Skip to content

Cerpen: Dua Pasang Mata Tanpa Kata

by pada 16 November 2013
(jiyofine.wordpress.com)

(jiyofine.wordpress.com)

Oleh Shofiyah Qonitat

Dua pasang mata saling menatap. Sepasang mata berkaca-kaca dan sepasang mata satu lagi memandanginya dengan tatapan kosong. Tiada sepatah—dua patah kata pun yang terucap di antara keduanya. Yang tersirat adalah suatu keberatan  di antara keduanya.

“Kapan kamu akan kembali?”

“Maaf, aku nggak bisa janji..”

“Dean, katakanlah kalau memang kamu tak kembali ke tanah air ini.”

“Olivia, maafkan aku.”

Olivia berpaling dan memunggungi Dean. Langkahnya perlahan meninggalkan Dean di taman belakang rumahnya. “Pulanglah..”

“Tapi, ini hari terakhir kita,”

Langkah Olivia tertahan.

“Ya, sejak tadi kau memberitahukanku, kalau besok kau akan pergi.”

Air matanya mulai muncul satu demi satu, hingga mengalir membasahi pipinya yang merona. “Paris itu jauh, Dean.”

“Maaf, aku tak mengajakmu,”

“Harusnya kamu minta maaf karena mendadak memberitahuku! Dan tak bisa pastikan kepulanganmu! Bukan maaf karena tak mengajakku!”

Wedges Olivia membentur lantai, bersuara senada dengan suasana hatinya. Ia menuju kamarnya, disusul Dean yang enggan pulang dan meninggalkan Olivia.

Dean tertahan di depan pintu kamar, yang dikunci Olivia dari dalam.

“Dengar aku, ini semua di luar rencana. Kalau bukan karena permintaan Ibu, aku takkan meninggalkanmu.”

“Bayangkan sepinya menghadapi hari kemerdekaan, tanpamu!”

“Aku mengerti..”

“Kamu hanya berkata-kata. Tak ada artinyakah semua ini? Tiga kali berturut-turut kita upacara bersama setiap 17 Agustus, sebulan lalu kau janjikan sesuatu yang indah di tanggal 17 nanti. Katamu akan rayakan kemerdekaan dengan cara kita, tapi kamu meninggalkanku di hari itu.”

“Sungguh, semua itu berarti, Olivia.”

“Pergilah sekarang..”

“Aku ingin kamu mengantarku pada tanggal 17. Aku sangat berharap, dan maafkan jika belum sempat kupenuhi janji.”

Dean dengan sejuta kata sayang dan sikap romantisnya selama sebelum hari ini tiba, pikir Oivia. Lusa adalah hari keberangkatannya menuju Eropa sebab Ibu adalah segalanya baginya. Sebab Ibu adalah surga kasih sayang. Ibu memintanya tinggal di sana. Tiket pun menjadi hadiah untuk Dean, karena semester 2 lalu IP-nya sangat memuaskan.

*******

Apa boleh buat, perceraian orang tua membuat Dean harus mengikuti perjanjian Ayah dan Ibunya. Setelah Dean berusia 18 tahun, ia harus segera menyusul Ibunya tinggal di Paris. Kerinduannya pada Mom, tentu telah melebihi kecintaannya pada Olivia. Satu-satunya perempuan yang paling manis dan paling cantik, setelah Mom.

“Apa kata Olivia tentang keberangkatanmu?”

Dean menoleh dan menjawab penasaran Ayahnya. “Pastinya, dia tak ingin aku pergi. Dia kecewa.”

“Sudahlah,” Ayah menepuk pundak Dean, lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Kamu bisa datang ke Indonesia, kapan pun kamu mau, Dean.”

“Bukan itu, Ayah. Tapi ini tentang hari yang biasa kami lalui bersama. Tentang hari yang kami artikan.”

“Titip salam untuk Mamamu, katakan Ayah sangat merindukannya. Ceritakan padanya, Ayah di sini tidak menemukan yang sebaik dan lebih baik dirinya.”

Dean mengangguk dengan perasaan khawatir, kalau kerinduan Ayah tak pernah sampai pada Ibunya di Paris.

*******

Malam datang. Olivia tak juga membalas pesan singkat, yang sudah dikirimkan Dean berkali-kali. Ponselnya juga tak aktif saat dihubungi. Was-was benar perasaan Dean. Saat arloji menunjukkan hampir jam 12 malam, akhirnya ponsel Olivia aktif lagi.

“Olivia, hari itu tanpamu, juga tak berarti bagiku. Rasa tak ingin kehilanganmu, juga sama seperti rasamu tak ingin kehilanganku. Kamu harus tetap jadi dokter, meski tanpa aku.”

Di seberang sana, Olivia mendengarkan Dean tanpa mampu menyahut apa-apa. Olivia masih mendengarkan, sampai Dean selesai bicara. Olivia memandangi foto Dean dan dirinya yang dipajang di meja dekat ranjangnya. Hanya isak tangis kecil yang terdengar oleh Dean.

“Ayolah, jangan seperti ini. Semua akan baik-baik saja..”

“Kita akan baik-baik saja?”

“Ya. Aku yakin. Tapi, kalaupun kamu tidak bisa, kamu boleh mencari atau menerima yang lebih baik dariku. Aku selalu sayang kamu, Olivia.”

“Aku juga, Dean.”

Keduanya akan sama-sama kesepian dan keduanya akan sama-sama kehilangan. Jika Dean sungguh-sungguh memilih Olivia, tentu dia akan kembali. Meski entah kapan. Belum berpisah saja, malam ini sudah seperti malam terakhir bagi keduanya. Tiada pertanda atau apa pun yang membuat perpisahan datang lebih cepat dari waktunya. Setiap hari adalah kesempatan. Kesempatan untuk bersama atau memperbaiki yang rusak di hari yang lalu.

I love you.”

I love you, more.”

*******

Tiba lah saatnya hari keberangkatan Dean. Semua sudah siap untuk dibawa, sedangkan urusan kuliah di Indonesia, akan diurus Ayah. Pesawat yang akan mengantar Dean ke Paris, terbang nanti siang. Sialnya, hari ini Olivia tidak mengantar Dean ke airport. Pagi ini Olivia akan mampir sebentar ke rumah Dean dan memberikan kado untuk Dean.

Hari ini, dua wajah gelisah bertemu. Kembali saling memandang, tanpa pelukan selamat jalan dan selamat tinggal. Olivia tidak bisa berlama-lama, hari ini dia harus cek darah ke rumah sakit untuk keperluannya.

“Maafkan aku.”

“Maafkan aku juga, Dean. Ini untukmu..” Olivia memberikan kotak hitam dihias pita berwarna putih. “Hati-hati, jangan lupa kirim email. Telepon akan sangat mahal, kan?”

Dean tersenyum. “Terima kasih, aku juga punya sesuatu untukmu.” Dean memberikan shop bag berukuran sedang berwarna pink.

“Dean, kembalilah kapan pun kau bisa.”

“Ingat aku, Olivia. Aku selalu disini..”

“Kamu pergi sendiri ke airport?”

“Ya, Ayah tadi pagi pergi ke Kalimantan. Sudah ya, aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa, Olivia.” Dean masuk ke mobilnya, dia hanya diantar supir pribadi Ayahnya ke airport.

Betapa sepinya hari kemerdekaan tanpamu, Olivia. Menuju airport dengan kesendirian, pergi ke kota paling romantis juga sendirian.

*******

Siapa sangka, sebuah truk dengan pengendara yang mabuk tiba-tiba menghantam mobil Dean. hingga terseret beberapa meter dan merenggut nyawa Dean. Kondisi Dean terhimpit di dalam mobil, supirnya pun mengalami luka yang cukup parah. Dean berpulang, tanpa sempat menyampaikan rindu pada Ibunya.

“Apaa?” Ayahnya Dean terbelalak, setelah mendapat kabar dari rumah sakit yang menangani korban. Ayah bergegas meninggalkan pekerjaannya di Kalimantan untuk cepat sampai di samping Dean.

Dengan seluruh penyesalan karena memilih pekerjaannya, daripada mengantarkan putranya. “Maafkan Ayah, Dean. Maafkan Ayah!”

Olivia langsung mendatangi rumah sakit, setelah Ayah Dean memberitahunya. Namun kekasihnya sudah tiada, sebelum ia dibawa ke rumah sakit.

*******

Tak ada kata apa-apa. Kini kedua wajah itu sama-sama kembali berhadapan. Tanpa suara dan tanpa pesan, kecuali yang terakhir tadi pagi. Olivia hanya mampu menatap, sambil bercucuran air mata.

Dengan masygul, Olivia berbisik dalam hati. Seperti ini kemerdekaan tanpamu, Dean. Sampai jumpa…

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: