Skip to content

The King of Tempe

by pada 26 Oktober 2013
(Foto: Dok. Pribadi)

(Foto: Dok. Pribadi)

Oleh Ratna Yuliasari

Pernahkah Anda bermimpi menjadi raja di negeri orang? Jika iya, mungkin Anda dapat mengikuti jejak Rustono.

Lelaki yang semasa kecil senang menggembalakan kerbau sambil menatap langit ini, merajut benang-benang impiannya di Negeri Sakura, Jepang. Ia tinggal di Jepang bersama istri dan kedua anaknya.

Sebelum berangkat Rustono berujar pada istrinya, kalau ia mau ke Jepang asal diizinkan melakukan usaha. Sang istri pun setuju. Sebulan kemudian Rustono menetapkan impiannya, menjadi profesional dalam usaha tempe.

Mengapa harus tempe? Suami Tsuruko Kuzumoto ini menjelaskan, “Alasannya, saya sangat mencintai produk yang satu ini. Saya tidak mampu di bidang yang lain, tapi untuk tempe, saya tidak mau kalah dengan siapa pun. Saya paham keterbatasan saya, juga potensi yang saya punya, itulah yang saya fokuskan.”

Saat buah hati pertamanya, Noemi Kuzumoto, berumur 2,5 tahun, Rustono terbang kembali ke Indonesia selama tiga bulan untuk belajar membuat tempe di daerah Jawa. “Ada sekitar 60 tempat yang mau mengajari saya cara membuat tempe,” ungkap Rustono.

Kegagalan

Tiga tahun berdomisili di Kyoto, Rustono bekerja di sebuah pabrik makanan. “Sambil melakukan percobaan membuat tempe, yang nggak pernah jadi selama 4 bulan. Kemudian saya baru tahu, kalau air adalah faktor utama untuk kualitas tempe,” tuturnya. Itulah alasan ia pindah ke Shiga Prefecture, -yang dekat dengan sumber mata air terbaik untuk pembuatan tempe.

Lelaki asal Grobogan ini membangun usaha tempe miliknya dengan modal 1000 yen. Selama 4 bulan kegagalannya, ia mengalami kerugian tidak kurang dari 10.000 yen. Walaupun mengalami kegagalan dan kerugian, ia tidak menyerah, “Justru itulah waktu yang sangat bermanfaat untuk menguji diri saya sendiri,” kata pemilik hobi saksofon ini. Berkat kegigihannya, ia berhasil menjadi pengusaha tempe profesional.

Charity

Selama memproduksi tempe, Rustono mengumpulkan uang untuk charity. “Jadi, setiap saya memproduksi tempe, ada yang saya tempeli sticker charity. Uangnya saya kumpulkan, yang akan saya belikan buku cerita untuk perpustakaan di kampung-kampung. Bagi ibu-ibu yang mempunyai anak 1—5 tahun, boleh meminjam buku cerita anak-anak untuk dibacakan kepada anaknya sebelum tidur. Hal ini akan berdampak luar biasa bagi perkembangan imajinasi anak-anak,” jelas Rustono.

Lalu, bagaimana dengan imajinasi Rustono sendiri? Apakah ia pernah memiliki imajinasi menjadi seperti sekarang ini? “Ya. Imajinasi saya kuat. Semuanya tidak persis seperti yang saya imajinasikan, tapi beberapa telah terwujud. Contohnya, saya mengimajinasikan menjual tempe ke seluruh kota di Jepang dan itu terwujud,” kata lulusan Akademi Perhotelan Sahid 1987 ini.

Menemukan Hal Baru

Bertahun-tahun menggeluti tempe, Rustono mendapatkan hal baru yang belum diketahuinya. Ia terus belajar. Rustono menceritakan, “Contohnya seorang pelanggan –orang Jepang yang sudah tua– mengidap penyakit Kounenki Syogai. Sebuah penyakit tua yang mengakibatkan seluruh badan sakit ketika bangun tidur. Beliau secara rutin makan tempe mentah yang dimasukkan ke dalam penanak nasi, sekaligus dengan 50 gram nasi. Ia hanya makan itu setiap hari dan sembuh.”

Tempe yang fibuat Rustono, sebenarnya sama dengan tempe di Indonesia. “Bedanya, airnya dari mata air dan alat-alatnya di bawah pengecekan Departemen Kesehatan Jepang. Tempe yang kami produksi di bawah pengecekan laboratorium yang ketat. Jadi, tidak akan ada jamur-jamur tempe yang merugikan tubuh,” kata Rustono. Ia juga menjelaskan, di dalam tempe sebenarnya terdapat beberapa jamur yang merugikan dan bercampur dengan jamur lainnya.

Perjuangan

Saat menjual tempe ke orang-orang Indonesia, Rustono mengaku tidak ada kesulitan. Namun ia ingin menjualnya tidak hanya ke orang-orang Indonesia, tetapi juga ke seluruh kota di Jepang. “Saya paham ini sulit, karena orang-orang Jepang tidak mengenal tempe dan saya pun bukan orang Jepang. Jadi, kesulitannya double. Imajinasi sayalah yang bisa mengatasinya,” kenang Rustono

Dengan terus menekuninya, lanjutnya lagi, sambil mempromosikan atau menjual ke orang-orang Jepang. Beratus-ratus tempat –seperti restoran, hotel, katering, dan rumah sakit– saya ketuk pintunya untuk menawarkan tempe. Tidak ada orang jepang yang mau membeli atau peduli dengan contoh promosi yang saya tawarkan. Mereka menolaknya. Saya pulang ke rumah dengan capek dan tidak membawa hasil. Berbulan-bulan saya lakukan itu, sehingga sudah terbiasa dengan penolakan.

Hasrat dan kecintaannya amat besar terhadap tempe. Meskipun telah banyak yang menolaknya, ia terus memperluas bangunan pabrik yang dibuat sendiri bersama istrinya. Ia membuatnya perlahan-lahan tergantung dari hasil penjualan. Musim pun berganti ke musim dingin, ia terus melanjutkan pekerjaan. Suhu di bawah -8o Celcius, dan salju perlahan turun. “Kuping dan tangan ini membeku, terasa perih. Berminggu-minggu saya lakukan ini, sampai tak masalah lagi dengan ekstremnya alam,” kata Rustono.

Perubahan Menuju Impian

Suatu hari, seorang Jepang memerhatikan sambil menegurnya agar berhenti bekerja dan menghangatkan badan di depan perapian. Rustono menjawab, “Saya sedang membangun impian!” Hari berikutnya, orang tersebut datang dan menegur lagi. Dengan mantap Rustono menjawab, “Saya sedang membangun impian!” Kemudian orang itu datang lagi untuk ketiga kalinya dan mengajak bicara. Ternyata ia adalah wartawan surat kabar nasional di Jepang.

Wartawan itu membuat satu halaman penuh, menceritakan perjuangan Rustono mewujudkan impian. Tentang tempenya hanya ditulis sedikit. Banyak sekali masyarakat Jepang yang membacanya, termasuk para pemilik atau pengelola tempat yang dulu ia tawarkan tempenya.

”Saya kaget mendapat telepon dari mereka. Mereka bicara di telepon, menyebutkan nama dan mengingat saya pernah datang ke tempat mereka. Di tengah pembicaraan, salah satu dari mereka berujar, ‘Saya mau membeli produk impianmu. Saya kaget sekali dan tidak menduga mendapat perhatian yang luas dari masyarakat Jepang. Berkali-kali saya diundang televisi swasta nasional. Semenjak itulah, keadaan kami berubah. Pesanan para pelanggan bertambah dan banyak sekali masukan dari para pelanggan,”

Tanggung Jawab

Rustono menyadari selain kebahagiaan yang ia peroleh, masih ada pekerjaan yang lebih besar. Tanggung jawab dalam lingkup bisnis, terhadap kelangsungan usahanya, kualitas, tanggung jawab, kepercayaan masyarakat, dan demi impian-impiannya.

“Saya mendapat kesimpulan yang berharga dengan yang telah saya tekuni. Pertama, untuk mencapai tingkat tertentu yang ditargetkan, kita harus belajar menjadi profesional dulu. Kedua, untuk bisa menjual produk dalam jangka panjang, tidak selalu 100% hanya dari produknya. Saya harus membagi dua, 50% produknya dan 50% ceritanya. Yang jelas bukan cerita instan. tetapi mampu membungkus produknya untuk lebih dinikmati. Juga mendatangkan rindu bagi pelanggan untuk membelinya,” pungkas lelaki yang dijuluki The King of Tempe ini menutup perbincangan.

From → Feature

One Comment
  1. sangat menginspirasi :).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: