Skip to content

Pengemis Cilik Jalanan

by pada 14 November 2013
pengemis panji

Kiki (Foto: Panji)

Oleh Muhammad Panji Musthafa

Teriknya matahari, debu dan asap knalpot kendaraan yang lalu lalang menjadi sahabat bagi para pengemis jalanan. Mereka mengais rezeki dari para pengguna jalan  dengan cara meminta-minta, mengharapkan belas kasihan orang untuk mendapatkan rupiah.

Ada laki-laki, perempuan, orang tua, cacat, dan anak muda, bahkan anak-anak di bawah umur. Tujuan mereka melakukan pekerjaan ini untuk bertahan hidup. Mungkin kita masih bisa memahami, jika yang melakukannya orang cacat, sudah sangat tua atau tidak sanggup lagi bekerja.

Tapi kenyataanya yang kini terserak di kota adalah anak-anak kecil yang masih di bawah umur dibawa ibu atau ayahnya ke jalanan untuk menjadi pengemis. Saat pengendara motor dan mobil berjalan perlahan dan lampu lalu lintas berganti warna menjadi merah. Kiki mulai beraksi.

“Kak, minta uangnya kak, seribu aja,” kata Kiki dengan wajah melasnya.

Ia berpindah dari satu pengendara motor ke yang lain. Dengan selalu memasang wajah memelas, dia mencoba mendapatkan belas kasihan dari para pengendara.

“Aku harus dapat duit kak, biar nanti gak dimarahin sama Mama”, ucap Kiki lagi.

Memang kasihan anak itu, baru berusia 10 tahun tetapi harus hidup di jalanan yang penuh polusi. Belum lagi keselamatannya yang selalu terancam oleh kendaraan yang melaju dengan kecepatan tnggi.

Ucapan Kiki tadi memang benar. Dia takut dimarahi oleh ibunya yang menunggu dan selalu memantaunya di seberang jalan.

“Mama selalu marah, kak, kalau aku tidak dapat duit banyak,” ucap Kiki sambil memainkan tangannya dan tertunduk malu.

Kiki masih beruntung sempat mengenyam pendidikan, kini duduk di kelas 4 SD. Dia melakukan aktivitasnya sepulang sekolah, sampai pukul 8 malam. Dia tidak tahu berapa penghasilan yang didapat setiap harinya, karena saat lampu merah berganti menjadi hijau, dia kembali menghampiri ibunya yang mengawasi dari kejauhan.

Kiki terlihat senang berada di jalan, karena banyak temannya yang sebaya. Tapi ketika melakukan aksinya, mulailah mereka berakting. Terkadang mereka saling berebut uang, pemberian para pengendara kepada mereka. Sebab kini tak banyak yang mau memberikan uang, karena masyarakat sudah mengetahui uang yang mereka kasih kepada anak jalanan itu akhirnya untuk siapa dan untuk apa.

Kalau pengemis dewasa ditanya alasan melakukannya, mereka akan menjawab karena ‘himpitan ekonomi’. Tapi bagaimana kalau pertanyaan itu kepada Kiki? Kiki akan menjawab ‘disuruh Mama’. Sungguh ironis, memang, melihat banyaknya pengemis cilik berkeliaran di jalan yang seharusnya bukan tempat mereka.

Andai saja orangtua mereka mempunyai pengetahuan tentang apapun yang membuat mereka dapat bekerja untuk bertahan hidup, mungkin Kiki dan teman-temannya yang lain tidak akan berada di jalan.

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: