Skip to content

Cerpen: Payung Kenangan (1)

by pada 23 November 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(tumblr_inline_mh2n8rhWJq1qcppnh)

(tumblr_inline_mh2n8rhWJq1qcppnh)

Oleh Hegar Purna Purina

Aroma tanah yang basah, menyebar ke seisi ruangan dapur pagi ini. Semerbak harum yang khas mengiringi pagi yang dingin, menambah suasana piluku. Ya, hujan lagi. Ah, baru saja tadi malam kukeringkan jas hujan. Tidak mungkin kukenakan hari ini, pasti masih basah.

“Ibu, kita punya payung?” tanyaku pada Ibu yang tengah menyiapkan bekal.

“Ada, tuh di dekat rak sepatu,” jawabnya.

“Yah, itu kan sudah usang, Bu. Banyak sisinya yang sudah berlubang,” ucapku.

“Kau ini, kita kan memang hanya memiliki satu payung. Ibumu tak sanggup membeli yang baru. Kau tahu kan, bagaimana kondisi keluarga kita saat ini. Pakai sajalah itu! Kau mau membolos sekolah hari ini?” tanya Ibu kesal, sembari menatap wajahku.

Aku sangat mengenal Ibuku. Jarang ia mengeluarkan logat bataknya, kecuali jika sedang marah. Kalau sudah begitu, aku hanya bisa diam.

Setelah menaruh bekal ke dalam tas, aku mengambil payung usang itu. Kuperhatikan sejenak fisiknya. Pikiranku pun melayang ke masa laluku. Payung berwarna merah hati polos, dulunya pernah menjadi payung favoritku.

Entah hanya kebetulan, saat payung itu masih bagus, ia memberi banyak keberuntungan di hari-hariku. Tapi kini sudah usang dan berlubang. Kenangan hanyalah tinggal kenangan.

Ah sudahlah. Ini kan hanya payung. Bisa apa sih dia? gumamku. Aku pun segera meraih sepatu dan lekas kukenakan. “Ibu, aku berangkat, ya! Assalammu’alaikum…” ucapku sambil mencium tangan ibu.

“Wa’alaikumsalam.. Hati-hati, ya, nak!” ucap Ibu, mengantar kepergianku. Kubuka payung itu, dan aku pun melangkah di tengah hujan.

*******

Sepuluh menit sebelum bel berbunyi, aku sudah sampai di sekolah. Terlintas di pikiranku untuk mampir ke toilet dulu. Seragam dan sepatuku kotor dan basah. Aku harus membersihkan dan mengeringkannya. Usai merapikan penampilan, aku pun bergegas meninggalkan toilet.

Di perjalanan menuju kelas, aku tertarik melihat kerumunan gadis berseragam putih abu di depan kelas XI IPA 3. Aku terpancing untuk mendekat. Ada apa, ya?

“Na, ada apa, sih, rame-rame?” tanyaku pada Risna, teman sekelasku yang terlihat di dalam kerumunan.

“Ada murid baru di IPA 3, Vi! Ganteng, deh!” jawabnya.

“Oh, ya? Mana?” tanyaku kembali.

“Itu, tuh!” seru Risna sambil menunjuk ke dalam kelas IPA 3. Kuikuti arah telunjuknya dan menemukan sosok pria asing tengah mengobrol dengan teman sebangkunya. Kuperhatikan parasnya. Ya, dia memang tampan. Pantaslah, ia jadi idola baru di sekolah.

“Teet! Teeet!” suara bel pun berbunyi.

Aku dan Risna pun bergegas menuju kelas kami. Sebelum memasuki kelas, aku menyempatkan diri membuka payungku yang basah, dan meletakkannya di teras.

Tujuh jam berlalu. Suara bel tanda usainya jam pelajaran pun berbunyi. Setelah merapikan buku-buku dan alat tulis, aku segera menuju keluar kelas untuk menjemput payungku.

Terasa ada yang ganjal bagiku. Di sana. Ada seseorang yang berdiri di samping payungku, sedang memperhatikannya. Penasaran, aku pun mendekat. Oh, ternyata dia, si anak baru tampan itu.

“Ehem!” dehamku. Ia pun terkejut menyadari keberadaanku.

“Oh, maaf. Ini payungmu, ya?”

Aku hanya mengangguk dan tersenyum. Kemudian, kuberanikan diri untuk bertanya, “Ada apa dengan payungku?”

Nggak, nggak ada apa-apa, kok!” jawabnya sambil tersenyum. “Aku duluan, ya!” lanjutnya lagi, yang kemudian pergi menghilang dari pelupuk mataku. Orang aneh, pikirku.

*******

Keesokan harinya aku berangkat dengan payung usang itu lagi. Hujan kembali menemani pagiku. Agar tidak kebasahan, kali ini aku sudah menambal sisi payungku yang berlubang dengan lakban cokelat.

Namun, dewi keberuntungan nampaknya sedang tidak bersamaku. Hujan sangat deras. Tambalan pada payungku rusak, sehingga aku sukses sampai di sekolah dengan basah kuyup.

Aku melangkah gontai menuju ke kelas. Ketika melewati kelas IPA 3, tiba-tiba ada yang berseru, “Hey, gadis payung merah!” Aku pun menoleh. Dan di sanalah ia berdiri. Laki-laki itu, berdiri di samping pintu.

“Ck.. ck.. kamu tidak membawa payung?” tanyanya sambil melipat tanganya.

Aku menatapnya, lalu kuangkat tangan kiriku yang sedang menggenggam payung. Ia pun menunjukkan cengirannya, lalu mendekatiku.

“Jaga baik-baik payung itu, hujannya pasti awet. Kamu akan membutuhkannya nanti,” ucapnya, yang disusul senyuman. Sangat manis.

Aku bergeming, diam membatu di tempat. Apa maksudnya?

Di kelas aku lebih banyak melamun. Pikiranku jadi sering melayang tak tahu arah akhir-akhir ini. Penyebabnya hanya satu, laki-laki itu. Ia berhasil mengalihkan perhatianku dari pelajaran kesukaan, kimia. Dia terus menari-nari di kepalaku.

“Vi, ayo pulang!” seru Risna, yang berhasil membuyarkan lamunanku. Rupanya jam sekolah telah usai. Hujan masih turun di luar. Aku segera merapikan alat tulis, lalu menyiapkan payung. Kemudian, aku melangkah ke gerbang sekolah. (Bersambung)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: