Skip to content

Cerpen: Sunset di Pantai Kuta (2)

by pada 8 Desember 2013

Pengantar: Tulisan ini merupakan bagian terakhir dari cerpen yang terdiri 2 (dua) bagian. Sebagai bacaan menggugah rasa dan menghibur, yang semoga dapat bermanfaat saat kita rehat pada liburan akhir pekan. Selamat menyimak, jangan biarkan diri penasaran.

(seputar-bali.blogspot.com)

(seputar-bali.blogspot.com)

Oleh: Berliana Qori’ah

Waktu terus berjalan. Jarum jam selalu berputar, mengiringi pergantian siang dan malam. Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu. Aku dan teman-teman kini telah lulus dari SMA. Sebagian kami meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, meski beberapa memilih bekerja saja.

Aku memilih meneruskan ke jenjang perguruan tinggi di Jakarta, sehingga pada akhir semester 4 kampus kami mengadakan study tour ke Pulau Bali. Menyebut nama pulau itu, membuatku kembali mengingat sosok laki-laki yang kukagumi di SMA dahulu. Waktu 2 tahun yang berlalu ternyata belum dapat melupakan dirinya, walaupun aku tak lagi mengetahui kabarnya kini.

Perjalanan ke Bali terasa menyenangkan. Maklum saja, sejak dahulu aku memang memimpikan untuk berkunjung ke Pulau Dewata. Sesampainya di sana, kami segera menuju penginapan yang  telah dipesan panitia.

Pagi hingga siang hari kami habiskan dengan mempelajari kebudayaan di sana. Seusainya, aku bersama teman-teman menyempatkan diri menyambangi pantai Kuta. Kami bersantai di pasir yang disapu ombak kecil, menghabiskan waktu sambil menantikan sunset, yang kata orang sangat indah.

Banyak turis asing maupun lokal menikmati keindahan pantai Kuta dengan sunset-nya. Karenanya sore itu menjadi sangat ramai, tetapi entah mengapa terasa hening bagiku. Rasa itu muncul saat tak sengaja melihat gelang bambu yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Aku terdiam, di tengah senyum bahagia teman-teman tatkala mereka takjub akan keindahan panorama.

Saat terbuai dalam rindu yang menyergap, tiba-tiba aku dikagetkan sesuatu. Seorang pemuda berbadan tinggi tak sengaja menabrak lengan dan bahu kiriku. Keheningan lamunanku berganti riuhnya detak jantung yang berdebar. Akibatnya, gelang bambu itu terputus dan terjatuh di pasir.

Kutengok sang pemuda yang menabrak diriku. Wajah pemuda itu sepertinya tak asing bagiku. Dia segera mengambil gelang bambu yang terjatuh di pasir, dan diserahkan kembali padaku seraya tersenyum. Ingatanku terhadap wajahnya, makin menambah riuh detak jantungku. Sejurus, tubuhku terdiam kaku. Duh.

”Cinta? Lo Cinta teman gue di SMA Permata 1 dulu, kan?” tanya sang pemuda.

Hmm.. Memangnya lo siapa, ya? Kok, kenal sama gue?” jawabku pura-pura bingung.

“Ini gue, Putu. Masih ingat, kan, sama gue?” katanya meyakinkan.

“Oh, Putu. Iya, masih ingat lah gue sama lo. Masa, sih, bisa lupa? Lo kan teman gue yang paling ganteng dan pintar di sekolah, sampai-sampai cewek seantero sekolah pada antri mau jadi pacar lo. hahaha..” candaku, setelah berhasil menguasai diri.

“Ah, bisa saja lo, Cin. Hahaha.. Iya juga, sih, kalau diingat-ingat, banyak ya cewek yang suka sama gue. Termasuk lo juga, kan, Cin?” katanya membalas candaanku dengan telak.

“Huh, kepedean, deh.” sahutku cepat menutup keterkejutan atas sikapnya yang kurang ajar. Tanpa tedeng aling-aling men-skak-ku, membuat luka hati dulu kembali menganga dan sakit seperih-perihnya.

“Eh, Tu. Lo kenapa ada di..” sambungku mengalihkan obrolan, namun terputus lantaran kehadiran seorang gadis sebaya denganku yang menghampiri kami.

Wajahnya cantik dan tubuhnya sexy. Dia berpakaian agak minim, tak ubahnya para turis yang ber-sliweran di pantai. Putu mengenalkannya padaku. Lho, kok, Putu malah menariknya mendekat. Apakah Putu juga mengenalnya?

“Cin, kenalkan. Ini Siska,” katanya

“Ya, gue Siska,” ujar gadis itu sambil mengulurkan tangan.

“Siska ini calon tunangan gue, Cin,” jelas Putu.

Deg. Bagai martil besar, penjelasannya makin membuat hatiku hancur berkeping-keping.

“Oh.. Dia calon tunangan, lo? Hm.. selamat, ya. Semoga langgeng deh, sampai ke pelaminan,” doaku berbasa-basi, memenuhi adat ketimuran.

“Amin.. Terima kasih, ya, Cin,” jawab Putu. Tulus atau merasa menang?

*******

Aku tak dapat berkata apa-apa lagi. Aku segera menjauh dari teman-teman, menyendiri meratapi kehancuran. Aku seperti terhempas oleh deburan ombak yang sangat kencang dan tak mampu menggapai tepian. Hatiku sudah tak berbentuk, sangat hancur. Pertemuanku dengannya –apalagi saat diperkenalkan pada calon tunangannya– meninggalkan kelam yang tersisa entah hingga kapan.

Kugenggam gelang bambu pemberiannya dahulu. Perlahan kutengadahkan wajah membasah, menangkap sunset di pantai Kuta yang masih berlangsung. Mentari perlahan lenyap di batas cakrawala, bagai rasa dan asaku.

Ah, mengapa aku harus menyaksikan indahnya sunset justru di saat hatiku merana. Bila mentari esok masih terbit dan bersinar, sanggup juga kah semangat cintaku bersinar kembali? Kulempar gelang bambu darinhya, hampir ke tengah lautan. Biar kenangannya ikut tenggelam, bersama mentari di pantai Kuta.

*******

Kini, di hari yang bertanggal sama saat Putu memperkenalkan tunangannya, aku pun berdiri di tempat yang sama pula menatap keindahan sunset yang merayap ke perut bumi. Tapi hari ini keindahannya memberi arti berbeda, mentari seolah tersenyum lembut melalui sinarnya yang meredup sejuk.

Ya, hari ini baru kusadari. Rencana Tuhan, sungguh, jauh lebih indah bila kita dapat menerima ketentuanNya dengan ikhlas. Selain lantaran keyakinan yang berbeda, orientasi hidup Putu yang terlihat kemarin memang tak cocok untukku. Andai dia dulu menerima cintaku, dapat dibayangkan betapa kami saling bertentangan menjalani hidup.

Alhamdulillah, terima kasih Tuhan, Engkau telah menjagaku. Memberiku kesempatan untuk hidup yang lebih baik dalam ajaranMu. Lelaki tampan, mudah bergaul, ramah, dan baik hati, namun berakidah lurus sebagai Imam bagi diriku, tentu masih banyak. Hanya waktu yang belum mempertemukan kami.. (Selesai)

From → Cerpen

Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: