Skip to content

Tak Sekadar Jual Beli

by pada 3 Desember 2013
(tekno.kompas.com)

(tekno.kompas.com)

Oleh Winda Sri Hastututi

Jika ada yang menyebut kata pasar, gambaran apa yang terlintas di benak Anda? Mungkinkah tempat yang bau, kotor, becek, menjijikkan atau tempat yang ramai dengan pembeli?

Mungkin sebagian kita berpikir kalau bau, kotor, becek dan menjijikkan identik dengan pasar tradisional. Namun di balik itu semua, pasar tradisional tetap memiliki banyak pelanggan setia yang memadati pasar setiap harinya. Entah ibu rumah tangga, asisten rumah tangga, maupun pedagang sayur, yang membeli untuk menjualnya kembali di tempat lain.

Di pasar, semua kebutuhan tersedia. Mulai dari sayur-mayur, buah-buahan, beraneka macam daging dan ikan, beras, dan telur, Juga baju, tas dan sepatu tersedia di pasar tradisional. Selain pembeli dan pedagang, di pasar kita temukan pula penjual kantung plastik, penyedia jasa kuli angkut, maupun pengemis. Bahkan tak jauh dari pasar, terdapat ojeg dan becak. Sehingga tidak heran, pasar selalu ramai.

Setidaknya, itulah yang akan Anda lihat di Pasar Desa Bojonggede. Pasar yang terletak tak jauh dari Stasiun Bojoggede ini selalu dipadati pengunjung. Akibatnya kemacetan di jalan Bojonggede, tak terelakkan. Setiap harinya selalu hadir Polisi yang mengatur lalu lintas demi mengurai kepadatan.

“Diatur saja macet, apalagi kalau tak ada yang mengatur,” ungkap Supardiman, polisi yang bertugas saat itu. Penyebab utamanya, tambahnya, karena banyak angkutan umum yang berhenti sembarangan.

Kita menyadari di balik berbagai kekurangan, tetap harus menjaga eksistensi pasar sebagai roda perekonomian di Indonesia. Meski sebenarnya secara sadar ataupun tidak, pasar bukan sekadar akivitas jual beli, namun juga tempat berinteraksi sosial.

Dapat dikatakan demikian, karena selalu terjadi kegiatan tawar-menawar antara pedagang dengan pembeli dalam mendapatkan harga yang disepakati bersama. Harga yang bisa ditawar inilah, menjadi salah satu faktor pembeli memilih pasar tradisional sebagai tempat berbelanja.

Sifat ramah para pedagang pasar, akan membuat kita rela berlama-lama di pasar untuk mengobrol dan menawar. Obrolan ringan antara pembeli dengan pedangang ini, dimanfaatkan pedagang untuk mencari langganan.

Kedekatan tidak hanya terjadi antara pembeli dan pedagang, namun juga sesama pedagang dan sesama pembeli. Kedekatan yang terjadi ini membuat kita menyadari, pasar juga sebagai tempat interaksi sosial.

“Berbelanja di pasar tradisional, enak. Selain murah, harganya masih bisa ditawar. Apalagi siang hari, harganya murah banget karena pada banting harga. Pedagang disini juga ramah, jadi saya banyak kenalan disini,” tutur Ening, seorang pembeli.

Bahkan para pedagang yang berjualan serupa pun tetap akrab mengobrol, jika tak ada pembeli. Tak terlihat adanya persaingan di antara mereka, karena mereka menyadari rezeki sudah ada yang mengatur.

Kondisi ini sangat berbeda dengan pasar swalayan yang kerap kali membanting harga, agar menarik pembeli dan bersaing ketat antara satu pedagang dengan pedagang lainnya. Bahkan, atara satu pasar swalayan dengan pasar swalayan lainnya.

Tak dapat dipungkiri, pasar tradisional tetap memiliki pelanggan setia. Meski perlahan namun pasti, kini mereka tersaingi kehadiran swalayan yang menawarkan tempat berbelanja yang bersih serta ber-AC.

Pasar swalayan yang berasal dari luar negeri ini, kian merajai pasar di Indonesia. Peran pemerintah sangat diharapkan untuk membangkitkan lagi kejayaan pasar tradisonal, mengingat banyak sekali tenaga kerja yang dapat terserap di pasar.

Pasar tradisional yang bersih adalah dambaan setiap masyarakat. Karenanya kita harus menyadari, pasar memiliki peranan penting sebagai penggerak ekonomi masyarakat. Terutama untuk kelas menengah ke bawah, yang mendominasi seluruh penduduk negeri ini.

One Comment
  1. Saat ini sedang digalakkan pemerintah pasar tradisional dengan tema ‘pasar bersih’.
    setidaknya saya udah beberapa kali lihat dan berkunjung, emang beneran bersih.
    moga benar-benar bisa lebih baik ke depannya, karena pasar tradisional tetap jadi primadona masyarakat ketimbang swalayan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: