Skip to content

Ironi Pendidikan di Negeri Medali

by pada 29 Oktober 2013
(nrmnews.com)

(nrmnews.com)

Oleh Cempakasari Monika

Baru-baru ini Indonesia berhasil merebut semua medali di ajang Penelitian Ilmiah Internasional (1st Internasional Science Project Olympiad). Bukan hanya satu, tetapi 14 medali penghargaan dapat direbut para siswa kita.

Bukan rahasia lagi jika banyak pelajar Indonesia mendapatkan medali di ajang Olimpiade Akademik Internasional. Bisa dikatakan Indonesia memiliki banyak potensi, khususnya kemampuan pelajar Indonesia yang di atas rata-rata.

Gencarnya prestasi yang dibuat anak bangsa –melalui olimpiade fisika, olimpiade sains, olimpiade robot dan semuanya– adalah level Internasional. Namun di dalam, kita dibuat kembali berkaca dengan kualitas pendidikan Indonesia yang masih rendah. Permasalahan yang terjadi pun, selalu klasik.

Dimulai dari banyaknya anak Indonesia yang tidak mampu merasakan bangku sekolah, hingga tidak meratanya kualitas kurikulum. Bobroknya sistem pendidikan di Indonesia terlihat dari transparasi anggaran pendidikan, penanganan UN, penerimaan ke jenjang Perguruan Tinggi, dan berbagai program pendidikan yang macet di tengah jalan.

Bagaimana bisa di negeri yang nyaris tiap tahunnya merebut medali dalam olimpiade akademik, tetapi para siswa yang membawa harum nama bangsa malah seringkali dilupakan? Tidak jarang dari mereka yang telat mendapatkan uang saku dari hasil mengharumkan nama bangsa. Alasan pemerintah klasik, karena dana belum cair.

Bukan hanya itu, untuk mendapatkan beasiswa yang dijanjikan juga sangat sulit. Mereka harus mengurus segalanya dengan birokrasi yang berbelit, berbanding terbalik dengan pemenang dari negara tetangga. Tidak heran, jika para siswa perebut medali kemudian lari ke negara lain karena mendapatkan berbagai kemudahan untuk pendidikan mereka.

Selain kasus sulitnya beasiswa dari pemerintah untuk anak berprestasi dan tidak mampu, keadaan malah diperburuk slogan “sekolah gratis” dari APBN untuk pendidikan. Sekolah gratis hanyalah topeng yang dibuat pemerintah, dari mimpi untuk mewujudkan semua anak bangsa dapat menikmati bangku sekolah. Kenyataannya, orangtua para pelajar masih dibuat pusing dengan uang buku atau tetek bengek yang lain.

Begitu juga masalah penerimaan mahasiswa baru dari SNMPTN. Seperti nasib yang dirasakan Stephan, pemenang medali emas Olimpiade Kimia 2011 yang tidak diterima SNMPTN tahun lalu. Ini sangat aneh, bagaimana mungkin seorang yang memenangkan medali emas malah tidak bisa melanjutkan dan diterima di Universitas Negeri? Jika Indonesia tidak bisa memberi transparasi yang sebenarnya dalam sistem penerimaan SNMPTN, bagaimana mungkin kualitas pendidikan negeri ini bisa baik dan bermutu?

Selain permasalahan di atas, kita tentu masih ingat kejadian Ujian Nasional (UN) baru-baru ini. Pemerintah malah bermasalah pada proses persiapan dan terlambatnya soal UN yang sudah berlangsung sejak 2003. Bagaimana mungkin, UN yang harusnya diadakan serentak malah harus terlambat dan berbeda di tiap daerah? Bagaimana bisa, siswa harus menunggu soal difotokopi saat UN tengah berlangsung? Juga rendahnya kualitas kertas LJK (Lembar Jawaban Komputer). Kemana dana yang dipersiapkan pemerintah untuk UN hingga ± Rp.600 Milyar lebih?

Bukan hanya UN yang amburadul, kualitas kurikulum yang juga masih jauh untuk disebut baik. Ini dikarenakan selalu berubahnya kurikulum tiap tahunnya, yang akan membuat para pelajar bingung. Juga masih adanya sistem honorer bagi para pengajar, yang berarti mereka tidak dihargai dan sama sekali belum mendapat fasilitas yang baik.

Miris, negara yang dipenuhi pencetak prestasi –khususnya di lomba Olimpiade Akademik Internasional– malah pendidikannya masih jauh dari kualitas yang bermutu. Padahal Indonesia sangat memerlukan perbaikan kualitas pendidikan, agar dapat memperbaiki infrastruktur yang terlanjur rusak digerus budaya korupsi. Jadi?

From → Feature

One Comment

Trackbacks & Pingbacks

  1. Ironi Pendidikan di Negeri Medali | cempakasarimonica

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: