Skip to content

Mini Novelet: Kesaksian Sang Bintang (1)

by pada 2 November 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari mini novelet, yang terdiri 3 (tiga) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(www.gen22.net)

(www.gen22.net)

Oleh Naomi Sitorus

Namaku Ami, aku seorang mahasiswi di salah satu universitas di Jakarta. Saat ini aku sedang berlibur ke tempat kakak sepupuku. Setelah sekian lama berharap kembali ke kota ini, akhirnya aku bisa menapakkan kaki disini

Aku berdiri di teras rumahnya, tempat aku menginap. Seorang diri dan menatap bintang, begitu tenang tanpa adanya kebisingan seperti di Jakarta. Tetapi, hatiku tak setenang malam ini. Kembali teringat kejadian beberapa tahun silam, saat aku menghabiskan waktu libur seusai kelulusan SMA di kota ini.

Saat itu aku masih memiliki libur 3 minggu, menjelang persiapan memasuki kehidupan kampus. Aku memutuskan berlibur ke tempat sepupuku yang jauh dari Jakarta, sebelum memasuki padatnya jadwal dunia perkuliahan.

Sesampainya di kota ini, aku dijemput oleh kakak sepupu. Namanya Diandra. Gadis yang 4 tahun lebih tua, namun memiliki banyak kesamaan denganku. Cara kami bergaul, berpikir, dan berbagai sifat lainnya. Itulah sebabnya aku memilih kota ini untuk menghabiskan waktu liburan.

*******

Singkat cerita, aku berkenalan dengan banyak teman Diandra. Hingga suatu malam, Diandra mengajakku bermain ke pantai bersama teman-temannya. Untuk sampai ke sana, membutuhkan waktu sekitar 3 jam dari kota. Kami pergi berenam.

Diandra duduk di depan dengan Joe, yang tengah menyetir mobil. Aku duduk di tengah bersama Deril, teman Diandra lainnya, lalu Indra dan Arman di posisi paling belakang. Sepanjang perjalanan kami habiskan dengan canda dan tawa, ada saja lelucon yang diceritakan teman-teman Diandra.

Di luar perkiraan kami, jalan yang kami lalui begitu padat. Perjalanan yang biasanya memakan waktu tiga jam, akhirnya kami habiskan hingga lima jam. Hal ini membuat Diandra, Indra dan Arman tertidur. Namun aku tidak dapat terlelap, meski sesekali aku pejamkan mata.

Aku tak terbiasa tidur di mobil, apalagi dengan kondisi jalan yang kurang bagus. Guncangan-guncangannya membuatku tak dapat terlelap seperti yang lainnya. Ternyata Deril juga tidak tidur, ia mengajakku mengobrol. Kali ini dia tidak membicarakan lelucon. Kami mengobrol panjang lebar tentang pribadi kami masing-masing.

Aku melakukan kesalahan besar! Aku mulai menyukai Deril, laki-laki yang lebih tua 6 tahun dariku. Perjalanan kami ke pantai, membuat aku dan Deril menjadi lebih dekat dengannya. Aku tahu, menyukai seseorang bukanlah suatu kesalahan. Namun aku telah memiliki pacar di Jakarta,  sedangkan pacar Deril di Bali. Bukan sekadar pacar, tapi calon istri.

Dari awal perkenalanku dengan Deril, Diandra selalu mengingatkanku agar tidak terhanyut terlalu jauh dengannya. Karena statusku dan Deril yang sudah memiliki pasangan –ditambah dengan peringatan Diandra– aku membangun dinding untuk membatasi rasa nyamanku ini. Namun, perjalanan ke pantai saat itu, meruntuhkan tembok yang telah kubuat.

Semilir angin dan kebersamaan yang kami lewati –meski hanya sesaat– menjadi penyebab runtuhnya tembok seketika. Aku seakan abai dengan peringatan Diandra. Aku seolah juga tak mengingat pacarku dan status Deril yang memiliki calon istri. Yang aku tahu, aku menyukainya dan menikmati perasaanku.

*******

Keesokan malamnya, kami kembali berkumpul di salah satu rumah teman Diandra. Deril mengajakku membeli makanan ringan dan minuman di toko 24 jam, setelah menyadari cadangan logistik kami hampir habis.

Di perjalanan pulang, dia membawaku ke sebuah taman yang tidak begitu jauh dari tempat kami berkumpul. Taman kecil dengan air mancur dan lampu-lampu kecil yang terlihat begitu cantik. Aku sungguh terpukau melihat taman yang begitu terawat dan pemandangan langit yang menyajikan banyaknya taburan bintang, sehingga melengkapi keindahannya. Deril menghisap sebatang rokok, lalu kami duduk di bangku ukiran kayu.

“Kamu suka tempatnya?” tanyanya, sambil menghembuskan asap rokoknya.

“Suka! Suka banget! Aku suka bintang, aku suka lampu-lampu ini juga. Aku suka …”

“Aku suka kamu,” kata Deril, membuatku tak bisa lagi melanjutkan kata-kataku.

Nadanya begitu datar tanpa sedikitpun penekanan. Kalau tidak melihat sorot tajam matanya, pasti aku mengira hanya salah satu leluconnya. Matanya terlihat begitu serius. Entah memang serius atau hanya harapanku, karena aku juga menyukainya. Aku terdiam. Benar-benar diam.

“Aku.. aku.. aku nggak bisa,” jawabku lalu melempar pandangan, kembali ke bintang-bintang.

“Boleh aku tahu alasannya?” kata Deril dengan nada yang masih sangat datar.

Aku tak mampu melihat matanya. Aku takut mengubah jawabanku dalam sekejap, ketika melihat sorot matanya. Aku mengambil sebatang permen lolipop dan memakannya untuk mengurangi rasa kejutku.

“Pertama, aku cuma 2 minggu di sini dan nggak tahu kapan akan kembali lagi. Kedua dan yang terpenting, aku punya pacar dan kamu…”

Aku tak meneruskan kalimat terakhirku. Aku memandangnya. Lantas menyibukkan diriku dengan permen, sambil kumainkan tangkainya.

“Dua minggu. Kasih waktu buat kita untuk 2 minggu ini. Nanti, di saat kamu kembali ke Jakarta, kamu bawa kisah kita. Kemudian dari atas pesawat, kamu boleh titipkan cerita kita ke bintang-bintang.  Biar mereka yang jaga. Atau kamu biarkan cerita kita seperti asap rokok ini, biar saja terlihat sesaat, tapi angin yang akan menghilangkannya.”

Lagi-lagi aku terdiam.

“Aku suka liat kamu tertawa. Aku suka mendengar ceritamu panjang lebar, tanpa ada jeda. Aku suka liat kamu nyanyi-nyanyi kecil. Aku suka …”

“Aku juga suka sama kamu!” kataku, yang kali ini memotong kata-katanya.

Dia memandangiku, bingung. Kaget. Namun kemudian sebuah senyum merekah, ketika aku memandanginya.

“Untuk 2 minggu kita,” kataku, sambil mengangkat jari kelingkingku.

Deril tertawa lalu melingkarkan jari kelingkingnya dengan jari kelingkingku. (Bersambung)

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: