Skip to content

Penyemangat Hidup

by pada 5 Desember 2013
(kesehatan.kompasiana.com)

(kesehatan.kompasiana.com)

Oleh Meysyn Claudie Leatemia

Kau memberikanku semangat hidup. Kau memberikanku kasih sayang. Hangat dalam dekapmu, memberikan kedamaian tulusnya cintamu. Putihnya kasihmu, takkan pernah terbalaskan.

Ada tangis kesakitan di tengah malam, membelah kesunyian yang mencekam. Nyawa pun kau pertaruhkan untuk diriku, walau harus melawan maut. Rasa sakit bukan alang-kepalang yang kau alami, terkalahkan oleh bahagia yang mendatang.

Aku anak bungsu dari tiga bersaudara dan merupakan anak perempuan satu-satunya. Karena itu, membuatku begitu diperhatikan dan dimanja ketimbang kedua kakakku. Namun anehnya, aku tak begitu dekat dengan Mama. Entah kenapa, sepertinya Mama lebih menyayangi kedua kakakku. Saat kecil hingga tamat SMA, aku lebih memilih berbagi cerita dengan Papa. Menurutku, Papa lebih menyayangi dan mau mengerti diriku.

Selulus SMA aku mengikuti berbagai macam tes untuk melanjutkan pendidikan, namun tak satu pun yang tembus. Rasa kecewa dan putus asa begitu membelenggu, tapi Mama yang berada di sampingku segera menenangkan.

“Mungkin Mey harus bisa menerima dan belajar, untuk melihat dunia tidak segampang yang difikir. Butuh kemampuan dan doa, agar apapun yang diinginkan dapat tercapai. Mama cuma bisa berdoa dan Mey yang terus berusaha. Tidak boleh putus asa atau patah semangat, harus sanggup menerima semuanya dengan ikhlas. Hari ini mungkin tidak, tapi masih ada hari esok yang Tuhan siapkan untuk Mey,” bisik figur yang tadinya kuduga tak begitu menyayangiku.

Aku menangis dan memeluk erat tubuh Mama. Berusaha bangkit dari keterpurukan yang kualami. Mugnkin, bagi orang lain, hal ini sepele. Namun bagiku, kejadian itu merupakan kegagalan terburuk. Sebab sedari SD sampai SMA, aku tak pernah merasakan yang namanya kegagalan. Karenanya, Mama terus menasehati dengan masukan yang mendewasakan aku.

Selang beberapa bulan, aku ditawari bekerja. Saking senangnya tak lagi mendiskusikan dengan Papa ataupun Mama,  tapi langsung mengiyakan dengan membuat lamaran secara diam-diam. Pekan depannya aku dipanggil dan langsung bekerja.

Aku baru memberitahukan pada Papa dan Mama, setelah diterima bekerja. Mereka kaget, namun menyerahkan segala keputusannya padaku. Meski dengan catatan harus mampu membuktikan, kalau yang kupilih memang terbaik untuk diriku. Untunglah, aku berhasil bertahan kerja selama 7 bulan di sana.

Pada bulan ke-8, aku dipanggil teman Papa untuk bekerja di kantornya. Mereka sangat kekurangan karyawan. Awalnya, aku merasa takut. Namun setelah kubincangkan dengan Papa dan Mama, justru menyarankan untuk meneruskan bekerja dengan teman Papa. Aku menuruti permintaannya, karena ingin melihat mereka bahagia.

Selain itu, sebenarnya alasan yang sangat menarik karena aku dapat menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil). Benar, tak berapa lama aku masuk, terbuka tes penerimaan PNS. Tak membuang kesempatan, aku pun mengikuti dan kemudian dinyatakan lolos seleksi. Hanya menunggu SK (Surat Keputusan) CPNS. Kabar baik itu segera kusampaikan pada Papa dan Mama, mereka bahagia mendengarnya.

Namun, entah apa yang ada dalam pikiranku. Aku ingin sekali kuliah, walau harus berhenti kerja. Tentu saja hal ini menjadi perdebatan antara Papa dan saya. Sedangkan Mama, sih, terserah saja asalkan saya bahagia.

“Papa tidak mau kamu menyesal nantinya. Lihat orang lain di luar sana. Mereka ingin bekerja seperti kamu, namun tak diberi kesempatan. Apa yang kamu cari? Gelarkah, atau apa? Jangan hanya karena sesuatu yang belum pasti, kamu membuang makanan yang sudah tersedia. Satu hal lagi, Papa tak ingin kamu jauh dari kami!’’

Aku menangis mendengar semua perkataan Papa, namun berusaha meyakinkan kalau keputusan yang diambil akan kupertanggungjawabkan. Untuk Papa dan Mama, juga untuk Tuhan.

Papa kemudian memelukku yang tersedu. Melihat air mataku, kemarahannya pun mereda. Dengan lembut, beliau menarikku untuk duduk di pangkuannya.

“Apa pun yang kamu lakukan, asal membuatmu bahagia, lakukanlah, Umurmu juga belum siap untuk bekerja dan masih ingin bebas,” tuturnya penuh pengertian.

Keesokannya, hasil tes penerimaan kuliah di umumkan. Saya lulus dan dibertahukan segera mempersiapkan segala sesuatunya untuk berangkat ke Jakarta. Papa dan Mama akhirnya mengabulkan keinginanku. Melepaskan diriku pergi untuk mengeyam pendidikan, meski jauh dari sisi mereka. Air mata pun menetes, bagaikan hujan setahun. Kata-kata itu tak akan bisa aku lupakan sampai kapan pun.

“Kamu anak perempaun kami satu-satunya yang manja. Saat jauh dari Papa dan Mama, jangan pernah melupakan Tuhan. Selalu memberi kabar, agar kami tak cemas memikirkanmu,“

Saat jauh dari Papa dan Mama, aku benar-benar merasakan kesendirian. Kesepian yang begitu menusuk hati, apalagi saat Natal tiba. Sedih tak tertahankan, saat tak bisa lagi melihat tawa dan canda Papa dan Mama. Kedua kakakku yang biasanya bercanda dan sering membuatku menangis, tak merayakan Natal bersamaku. Juga tak bisa membantu Mama membuat kue.

Aku sendiri dalam kamar sepi. Merayakannya dalam keheningan, yang tak pernah kurasakan selama bersama mereka. Untunglah saat Natal tiba, Mama dan Papa menelepon.

“Selamat Natal anakku sayang, Papa dan Mama tak bersamamu. Namun Tuhan selalu ada di sampingmu.”

Aku hanya bisa menangis. Tak satu patah katapun sanggup aku ucapkan. Dalam haru yang memuncak, aku memanggil mereka di dalam hati.

Mama, Papa.. aku sangat merindukan kalian. Saat sakit, aku mengurus diri sendiri. Tak seperti di rumah, Mama pasti membawaku ke dokter dan Papa selalu menemaniku saat tidur. Papa juga yang selalu siaga saat aku sakit. Bahkan sering kupanggil ketika sedang letyih, sakit atau galau. Namun, sekarang mereka tak ada. Aku benar-benar tak sanggup. Papa, aku ingin pulang dan kembali bersama kalian..

Padahal, aku tak pernah berfikir yang mereka mau dan rasakan. Aku sering membuat mereka kecewa, namun mereka tetap mencintaiku dengan tulus. Aku pernah membuat Mama bersedih, tapi Mama tak pernah membuatku menangis. Aku pernah membuat Papa marah, tapi Papa tak pernah mengecawakanku.

Aku merindukan mereka, namun keputusan untuk melanjutkan pendidikan harus tetap kulalui. Hingga nanti akhirnya aku dapat membuat mereka bangga dan menangis bahagia, karena melihat diriku sukses. Membuktikan pada mereka, semua yang aku lakukan semata-mata demi membahagiakan mereka.

Mungkin bagi teman-teman yang selalu berada dekat Papa dan Mama, tak akan merasakan yang kurasa. Mungkin saat kita bersama mereka, tidak terasa. Tapi saat jauh, kita baru menyadari tak bisa melakukan apapun tanpa mereka. Pesanku, jangan pernah membuat orangtua kita meneteskan air mata hanya karena keegoisan kita. Jangan pernah membantah yang mereka katakan.

Sampai detik ini aku ingin Papa dan Mama tahu, aku sangat mencintai kalian berdua dan ingin membahagiakan kalian. Mungkin sekarang aku menanam dengan air mata, namun esok ku akan menuai dengan sukacita.

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: