangan biarkan ia merasakan sakit seperti sekarang ini, Tuhan,” pinta Emerry.

“Aku pernah berjanji untuk melakukan apa pun, demi kebahagiaan Aline. Ambillah seluruh kekuatanku sebagai gantinya, Tuhan. Biarkan Aline sembuh,” Emerry merajuk, sambil memeluk Tuhan.

Namun sekadar kekuatan Emerry sebagai pengganti tidaklah cukup dan tak diizinkan oleh Tuhan. Dia meminta nyawa Emerry –yang dulu diberikan terakhir kalinya untuk hidup– meski dalam fisik yang tak seutuhnya nyata.

Dengan berat hati, Emerry menyetujui persyaratan itu. Akan tetapi ia meminta izin untuk menjadi manusia seutuhnya beberapa hari menjelang kesembuhan sahabatnya. Tuhan mengabulkannya. Lalu Tuhan mengantar Emerry pulang –tanpa kekuatan sama sekali– dengan sisa waktu hidup yang tak lama.

*******

“Aline, bangun, sayang. Emerry datang menjengukmu,” Ibu membangunkanku lembut.

Perlahan kubuka mata dan melihat Emerry yang tengah memegang tanganku erat seperti biasanya. Pipi Emerry basah dengan air mata mutiaranya, yang kini telah menjadi air biasa.

“Emerry..” Dengan suara pelan, kusebut nama Emerry, yang segera disambutnya dengan pelukan.

“Ya, Aline. Aku di sini. Bersama keluargamu. Menanti kesembuhanmu. Aku menepati janjiku, datang menemui seluruh keluargamu, Aline,” bisik Emerry sambil memberikan senyum yang dipaksakan, karena ia terus saja menangis menatap kesakitanku.

Aku hanya tersenyum, meski sangat bahagia dengan kedatangan Emerry. Kurasakan genggaman  tangannya yang erat, membuat ngilu di tulangku berkurang perlahan. Detak jantungku memulih, paru-paruku kembali dapat memompa darah secara normal. Namun aku tetap masih terbaring lemah di kasur.

Keesokan harinya, Emerry kembali datang dengan bunga-bunga ladang yang ia rangkai menjadi sebuah buket. Aku tersenyum menatap kehadiran Emerry. Sebab ketika pagi tadi check-up ke dokter, mereka tak habis pikir tentang kepulihanku yang begitu cepat terjadi. Padahal, sebelumnya jelas diagnosanya kalau usiaku tak akan lama lagi. Mungkin Tuhan berencana lain, pikirku.

Apalagi dengan keberanian Emerry –yang kini tengah berada di antara keluargaku– pasti Tuhan memintaku hidup lebih lama lagi bersama anggota keluarga baruku, Emerry. Semakin hari, kesembuhanku semakin cepat. Dokter bilang, aku sudah boleh pulang ke rumah besok. Aku bahagia setelahnya. Kutatap Emerry dan menemukan sedikit raut sedih di wajahnya.

*******

Esok harinya, aku berniat datang ke ladang bunga menemui Emerry seperti biasanya. Kedua kakakku meminta ikut, menjadi bodyguard untuk membantu jika terjadi sesuatu pada diriku yang baru sembuh.

Mendekati tujuan, kakak pertamaku berlari terlebih dahulu menuju pohon champor –tempat ia pernah menyampaikan pesanku pada Emerry. Dilihatnya secarik surat yang disertai rangkaian bunga dan potret diriku bersama Emerry, saat mengobrol di ladang bunga.

“Aline, aku menemukan sesuatu di sini,” teriak kakak dari pohon champor dekat danau berwarna pelangi itu. Kakak keduaku menawarkan aku untuk digendongnya saja, agar cepat sampai dan melihat yang ditemukan kakak pertamaku. Sesampainya di sana, kuambil secarik kertas itu dan membaca isinya.

Teruntuk sahabatku, Aline

Aku bahagia bersahabat denganmu, walaupun pada awalnya banyak yang tidak percaya keberadaanku, namun kau tetap percaya. Aku bahagia atas kebaikanmu menerima kehadiranku, tanpa kenyataan yang jelas tentang asal-usulku. Aku bahagia atas sikap lapang dadamu, menerima setiap alasanku yang tak ingin menemui siapa pun, kecuali kamu. Aku bahagia sekali, Aline.

Ketika kutahu dirimu mengidap penyakit yang sama seperti ayahmu, aku menemui Tuhan, memintaNya menyembuhkanmu. Tuhan bilang, Dia akan mengabulkannya dengan syarat waktu hidupku akan habis, setelah kamu makin membaik. Dan Tuhan menepati janjiNya. Aku tak keberatan mengorbankan nyawaku untukmu, Aline. Aku tidak mati, tetapi hanya pindah dan terus hidup selamanya di dalam hatimu.

Ingat itu, Aline. Jangan bersedih, bermainlah ke ladang bunga, tempat favorit kita, setiap hari. Aku akan hadir, seperti biasanya, dalam imajinasimu. Aku berjanji.

Jangan sia-siakan pengorbananku. Jaga kesehatanmu selalu, Aline. Aku menyayangimu, sahabat terbaikku.

Emerry

Seketika air mataku terjatuh –bukan lantaran sedih– tetapi kebanggaan atas pengorbanan Emerry. Aku pulih seperti sekarang, berkat perjuangannya. Kutatap fotoku bersama Emerry. Kudekap erat, bagai kupeluk dirinya. Hanyut dalam haru, kedua kakakku pun ikut memelukku.

*******

Saat mata membasah itulah, seolah Emerry menatapku di seberang danau sambil tersenyum dan melambaikan tangannya. Tubuhnya dipenuhi dengan cahaya. Sayapnya mulai merekah. Perlahan Emerry terbang sambil terus menatap ke arahku. Kulambaikan tanganku, dengan berjuta rasa bercampur menggelora.

Sejurus kemudian angin berhembus kencang, menggoyangkan bunga dan daun pohon champor. Awan seakan membuka jalan untuk Emerry pergi semakin meninggi. Kedua kakakku seolah menyadari yang kulihat, mereka ikut melambaikan tangan ke arah Emerry.

Langit senja –yang biasanya selalu kutatap bersama Emerry– kini mengantarnya terbang tinggi. Awan putih bercampur corak oranye dengan bauran merah yang menguning, berparade penuh keindahan menghiasi kepergian Emerry.

Daun-daun kering pohon champor –mengiringi angin yang berhembus– menari di atas danau berwarna pelangi. Aku melangkah mendekati bunga-bunga kesukaan Emerry. Mereka menyambut kedatanganku ramah dan bergerak membentuk sofa untuk mempersilahkan duduk menikmati langit senja terakhir kebersamaanku dengan Emerry.

Kini, Emerry selalu berada di dekatku. Ke mana pun aku pergi, Emerry selalu ada di hatiku. Aku akan selalu menjadi satu dengan Emerry. Menjadi Merryline. (Selesai)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: