Skip to content

Si Dragster Menjadi Freestyler

by pada 21 November 2013
(no-name-freestyle.blogspot.com)

(no-name-freestyle.blogspot.com)

Oleh Bayu Tri Anggoro Putro

Sabtu sore lalu, terlihat pe­mandangan yang tidak biasa di pintu masuk utama Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Banyak orang berkerumun di jalan putaran ba­lik, pintu masuk utama. Terdengar raungan mesin motor-motor besar bersahutan.

Setelah diperhatikan, ternyata beberapa motor besar sedang melakukan atraksi-atraksi berbahaya. Suara decitan ban motor, suara knalpot yang menderu semakin seru mengiringi gaya yang mereka lakukan. TMII tidak lagi men­jadi tempat wisata saja, beberapa freestyler sering berlatih sekaligus memberikan hiburan gratis kepada pengun­jung.

Di jalanan yang cukup panjang ini, mereka coba manfaatkan sebagai tempat latihan freestlyle, tak terpikirkan sebelumnya ka­lau jalan pintu masuk utama ini akan dimanfaatkan. Setahu masyarakat, jalan masuk hanya dipa­kai sebagai akses utama ke TMII dan Museum Purna Bhakti.

Mereka adalah Straight Line Freestyle Team. Tim yang dibentuk 2003 pernah mengikuti kompetisi drag race dan road race, padahal ketrampilan bermotor ini baru mereka tekuni serius mulai 2005 sampai sekarang. “Straight Line” diketuai Harley Togobu Evans dan mempunyai 18 anggota. Beberapa di antaranya masih duduk di bangku SMA, meski kebanyakan mahasiswa dan sudah bekerja.

Adalah Lingga Narendra, yang akrab disapa Lanay oleh teman-temannya, merupakan salah satu anggota yang paling berbakat. “Lanay sering menyabet juara dari kompetisi freestyle motor domestik,” ungkap Ketua Klub.

Beberapa gelar yang didapatnya antara lain, lanjut Harley lagi, Juara Ketiga untuk kategori freestyle motor 150 CC pada 2008, Juara Kedua kategori motor bebek 2008, kembali Juara Kedua kategori 150 CC pada 2009 dalam ajang ‘U-Mild Freestyle’ di Surabaya dan Semarang. Selain itu,  dia juga pernah mengikuti ajang kompetisi freestyle se-Asia Tenggara di Thailand pada 2011. Namun, sayang tidak berhasil merebut juara.

Lanay yang kuliah di perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta ini mengaku, freestyle tak sengaja dia tekuni. Saat ditanya penyebab dia dan teman-temannya memilih beralih menjadi freestyler sampai sekarang, dia menjawab untuk bersenang-senang saja. Sekadar menjalani hobi yang positif, ketimbang melakukan kegiatan lain yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Gue melakukan freestyle ini sebenarnya iseng aja, karena udah bosen ajang drag race,” tutur Lanay di saat istirahat latihan. Lanay bercerita kalau beberapa temannya yang ikut freestyle itu, dulunya joki drag race juga. Bukan murni terjun untuk freestyle.

Dia mengakui pula, di lain sisi kegiatan freestyler menghasilkan uang jajan tambahan. “Setidaknya, cukuplah kalau buat malam mingguan,” celetuk Lanay. Dia juga mendapat tambahan –karena sebagai anggota klub motor besar Horse Power Indonesia– sering diminta mewakili untuk test drive motor-motor besar yang dipasarkan di Indonesia.

Lanay dan teman-temannya biasa latihan hampir setiap hari di TMII, tapi jadwal yang pas­ti pada Senin, Rabu, dan Jumat. Mereka mencoba menarik perhatian pe­ngunjung dan masyarakat yang melintas, dengan memperagakan trik wheelie, stopie, slide, dan burn. Selain latihan, kadang sekaligus menguji entertainment: Apakah trik-trik yang dilakukan mampu menarik perhatian, menghibur atau justru membosankan bagi orang lain.

Kendati penuh resiko –yang kerap dialami biasanya cedera pada kaki dan tangan– mereka tidak pernah kapok ataupun trauma. “Karena sering cedera, kita menjadi lebih hati-hati,” terang Harley, si dedengkot Straight Line.

Menjadi freestyler memang terlihat keren, tetapi tidaklah mudah. Lanay mampu seperti itu, karena rutin latihan dan terbiasa. “Gue bisa karena terbiasa. Gak mau ngelakuin apapun dengan tanggung,” sahut Lanay.

Dia pun berpesan untuk sukses dalam bidang yang disukai, harus ditekuni serius. Meskipun berawal dari hobi, ternyata tidak hanya menghabiskan waktu dan materi saja.Bisa menghasilkan uang, bahkan dapat menjadi profesi dan berhasil dalam materi maupun prestasi.

Tetapi di balik itu semua, tentunya memerlukan pengorbanan yang harus diperjuangkan. Berani?

From → Feature

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: