Skip to content

Bagai Pahlawan yang Tidak Dianggap

by pada 12 November 2013
(kumpulansejarah.com)

(kumpulansejarah.com)

Oleh Cempakasari Monika

Kita sering memperingati 10 November atau yang lebih dikenal sebagai Hari Pahlawan. Adakah bedanya dari tahun ke tahun? Mungkin jawabannya adalah semangat kepahlawanannya. Apa yang salah?

Mengapa 10 November? Berdasar pelajaran sejarah, hari itu merupakan peringatan kisah perjuangan di Surabaya 68 tahun lalu demi mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang hendak dirampas kembali oleh penjajah.

Diawali kedatangan tentara Inggris yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) –yang dibonceng NICA (Netherlands Indies Civil Administration)– di Surabaya pada 25 Oktober 1945 untuk melucuti senjata Jepang.

Tetapi yang terjadi kemudian adalah upaya Belanda untuk kembali menduduki Surabaya. Puncaknya pada saat sekelompok orang Belanda –yang dipimpin Mr. W.V.Ch. Ploegman mengibarkan bendera Belanda di atas Hotel Yamato pada 18 September 1945.

Terjadi perlawanan dari pejuang yang tidak mau kemerdekaan Indonesia kembali direbut. Sekelompok pejuang Indonesia mencoba menurunkan bendera Belanda tersebut. Haryono bersama Koesna Wibowo memanjat tiang tersebut dan berhasil merobek bendera.

Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada 27 Oktober terjadilah pertempuran pertama antara Indonesia melawan tentara Inggris. Akhirnya Jenderal D.C Hawthorn meminta bantuan Presiden Soekarno untuk meredakan situasi.

Setelah gencatan senjata, sejumlah milisi Indonesia berpapasan dengan mobil yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby di Jembatan Merah. Terjadi salah paham dan menyebabkan Mallaby tewas tertembak. Tentara Inggris yang marah, menyerang secara besar-besaran pada 10 November 1945. Namun hanya dalam 3 hari, para pejuang Indonesia –yang dipimpin Bung  Tomo.berhasil memenangkan pertempuran.

Itu sebabnya kita memperingati kejadian tersebut sebagai Hari Pahlawan, untuk mengenang kembali jasa para pahlawan yang rela berjuang untuk kita. Meski keyataannya, masih banyak rakyat Indonesia yang acuh tak acuh dan tidak bersemangat memperingatinya. Termasuk para generasi muda.

********

Bagi mereka, pelajaran Sejarah membosankan. Buktinya, 6 dari 10 anak muda berumur  18-24 tahun mengakui, tidak menyukai Sejarah yang salah satunya mempelajari tentang pahlawan-pahlawan Indonesia. Hampir 90% anak muda ini sangat minim pengetahuannya dan sering salah menyebutkan nama dan tempat asal pahlawan tersebut.

Contohnya Ika (karyawati, 24 th) yang hanya hafal Cut Nyak Dien dan Cut Meutia dari Aceh, karena nama depan mereka “Cut.” Atau Mutiara (mahasiswa, 19 th) yang hanya sedikit mengetahui M. Hoesni Thamrin yang berjaya pada 1894-1941 dan turut dalam pengurusan SK Presiden. Padahal Mutiara suka pelajaran sejarah, namun mengakui masih sulit menghafal.

Sebagian besar anak muda ini mengatakan, metode yang diajarkan sejarah –terutama tentang pahlawan– sangat membosankan dan membuat mereka sulit menghafal nama dan tanggal kejadian sejarah.

Lalu apa solusi yang mereka usulkan? Kebanyakan mereka mengatakan sebaiknya metode pengajaran dibuat lebih asik seperti mendongengkan adegan sejarah. Sebaiknya pemerintah mulai memikirkan untuk menambah ilustrasi dalam text book.

Begitu pula yang dikatakan Daniel Gultom, seorang pensiuanan Guru. Dia berharap para guru saat ini lebih aktif menggambarkan kejadian di dalam buku pelajaran dan memberikan perbandingan.

“Jangan hanya berpegangan pada buku pelajaran, tapi juga prakteknya. Mungkin dengan mengajak anak-anak berdarmawisata ke museum-museum. Selain itu, para guru harus memiliki pengetahuan yang luas tentang pahlawan dan sejarah, sehingga dapat menceritakan secara lebih berkualitas, ” jelas Daniel yang sudah mengajar sejak tahun 1976 ini.

Namun dia juga kurang setuju dengan sikap pelajar yang bosan dan tidak menyukai pelajaran sejarah “Tidak bagus kalau anak muda sekarang malah tidak menyukai sejarah, karena harusnya menjadi pengingat bagaimana kita dapat terlepas dari belenggu penjajahan.”

Begitu pula yang disarankan Berliana (mahasiswi 19 th), agar tidak bosan dengan sejarah sebaiknya datang ke museum atau menonton film sejarah “Bisa melalui games atau website sejarah dan pahlawan yang didesain menarik,” usul Cornelius (Art Designer, 22 th). Atau masukan Afrina (mahasiswi, 20 th), dengan membuat rumus hafalan singkat untuk memudahkan mengingat sejarah.

Berangkat dari pendapat tersebut, dapat disimpulkan pentingnya peranan museum untuk menambah pengetahuan sejarah para pelajar. Sedikitnya terdapat 20 museum kepahlawanan di Jakarta, namun sedikit sekali yang terawat.

Seperti Museum Fatahillah yang sangat tak nyaman saat kita memasukinya, atau museum Keprajuritan yang tidak terurus dan penerangan yang sangat minim. Akibatnya museum jadi terlihat tua dan membosankan, malah museum Keprajuritan terlihat menyeramkan.

Sepertinya pemerintah harus memikirkan dampak yang terjadi, jika museum tidak terurus dengan baik. Tidak mengherankan bila makin banyak generasi yang akan mengatakan sejarah membosankan, yang membuat mereka tidak mengerti semangat pahlawan.

*******

Lalu, siapa figur pahlawan masa kini bagi mereka?

“Pak Jokowi,” tegas Riana (mahasiswi 20 th). Dengan jawabannya, kita dingatkan aksi heroik yang dilakukan Ir. H. Joko Widodo. Memang banyak yang telah dilakukan dirinya untuk Jakarta, seperti Kartu Sehat, pengerukan waduk Priok dan masih banyak lagi. Sudah seharusnya kita melihat kebijakan-kebijakan Jokowi ini, sebagai salah satu tindakan kepahlawanan masa kini.

“TKI,” usul Aris (mahasiswa 19 th). Aktifis himpunan kemahasiswaan di kampusnya ini mengatakan, TKI sebagai pahlawan devisa ini tidak dianggap bahkan harus menerima siksaan dan perilaku yang tidak baik dari para majikannya di luar negeri. Namun anehnya, pemerintah kita kurang memberi perlindungan yang baik bagi pahlawan devisa ini.

Seperti kasus beberapa hari ini, ribuan TKI overstay (sudah habis masa tinggalnya) membutuhkan makanan dan perlindungan medis di Arab Saudi. Atau kisah Ceriyato, TKI di Malaysia yang kabur dari siksaan majikannya. Atau suka keluarga Ruyati yang meninggal akibat hukuman pancung di Arab Saudi karena membunuh majikan yang menyiksanya.

Sungguh ironis, memang. Betapa pahlawan yang membantu meningkatkan devisa negara malah tidak dipandang dan dilindungi negara, meski mereka disiksa, diperkosa, tidak digaji dan lain sebagainya.

*******

Sebenarnya masih banyak pahlawan masa kini, seperti orang-orang yang mengharumkan nama bangsa dengan tujuan yang berbeda. Everyone can be a hero with any purpose.

Seperti halnya Timnas U-19, atau Roger Deshyca yang menjadi Juara 1 Olimpiade Biologi Internasional  maupun veteran yang bahkan dilupakan negara. Mereka semua adalah pahlawan dengan tujuan akhir demi mengharumkan nama Bangsa.

Semangat tersebut yang harusnya mewarnai generasi muda. Namun bagaimana semangat tersebut dapat tertanam, bila kita sama sekali tidak menyukai sejarah dan mengenal pahlawan-pahlawan kita? Bangsa yang baik adalah bangsa yang mengenang para pahlawannya, pesan Bung Karno dulu.

Jadi mengapa sebagai generasi muda, tidak mencoba mulai menyukai dan ingin tahu tentang pahlawan-pahlawan kita? Kita tidak akan menjadi merdeka, jika para pahlawan tidak pernah berjuang untuk generasi saat ini. Betul kan?

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: