Skip to content

Bergantung dengan Cendol

by pada 31 Oktober 2013
(www.riauinfo.com)

(www.riauinfo.com)

Oleh Hafidh Dama

Selama 15 tahun, Surpin bergantung hidup dengan Es Cendol asli Banjar. Kendati demikian, Surpin masih tetap bertekad untuk menjadikan anaknya sukses.

Setiap hari Jumat, berbagai macam dagangan memadati lapangan dekat Masjid At-Tin, Taman Mini Indonesia Indah. Karena seusai salat Jumat, para jamaah maupun pengunjung lainnya mendatangi mereka. Suasana ramai memenuhi area komplek Masjid, yang mendadak menjadi pasar kaget.

Semua berebutan, dari yang sekadar berbelanja hingga mengisi perut yang lapar. Memang sudah waktunya makan siang. Kendati terik matahari menyengat kulit, tetap saja mereka menyerbu ke tengah lapang. Setelah mendapat yang diminatinya, mereka segera berhamburan lagi mencari tempat teduh.

Tidak demikian halnya bagi para pedagang, termasuk Surpin.  Malah bagi pedagang Es Cendol Asli Banjar ini, cuaca panas merupakan berkah. Pekerjaan yang digeluti sejak 1998 ini, tak selalu berjalan mulus. Ia mengaku, “Kalau hujan, jualan saya  melempem.”  Meski sebenarnya tak hanya cuaca yang menjadi kendala dalam berjualan, penjual minuman cepat saji –seperti Pop Ice, Teh Sosro, dan sejenisnya pun– menjadi pesaing bagi Surpin.

Karenanya, penghasilan yang tak menentu menjadi rumusan biasa bagi Surpin. Es cendol yang dijual menggunakan gerobak ini, menjadi sumber satu-satunya untuk menghidupi keluarga kecilnya. “Hidup saya, ya, gini-gini aja dari dulu. Syukur masih dapat menafkahi  istri dan anak saya,” ujar Surpin.

Biasanya, Surpin keliling di sekitar perumahan di daerah Garuda, Taman Mini, dan Pinang Ranti, Jakarta Timur. Bosan berkeliling, ia mangkal di tempat yang ramai pengunjung, seperti Masjid At-Tin pada hari Jumat. “Dulu, waktu Masjid At-Tin berdiri, belum ramai pedagang yang berjualan. Kalo sekarang sudah ramai sekali,” ujarnya. Selain itu, ia juga menerima pesanan untuk pesta. Ketika dfitanya keuntungannya, seraya tersenyum Surpin mengaku hanya balik modal.

Walaupun penghasilan tidak menentu dan pas-pasan, hebatnya, Surpin masih sempat menabung untuk pulang kampung saat Lebaran. Biasanya dalam tradisi tahunan ini, Surpin harus pandai-pandai mengatur uang. Ia masih terus berjualan, hingga sepekan kemudian. Jadi Istri dan anaknya yang pulang kampung terlebih dahulu, barulah ia menyusul. “Kalo nggak gitu, nanti bisa pulang tapi nggak bisa balik, “ terang Surpin.

Rumah kontrakan yang berlokasi di daerah pintu tiga Taman Mini, merupakan rumah yang menampung keluarga kecilnya Surpin. Meski rumahnya hanya 2 petak, sekaligus dijadikannya tempat produksi Es Cendol yang menjadi sumber penghasilan bagi Surpin.

Tak ada niat untuk berpindah profesi, sebab bagi Suprin tak ada kemungkinan lain untuk menyambung hidupnya. Dengan bergantung pada Es Cendol asli Banjar inilah, Surpin masih bisa bertahan. Kendati demikian, Surpin masih tetap bertekad untuk menjadikan anaknya sukses. “Jangan sampai ia seperti saya, tak punya pilihan hidup,” tandasnya penuh harap.

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: