Skip to content

Cerpen: Sunset di Pantai Kuta (1)

by pada 7 Desember 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian pertama dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(indonetwork.co.id)

(indonetwork.co.id)

Oleh Berliana Qori’ah

Waduuh, aku pasti terlambat. Bagaimana tidak, jam masuk sudah terlewati saat aku masih di angkutan umum menuju sekolah.

Pintu gerbang sekolah hampir saja tertutup. Satu detik saja memperlambat langkah kaki, tamatlah riwayatku. Keberuntungan berpihak padaku pagi ini. Kupercepat langkah hingga di depan kelas. Bola mataku bergerak ke atas dan ke bawah, mencari namaku di kertas yang ada di setiap jendela kelas.

Namaku Cinta. Pagi ini adalah hari pertamaku masuk di kelas X-1, SMA Permata 1. Saat kubergegas masuk kelas, seorang kakak OSIS bernama Visca –yang kuketahui dari tulisan bordir di baju seragamnya– memperhatikanku seolah menyelidik, dari ujung kepala hingga ujung kaki.

“Eh, Dek. Kamu datang telat, ya?” tanyanya sinis.

“Iiiiya, Kak. Aku telat 15 menit,” jawabku.

“Siapa namamu?” tanyanya lagi.

“Namaku Cinta, Kak.” jawabku singkat.

“Oh, ya sudah. Kamu jangan langsung duduk. Sekarang perkenalkan dirimu dulu di depan kelas, teman-temanmu kan juga mau kenal,” perintahnya tetap menyiratkan ketegasan.

Aku segera memperkenalkan diri. Membuang sifat pemaluku sejenak, demi menuruti kakak OSIS yang satu itu. Aku berdiri tepat di tengah, di hadapan semua teman baruku di kelas X-1. Mataku memandang lurus ke depan.

Tak kusangka, lidahku mendadak kelu saat ingin meneruskan perkenalan. Mataku terpana melihat sosok laki-laki tampan dan tersenyum manis padaku.

Meski tergagap, bibirku terus berkata-kata memperkenalkan diri. Setelah selesai, kak Visca menyuruhku duduk di kursi yang masih kosong. Padahal, yang kosong hanya di deretan depan. Untunglah di sebelahnya telah ada seorang gadis,yang mungkin bisa kujadikan sahabat kelak.

Dia bernama Indah. Wajahnya tampak polos, sama sepertiku. Dia menyambutku ramah, semoga dapat menghilangkan kejenuhan selama MOS (Masa Orientasi Siswa). Ya, kegiatan sekolah pekan ini memang cuma berisi pengarahan dari Kakak-kakak OSIS.

Hari pertama sekolah, kami telah mendapatkan tugas kelompok dari kakak OSIS. Padahal kami belum mengenal satu sama lain. Sifatku yang pemalu, sepertinya harus kubuang jauh-jauh untuk saat ini. Salah satu kakak OSIS membagi kelompok, masing-masing beranggotakan 5 orang. Nama-nama setiap anggota kelompok, dibagi berdasarkan urutan absen kelas yang diacak.

“Kelompok 1, anggotanya adalah Aditya, Putu Gede, Belinda, Cika, dan Cinta.” teriak seorang laki-laki, kakak OSIS juga yang memasang muka galak.

Kakak OSIS itu meminta kelompok 1 untuk maju ke depan papan tulis, agar anggota kelompok lainnya –juga kakak-kakak OSIS– mengenalnya. Kami menyebut nama masing-masing. Laki-laki tampan yang membuatku terpana tadi, ternyata sekelompok denganku. Ia menyebut namanya, Putu Gede.

Oh, ternyata ia berasal dari Bali. Pulau yang kukagumi karena keragaman budaya dan keindahan pantainya. Sejak dahulu, aku selalu bermimpi dapat mengunjungi pulau yang dijuluki Pulau Dewata itu.

*******

Hari berganti hari, entah mengapa perhatianku selalu tertuju ke teman sekelasku si Pulau Dewata. Sifatnya yang mudah bergaul, ramah, dan baik hati menjadi daya tarik tersendiri untuk mengenalnya lebih jauh, selain rupanya yang menawan. Dia juga pandai karena sering bertanya ataupun menjawab pertanyaan dari guru.

Kedekatan kami terlihat biasa-biasa saja, selayaknya pertemanan kebanyakan. Berbincang, belajar bersama, bercanda, dan bertengkar, menjadi kegiatan keseharian kami. Suatu ketika, guru Fisika mendadak memberikan pelajaran tambahan seusai sekolah. Akhirnya pukul 16.00, pelajaran tambahan tersebut selesai juga. Aku pulang sendiri, karena teman yang rumahnya searah denganku tidak masuk sekolah.

Angkutan umum yang biasanya kutumpangi, tak kunjung lewat di depan gerbang sekolah. Ternyata Indah juga ada di depan gerbang sekolah, menunggu angkutan umum meski tujuannya berbeda denganku. Ia mengajakku berbincang, mengisi waktu. Duh, ternyata juga Putu mamarkir motornya di dekat warung jajanan, tak jauh dari tempat kami menunggu.

“Tu, ga pulang?” tanya Indah

“Hmm, iya sebentar dulu. Memangnya kenapa?” jawab Putu.

“Oh, ga apa. Gue cuma nanya aja. Rumah lo dekat kan sama rumahnya Cinta?” tanya Indah, tak tega melihatku lama menunggu.

“Iya, emangnya kenapa?” tanya Putu, terkesan acuh.

“Ajak pulang bareng, tuh, si Cinta! Kasihan kan, lumayan udah lama nunggu angkutan belum datang juga,” ujar Indah memperjelas.

“Oh, ayo. Bareng aja pulangnya sama gue, Cin!”ajak Putu seraya tersenyum.

Ya, Indah telah mengetahui getar-getar asmara dalam hatiku sejak kedekatanku dengan Putu selama ini di kelas. Beberapa minggu yang lalu, aku pernah membuka rahasia pada Indah. Maklum saja, Indah sahabat baikku sehingga padanya lah kucurahkan isi hati.

Putu mengantarku sampai pertigaan jalan saja, sebab arah rumah kami terpisah di situ. Aku mengucapkan terima kasih padanya sambil mengukir senyum di bibirku. Dia menjawab pendek, meski tetap tersenyum. Aku kembali menunggu angkutan umum ke rumah, dan Putu kembali melaju dengan motornya.

Sesampainya di rumah, entah mengapa beribu perasaan bergejolak. Rasanya seperti batu kerikil mengganjal di hatiku. Sungguh, tak dapat kujelaskan secara logis dengan kata-kata. Malah, sesekali bibirku tersenyum kala mengingat kedekatan tadi dengan Putu. Perasaan yang tak biasa ini, membuatku gelisah.

Gelisahku kian lama makin memuncak. Tak mampu menanggung rasa tak menentu, kuutarakan juga perasaanku padanya melalui handphone. Jawaban darinya, biasa-biasa saja. Tak ada maksudku menyatakan cinta, aku hanya ingin mengungkap kekagumanku yang tersimpan sejak hari pertama MOS.

Keesokan harinya, ekspresi wajah Putu Gede berbeda dari biasanya. Ia tak menyapaku dan tidak bersenda gurau lagi bersamaku. Sikapnya ini menjadi aneh bagiku, sebab tidak pernah Putu bersikap dingin. Aku hanya berfikir, mungkin kah perubahan sikapnya karena ungkapan kemarin?

Sikap dinginnya, juga kubalas dengan sikap dinginku. Rasa gengsi untuk memulai perbincangan dengannya, membuatku enggan menyapanya terlebih dahulu. Aku tahu, sebenarnya dia hanya menganggapku teman biasa saja.

Lambat laun akhirnya sikap dinginnya mulai mencair, seiring kedekatan kami yang tak seintensif dahulu. Kami masih tetap berteman, walau sebenarnya tersisa perih dalam hatiku. Sikapku padanya pun biasa-biasa saja. Aku tak ingin membuatnya merasa serba salah, bila berada di dekatku.

Kedekatannya pada beberapa teman di sekolah selalu terlihat kontras, jika dibandingkan denganku. Entah mengapa, aku belum dapat melupakan kekaguman padanya. Sehingga ketika mendengar kabar kalau Putu telah memiliki pacar baru, hatiku bagai teriris. Kepedihan ini, sungguh, baru pertama kalinya kurasakan. Apa ini yang dinamakan cinta pertama?

*******

Di suatu kesempatan seusai pelajaran olahraga, aku dan teman-teman beristirahat di kelas untuk sekadar minum dan melepas lelah. Tak sengaja, kulihat sebuah gelang sederhana dari bambu berada di mejaku. Aku hanya terdiam, setelah melihat ke orang yang meletakkan gelang. Putu.

Kuhampiri dirinya karena penasaran, “Apa, nih, maksudnya?”

“Hmm.. itu buat lo, Cin,” jawabnya.

“Buat gue? Ada angin apa, kok, tiba-tiba lo kasih gue gelang?” tanyaku makin bingung.

“Iya, buat lo Gak ada apa-apa, kok. Pokoknya dipakai, ya!” sahutnya pendek, sambil tersenyum

“Oh.. Ya sudah. Trim’s ya, Tu,” balasku, tak ingin memperpanjang.

Lagi-lagi, sikapnya ini sangat aneh bagiku. Tiba-tiba dia memberikanku sebuah gelang. Tak habis-habisnya aku berfikir, mengapa dia berikan padaku bila hubungan kami sebatas teman saja? Tetapi aku tidak berharap terlalu jauh, karena tak ingin terhempas dan akhirnya terjatuh.

Beberapa hari gelang pemberiannya kupakai, meski tak berlangsung lama. Muncul kejengahan dalam hatiku. Keesokan harinya gelang itu kusimpan di kotak berbentuk hati berwarna merah. Aku tidak ingin larut dalam perasaan yang tidak pasti, dengan memakai gelang pemberiannya.. (Bersambung)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: