Skip to content

Besarnya Semangat dan Mental Daniel

by pada 24 Oktober 2013
ilustrasi (sepung.blogdetik.com)

ilustrasi (sepung.blogdetik.com)

Oleh Willa Widiana

Fenomena anak jalanan, bukanlah hal yang aneh lagi di sekitar kita. Ya, mereka adalah anak-anak bangsa, sama seperti kita. Mereka merupakan tunas-tunas bangsa yang bisa dikatakan gugur sebelum waktunya, bila tidak tertolong dari jalanan.

Di antara mereka banyak yang bekerja menjadi tukang ojek payung, pengamen, bahkan pengemis. Daniel Lesmana salah satunya, yang kini masih berusia sepuluh tahun dan tengah duduk di kelas lima di SD Tugu Raja, Tasikmalaya.

Ia menjadi tukang ojek payung di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Tasikmalaya, bersama beberapa teman sebayanya. Baginya, musim hujan adalah waktuya mencari rezeki untuk membantu penuhi kebutuhan keluarganya dan menyisihkan sisanya sebagai tabungan untuk keperluannya. Kedua orangtuanya yang renta, tidak bisa bekerja lagi.

Ia sebenarnya mempunyai dua orang kakak yang bekerja di pabrik sabun, tapi ia tetap ingin mencari uang sendiri meski beberapa kali mendapat larangan dari sang kakak.

“Kalau hari ini, saya dapat Rp. 14.000, Kak,” jawabnya ketika ditanya penghasilannya sekarang.

Daniel mengakui, penghasilan terbesarnya per hari Rp. 40.000. Tapi jika sepi, tak lebih dari Rp. 10.000 yang berhasil didapat. Setiap orang yang menggunakan jasanya akan membayar Rp. 2000, atau bahkan Rp1.000, tergantung kerelaan. Sedikit memang, tapi menurutnya masih lebih baik daripada tidak mendapat uang sama sekali

Sebuah Prestasi

Untuk urusan sekolah, ia bisa sedikit lega karena adanya dana BOS dari pemerintah yang menyekolahkannya secara gratis. Ia hanya perlu membayar Rp. 10.000 setiap bulannya, sebagai tabungan wajib ke sekolahnya.

Siapa nyana, kalau Daniel sangat menyukai Matematika, IPA, dan IPS. Karenanya, ia bertekad, dirinya ingin masuk di SMPN 1 Tasikmalaya, yang dikenal sebagai sekolah favorit, Setelahnya, ia tetap ingin melanjutkan sekolahnya ke SMEA (SMK) jurusan Akuntansi.

Meski harus membagi waktunya, Daniel tetap mengutamakan belajar. Hal itu terbukti dengan ranking yang ia raih. Bahkan, sejak kelas satu ia selalu masuk ranking lima besar.

“Saya semester ini ranking ke dua. Alhamdulillah meningkat, karena ketika kelas dua semester satu, saya ranking ke tujuh dan semester duanya ke enam,” jelasnya tetap rendah hati. Meski ia juga menjelaskan, sebelumnya pernah dan harus puas dengan masuk ranking sepuluh besar.

Semangat belajar terus ditunjukkan oleh anak yang bercita-cita menjadi Presiden ini. Buktinya, ia meraih Juara Ketiga Lomba Cerdas Cermat MIPA antar SD di Tasikmalaya. Selain itu, ia dan teman satu grupnya juga menjadi Juara Kedua Sepak Bola dalam acara Porseni Kota Tasikmalaya.

Mental Baja

Semangatnya memang besar, sama besarnya dengan mental yang ia miliki. Betapa tidak, karena di sekolahnya dulu ia juga harus kuat menerima hinaan teman-teman yang mengetahui statusnya sebagai tukang ojek payung.

“Ih, Daniel suka jadi tukang ojek payung,” ucapnya menirukan ucapan teman satu sekolahnya.

Lantas, matanya berkaca. Sepertinya akan meneteskan air mata, tapi segera ia menyunggingkan sebuah senyum untuk menutupi kenangan yang menyedihkan itu. Beruntung, di sekolahnya yang sekarang teman-temannya bisa lebih menerima keadaannya tersebut.

Padahal, kemuliaan seseorang justru terletak pada ketakwaan di jiwanya..

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: