Skip to content

Cerpen: Kalung

by pada 9 November 2013

Oleh Bucimuchal Pujakemi

kalungHari hujan, dan aku akan membagi sebuah cerita kepada kalian. Cerita tentang kalung warisan Ibuku. Satu-satunya harta benda yang ia miliki semasa hidup, hingga Tuhan berbaik hati untuk menjemputnya pulang, dua tahun lalu.

Setelah Ibu dijemput Tuhan, aku hanya tinggal bersama Ayah. Kami hidup dengan segala keterbatasan. Keterbatasan uang, keterbatasan pendidikan, dan keterbatasan kebahagiaan.

Kami tinggal di kolong jembatan, di emperan toko, dan di teras-teras masjid. Rumahku banyak betul. Aku sampai bingung, jika ditanya ke mana akan pulang. Sebab rumahku di mana-mana, yang penting bebas dari kawasan razia dan pemilik toko yang membangunkan tidur kami dengan seember air bekas cucian.

*******

Suatu kali, aku dan Ayah sudah tak punya uang serupiah pun untuk membeli barang, walau hanya setengah bungkus nasi. Ayah diberhentikan dari pekerjaannya sebagai kuli panggul di pasar. Karena belakangan ini, Ayah seringkali menjatuhkan karung-karung beras hingga isinya tercecer hampir seperempatnya.

Usia Ayah yang menginjak kepala lima, membuatnya tak kuat lagi memanggul berkarung-karung beras dari truk pengangkut di pasar. Ditambah lagi tubercolusis yang bersarang di dalam tubuhnya, aku tak tahu benar penyakit apa itu. Yang kutahu dari seorang perawat di puskesmas, penyakit tersebut akan mengganggu pernapasan Ayah. Seringkali aku melihat darah di akhir setiap batuknya.

“Boleh Ayah jual kalung pemberian Ibumu, Ta?” kata Ayah, pada suatu malam yang lapar.

Perutku sakit akibat menahan lapar dua hari ini, rasanya seperti ribuan cacing menggerogoti perutku. Sakit bukan main. Aku berani bertaruh, perut ayah tak jauh lebih baik dariku. Aku dibuat bimbang oleh rasa lapar dan rasa cinta pada Ibu.

“Kurasa Ibumu paham dengan kondisi kita, Ta. Ia juga pernah berada dalam keadaan seperti ini, bersama kita pula. Kita tak bisa pinjam uang. Siapapun tak akan ada yang percaya, sebab Ayah tak memiliki gaji,” Ayah membuatku bimbang sekali lagi.

Seingatku, Ibu hanya berpesan untuk menjaga warisannya, kalung yang ia beli dari hasil memulung. Ibu tak pernah bilang kalau aku boleh menjualnya, meski terdesak. Hanya itu yang kuingat.

“Biar aku mengemis saja, Yah. Uangnya akan kita belikan dua bungkus nasi. Lagipula, jalanan sedang ramai. Orang-orang kaya baru pulang dari kantor,” kataku, berusaha mempertahankan kalung Ibu.

Ayah diam. Tangannya berulang kali dikepal, dibuka, dikepal, dan seterusnya. Begitulah ketika ia sedang bimbang. Tangan ayah kurus, hitam legam, kasar, dan urat-uratnya menonjol. Jelas sekali, tangan laki-laki yang sering melakukan pekerjaan berat.

“Jangan. Ayah tak pernah suka kau mengemis. Keterbatasanmu bukan alat untuk mencari uang. Biar Ayah yang mencari pekerjaan besok pagi,” begitu katanya.

Ia tak suka jika orang-orang memberi rupiah, karena iba pada gadis 18 tahun yang tak memiliki kedua tangan sepertiku. Aku dilahirkan istimewa. Kata Ibu, aku adalah kado Tuhan yang paling ia tunggu-tunggu.

“Tuhan tak memberimu sepasang tangan. Mungkin, agar kau tak selalu menengadah minta rupiah kepada orang-orang kaya saat kau tak punya uang, Nak,” kata Ibu, suatu kali. Aku mengiyakan saja kala itu. Setelah kupikir-pikir, Ibu ada benarnya juga.

“Tapi, Ayah sudah tak punya banyak tenaga untuk bekerja.” Aku ingin sekali menahannya. Tak kuat rasanya melihat tubuh kurus Ayah kelelahan. Aku ingin menangis.

“Sudah, biar saja. Percayalah, Tuhan Maha Baik.”

*******

Malam ini kami tidur di teras masjid dekat pasar. Dan sesungguhnya, mataku sulit sekali terpejam. Perutku sangat lapar. Sejak kemarin, kami hanya minum air mentah yang kami ambil dari keran di masjid.

Warga di sini tak ada yang melirik kami sedikit pun. Jangankan membantu, iba pun segan. Masjid yang sedang kami tempati pun kosong melompong. Mungkin, sekarang sudah zamannya rumah-rumah ibadah mulai krisis jamaah.

Aku duduk saja sembari melihat langit –yang saat itu– kehilangan bintang-bintangnya. Suara batuk Ayah membuatku terkejut. Tiba-tiba ia duduk di sampingku. Kami tenggelam dalam perbincangan seorang Ayah kepada anaknya.

Akan lebih menyenangkan bila ada pisang goreng, dan mungkin, dua gelas kopi. Kami minum kopi hanya sesekali. Maklum, kami tak punya cukup uang untuk membeli dua gelas kopi di warung Bu Ida, seperti tukang-tukang ojek yang sering mangkal di sana. Satu cangkir kopi diberi harga tiga ribu rupiah. Jika membeli dua, berarti aku harus mengeluarkan enam ribu rupiah untuk sekali minum. Lebih baik untuk membeli nasi bungkus, kan?

Bagiku, Ayah adalah guru. Ia tak pernah sekolah. Tapi katanya, ia sering membaca koran atau buku yang dipinjami Baba A Hong, mantan bosnya. Ayah pernah bilang, kita tak boleh marah pada Tuhan atas yang telah terjadi. Masih lebih baik kita diizinkan untuk hidup, untuk menikmati segala ciptaan-Nya. Banyak-banyaklah bersyukur, kata Ayah.

Padahal, menurutku, kami serba kekurangan. Jika ada yang mesti disyukuri, paling-paling hanya karena kami tidak diusir ketika sedang tidur di depan kios-kios orang. Selebihnya, hampir tak ada.

“Nak, jika kau dilahirkan kembali, kau ingin apa?” tanya Ayah, mengagetkan.

“Aku ingin punya tangan, Yah. Aku ingin cantik, dan aku ingin kaya,” jawabku.

“Mengapa kau tidak ingin menjadi dirimu sendiri saja?’

“Aku cacat, Ayah. Aku ingin berguna. Aku juga ingin membuat Ayah bahagia. Apa aku salah?”

“Rita, dengar, kau tak perlu menjadi siapa-siapa untuk membuat Ayah bahagia. Kau tak perlu menyempurnakan dirimu untuk membuat dirimu berguna. Kau adalah kado Tuhan yang paling membanggakan untuk Ayah dan Ibumu, ingat?” Ayah memelukku.

Aku menangis. Aku tak dapat membalas pelukan Ayah. Karena, ya, selain membutuhkan orang lain untuk bisa saling memeluk, kau juga butuh sepasang lengan untuk memeluk.

“Ayah lapar, kan? Besok kita jual kalung Ibu. Tak apa, kurasa Ibu mengerti. Kurasa Ibu tahu, kalau kita sedang tak baik dua hari ini. Kita betul-betul kelaparan,” akhirnya aku merelakan kalung Ibu. Cintaku pada Ibu tak dapat diukur dari sebuah kalung, dan ia tahu itu.

“Tidurlah. Abaikan dulu suara perutmu. Besok kita akan makan,” kata ayah.

*******

Aku bangun pagi sekali. Matahari belum tampak. Ini subuh hari, dan ayam-ayam belum juga keluar kandang. Ayah masih terlelap dalam mimpinya. Ia terlihat sangat lelah. Semoga ia sedang bertemu dengan Ibu di dalam mimpi.

Ah, akan makan juga kami hari ini. Aku hampir lupa rasa nasi hangat, telur ceplok, dan teh manis hangat. Menetes air liurku, ketika membayangkan makanan-makanan itu.

Akan kujual kalungku pukul delapan nanti. Agaknya aku segera bersiap. Kuraba-raba leherku menggunakan kaki. Aku panik bukan kepalang. Kucari-cari dengan seksama, dan gemetar. Tak ada.

“Ayah, kalungku hilang!”

From → Cerpen

2 Komentar
  1. >.<

    Jadi ke mana Rita melangkah tanpa kalung-nya?

    • azhmyfm permalink

      Tentu menghampiri ayahnya, meminta maaf dan menangis penuh penyesalan. Keikhlasan yang terlambat, barangkali begitu moral cerita ini.. Mari kita tanyakan penulisnya.. :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: